No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

PSI: “Super Terbuka” atau “Silaturahmi Keluarga”?

22 Juli 2025
in Nasional, Opini
Reading Time: 2 mins read
0
A A
0
Foto ilustratif

Foto ilustratif

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Nashrul Mu’minin

Content Writer Yogyakarta

Presiden Jokowi dalam sebuah kesempatan menyampaikan bahwa PSI (Partai Solidaritas Indonesia) bukanlah partai keluarga, meskipun sang anak—Kaesang Pangarep—kembali ditetapkan sebagai ketua umum lewat mekanisme e-voting. Klaim ini disandingkan dengan jargon “partai super terbuka” dan penyebutan PSI sebagai partai “Tbk” yang dikatakan mencerminkan kepemilikan kolektif oleh para anggota. Retorisnya terdengar progresif—mendorong kesan modernitas, demokratis, dan transformatif.

Namun, di balik kemasan modernitas tersebut, muncul kritik tajam dari berbagai pihak. Guntur Romli dari PDI-P, misalnya, menilai pernyataan Jokowi sebagai hal yang paradoks: “Kalau Jokowi bilang PSI bukan milik keluarga, apa dia enggak punya malu? Menyampaikan hal itu di depan anaknya.” Kritik ini tidak semata menyasar retorika, tetapi menyentil legitimasi pemilihan internal PSI yang dianggap mirip “sepak bola gajah”—permainan yang hasilnya sudah diketahui sejak awal. Isu netralitas dan transparansi dalam proses e-voting pun mulai dipertanyakan.

Mengklaim sebagai partai milik kader semua dan bukan milik keluarga memang menarik, apalagi didukung teknologi pemungutan suara modern. Namun, bila jabatan ketua umum secara konsisten dijatuhkan kepada Kaesang, dan tokoh internal seperti Jeffrie Geovanie mulai menyuarakan istilah “darah Jokowi” dalam PSI, maka jargon “terbuka” justru terlihat sebagai kamuflase dari dominasi keluarga presiden. Apalagi, kehadiran Jokowi sebagai dewan pembina yang berdiri di hadapan kader memberi kesan kuat bahwa PSI masih sangat bergantung pada figur sentral keluarga.

BACA JUGA

Hari Pertama, Tim Medis Muhammadiyah Selenggarakan 2 Operasi di RSUD Provinsi Sulbar

Dosen FAI UMSU Munawir Pasaribu Tampil Jadi Pemateri “Sexsual Harrasement dalam Dunia Digital”

Sambut Puncak Milad ke-24, Lazismu Catat Rekor Penghimpunan Rp792 Miliar

MDMC Sumsel Kirim Tim Relawan Tahap 2 ke Pasaman

Din Syamsuddin Menilai Demo Mahasiswa Bukan Hanya Wajar, Tapi Memang Mendesak

Jelang Pekan Menyusui Sedunia 2023, PP Nasyiatul Aisyiyah Adakan Webinar Dukung Ibu Menyusui dan Cegah Stunting

Ironi kian terasa ketika semangat transparansi justru kontradiktif dengan struktur kekuasaan internal partai. Publik patut bertanya: apakah e-voting benar-benar mencerminkan demokrasi sejati atau hanya etalase teknologi tanpa substansi check and balance? Demokrasi internal bukan sekadar soal siapa yang menang, tetapi tentang proses pemilihan yang adil, terbuka, dan bebas dari pengaruh dominasi keluarga politik.

Inti persoalan terletak pada budaya politik partai: apakah keberadaan “anak presiden” dalam posisi puncak yang diulang terus-menerus mencerminkan kemajuan demokrasi internal, atau sekadar reproduksi elit lama dalam format digital yang lebih modern? Jika PSI benar-benar ingin dikenal sebagai partai baru yang berbeda, maka inilah waktunya untuk membuktikan hal tersebut—bukan dengan gimmick, tetapi melalui reformasi nyata.

PSI harus berani menempuh langkah korektif jika ingin tetap relevan dan dipercaya publik sebagai pelopor regenerasi politik Indonesia. Reformasi itu mencakup rotasi kepemimpinan, pembatasan peran keluarga dalam struktur inti, serta pelembagaan sistem seleksi ketua umum yang independen dan kredibel. Tanpa langkah konkret tersebut, jargon “super terbuka” hanya akan menjadi hiasan politik, sementara partainya perlahan kehilangan momentum dan kepercayaan publik. (*)

Tags: jokowiNashrul Mu'mininPSI
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

by Mujaddid
20 Juli 2026
16
Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya
Esai

Ketika Negara Lupa Menjaga Hak untuk Percaya

by Mujaddid
14 Juli 2026
14
Akankah UU Ketenagakerjaan Baru Menjadi Jalan Keluar atau Justru Melahirkan Masalah Baru?
Nasional

Akankah UU Ketenagakerjaan Baru Menjadi Jalan Keluar atau Justru Melahirkan Masalah Baru?

by Mujaddid
10 Juli 2026
18
Rupiah Tersungkur di Rp17.600: Alarm Ekonomi Nasional di Tengah Badai Global dan Ujian Ketahanan Indonesia
Nasional

Rupiah Tersungkur di Rp17.600: Alarm Ekonomi Nasional di Tengah Badai Global dan Ujian Ketahanan Indonesia

by Mujaddid
20 Mei 2026
42
Roem-Royen: Diplomasi yang Menyelamatkan Indonesia
Kebangsaan

Roem-Royen: Diplomasi yang Menyelamatkan Indonesia

by Mujaddid
7 Mei 2026
71
Negeri vs Swasta: Siapa Sebenarnya Mendidik?
Daerah

Negeri vs Swasta: Siapa Sebenarnya Mendidik?

by Mujaddid
1 April 2026
55
Di Balik Papan Tulis: Guru Muhammadiyah sebagai Penjaga Nur Peradaban
AUM

Di Balik Papan Tulis: Guru Muhammadiyah sebagai Penjaga Nur Peradaban

by Mujaddid
28 Maret 2026
59
Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?
Islam

Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

by Mujaddid
19 Maret 2026
33
Masyarakat Sumatera Utara Ingin Langkah Nyata: “Kasus Ijazah Jokowi Harus Jadi Momentum Supremasi Hukum”
Daerah

Masyarakat Sumatera Utara Ingin Langkah Nyata: “Kasus Ijazah Jokowi Harus Jadi Momentum Supremasi Hukum”

by Mujaddid
7 Oktober 2025
216
Ketika Angka Bisa Menipu: Mengapa Literasi Statistik Tak Boleh Diabaikan
Nasional

Ketika Angka Bisa Menipu: Mengapa Literasi Statistik Tak Boleh Diabaikan

by Mujaddid
21 September 2025
82

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Kampus Berdampak, Prodi Biokewirausahaan UMJT Gelorakan Literasi Numerasi di SMAN Mejayan Madiun
  • UMSU Melejit
  • Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
  • Tuan Rumah Konferensi Next-D 2026, UMSU Kumpulkan 200 Pakar Digital Lintas Negara
  • Hari Radio Nasional, Fajar Junaedi: Industri Radio Perlu Adaptasi Multiplatform
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

UMSU Melejit
Muhammadiyah

UMSU Melejit

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital
Nasional

Analisis Strategi School Branding Melalui Integrasi Model AIDA dan Teori Identitas Sosial dalam Ekosistem Pendidikan Digital

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional
Muhammadiyah

Membangun Ekosistem Dakwah dan Gerakan Terpadu Wujudkan Kesejahteraan Nasional

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA
Kemuhammadiyahan

Muhammadiyah di Abad Kedua: Meneguhkan Gerakan Peradaban di Era VUCA

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh
Internasional

Gerakan Organisasi Pemuda: Cetak Pemimpin Publik Tangguh

85 Mahasiswa Prodi IAP FISIP UMSU PPL di Kabupaten Samosir
Daerah

Sinergisme PPL: Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Ringan
      • Nukilan
      • Kiat
      • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.