Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Prabowo Dikeroyok Anies dan Ganjar?

Mujaddid by Mujaddid
2024/01/08
in Nasional, Opini, Pemilu, Ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

Orang menyebut Prabowo dikroyok oleh Anies dan Ganjar. Benarkah? Di mana letak kekeliruan kesimpulan itu? Perhatikan beberapa hal berikut ini.

Pertama, untuk materi perdebatan yang dipilih pada putaran ketiga ini Prabowo memang harus menjadi “sasaran tembak.” Normanya harus begitu. Mengapa?

Kedua, dunia tahu Prabowolah yang menangani teknis pertahanan Indonesia saat ini karena menjabat sebagai menteri pertahanan sejak 4 tahun lalu. Selain memberi argumen baru dalam narasinya, Anies dan Ganjar berusaha memanfaatkan evaluasi publik yang tercantum dalam berbagai hasil kajian termasuk pemberitaan media. Misalnya tentang kebijakan, mekanisme dan biaya pembelian alutsista. Begitu juga program food estate yang terasa begitu aneh “ditempelkan” menjadi salah satu tugas Kementerian Pertahanan dan dengan hasil yang sangat mengecewakan.

Semua masalah yang disergahkan kepada Prabowo dalam debat itu sudah menjadi pengetahuan publik.

Ketiga, jika tak boleh menyasar rekam jejak orang yang bertanggung jawab atas urusan negara dalam bidang yang dijadwalkan sebagai materi debat putaran ketiga, debat tak perlu diselenggarakan.

Keempat, jika Anies yang hari ini menjadi Presiden atau Menteri Pertahanan Indonesia, hal yang sama akan dihadapinya. Begitu juga Ganjar.

Reaksi Prabowo lebih terasa emosional terhadap Anies dibanding Prabowo padahal kedua Capres lainnya sama-sama merontokkan harapan Prabowo untuk beroleh advantage electoral dari debat putaran ketiga ini. Mengapa?

Pertama, Capres pertama yang memulai perdebatan memang Anies dan itu bukan permintaan dia, melainkan tergantung mekanisme pengaturan penyelenggara. Hal-hal seperti pemberian skor 5 untuk kinerja Prabowo yang diberikan oleh Ganjar seakan tak begitu terasa lagi meskipun pernyataan itulah sebetulnya salah satu paling merontokkan yang dating dari kedua lawab debat Prabowo.

Ibarat dalam suasana sebuah perang, secara psikologis orang yang terlibat selalu akan mengenang siapa yang memberi tembakan pertama. Itu pemicu untuk kejadian-kejadian berikut meski dampaknya bisa jauh lebih besar. Tembakan dapat tak mengenai sasaran dan bahkan dapat sebagai pernyataan open fire start belaka. Itu akan tercatat secara kuat melebihi catatan-catatan tentang korban-korban yang berjatuhan setelahnya.

Kedua, rakyat ingat siapa yang mengawali narasi over confidence menang satu putaran. Prabowo mungkin telah dengan simplistik menerima kesimpulan yang diramu oleh para tim ahli di pihaknya. Meski mungkin awalnya hanya lebih dimaksudkan sebagai bentuk pschywar belaka, namun Prabowo malah terlanjur menerimanya kurang lebih setara doktrin tempur.

Dalam pschywar itu peta persaingan sudah dibentuk dengan prediksi posisi Prabowo head to head dengan Anies pada pilpres putaran kedua. Tentu saja peta ini tak diakui oleh Ganjar meski ia terus dirayu antara lain tak membalasnya sekeras yang dilakukan oleh Prabowo kepada Anies dalam debat ini. Namun, apa pun itu, bagi Anies, sebuah advantage potensi politik elektoral telah disumbangkan oleh para kompetitornya.

Ketiga, beberapa hari sebelum ini pemberitaan tentang inisiatif tim Ganjar bertemu tim Anies cukup mewarnai opini publik. Prabowo ternyata cukup terpengaruh dan karena itu berharap Ganjar tidak mengambil posisi netral apalagi memihak kepada Anies pada putaran kedua pilpres nanti. Saham psikhologis seperti itu dapat efektif dalam perkiraan siapa pun.

Menurut saya, itu yang menyebabkan Prabowo “tidak adil” memberi perlawanan kepada dua lawan debat yang mendowngrade melalui pembongkaran berbagai penyimpangan dalam kebijakan pertahanan di bawah kepemimpinannya sebagai Menteri Pertahanan.

Debat putaran ketiga belum merubah peta. True believer dan die hard ketiga pasangan tetap bertahan. Sedangkan kalangan yang hingga kini masih berstatus undecided voter tak menemukan ide besar dari debat.
Ada orang yang mengatakan bahwa Ganjar memiliki jiwa patriot dengan posisi seakan berada dalam hasrat menengahi silang pendapat yang keras yang membenturkan Prabowo dan Anies. Tetapi itu hanya memuaskan true believer dan die hard di kubu ganjar sendiri.

Kalangan yang masih berstatus undecided voter sama sekali tak tertarik cara yang secara kentara telah diulang-ulangi oleh Ganjar sejak debat putaran pertama. Itu diasosiasikan sebagai sebuah ketak-ksatriaan.

Memang untuk meraih peluang potensi insentif elektoral berbagai cara telah dilakukan orang dalam debat pilpres di Indonesia.

Dulu Joko Widodo pernah menggunakan istilah TPID untuk mempersulit Prabowo dalam debat pilpres. Prabowo memang kandas waktu itu. Gibran pun merasa akan beruntung dengan mengulanginya cara yang sama, yakni menggunakan istilah yang ia sendiri pun sebetulnya amat terkesan tak faham, yakni SGIE, untuk mempersulit Muhaimin dalam debat cawapres lalu.

Tetapi reaksi publik justru mendowngrade Gibran ke posisi kurang lebih sebagai nepo baby, yang mempertegas pengakuan atas status yang disematkan oleh media luar negeri kepada anak sulung Joko Widodo ini.
Ganjar tak menyadari itu tampaknya, dan jika ia masih akan mengulanginya ke depan, true believer dan die hard di pihaknya pun bisa merasa kurang nyaman.

Prabowo tampak hilang keseimbangan. Karena itu sekaligus mengalami kehilangan kesempatan emas untuk mengklarifikasi opini umum tentang kinerjanya khususnya tentang kebijakan, mekanisme dan biaya pembelian alutsista serta kegagalan program “tempelan” food estate. (*)

Penulis adalah Dosen FISIP UMSU

Tags: Anies BaswedanDebat CapresGanjar PranowoPilpres 2024Prabowo Subiantoshohibul anshor siregar
Previous Post

Keledai, Harimau dan Singa

Next Post

Pakar Hukum Pidana Kritisi Proses Penangkapan terhadap Syaiful Jamil

Related Posts

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

FKIP UHAMKA dan UPI Gelar STEM Immersive Visit 2026, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis Proyek

30 Juni 2026
123
Potret Reformasi Polri

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana Teguhkan Peran Bahasa Indonesia sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

29 Juni 2026
104
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Next Post
Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung

Pakar Hukum Pidana Kritisi Proses Penangkapan terhadap Syaiful Jamil

Atlet Tapak Suci UM Bandung Borong Prestasi pada Kejuaraan BLAC

Atlet Tapak Suci UM Bandung Borong Prestasi pada Kejuaraan BLAC

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
105
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
114
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
115

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan