No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Politik Waktu

3 Januari 2024
in Nasional, Opini, Tilikan
Reading Time: 3 mins read
0
A A
0
Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Ketika pertama kali gelombang reformasi bergulir tahun 1998 silam, banyak kalangan yang optimis momentum perubahan eratik itu akan menjadi babak baru kebangkitan kehidupan demokrasi di negeri ini.

Namun ironisnya, hingga kini, setelah reformasi itu berjalan lebih dari dua dekade, sepertinya optimisme itu  tidak kunjung terwujud. Justru bangsa ini terjebak dalam labirin transisi demokrasi yang berkepanjangan dan tak berkesudahan. Malah kehidupan demokrasi kita cenderung terjerumus dalam hyper-democracy, demokrasi tanpa kendali.

Dalam suasana belitan transisi demokrasi yang distortif itu, bangsa ini seakan mengalami disorientasi dalam menentukan arah dinamika kehidupan demokrasinya. Hal ini ditandai dengan fenomena turbelensi politik yang marak terjadi dalam konstelasi dunia politik harian kita.

Turbelensi politik adalah keadaan silang-menyilangnya berbagai kekuatan politik yang satu sama lain saling tarik-menarik dengan sangat kuat dan sengit dalam rangka mendapatkan, mempertahankan atau menggoyahkan kekuasaan, sehingga menimbulkan ketidakpastian dan kebuntuan politik.

Sebagai eksesnya,  massa (rakyat) juga mengalami turbelensi. Rakyat ditarik kesana-kemari oleh berbagai kekuatan vested interst yang berpengaruh untuk kepentingan politik dan kekuasaan jangka pendek, kepentingan penciptaan opini publik, atau kepentingan menjatuhkan kredibilitas.

Itulah  potret banalitas kehidupan demokrasi kita yang sangat membosankan dan menjengahkan di sepanjang era reformasi hingga hari ini. Dan tragisnya, kita belum tahu sampai kapan kondisi monoton ini akan terus berlangsung dan menghantui ruang kehidupan demokrasi di republik ini.

Ilustrasi waktu.

Dominasi Politik Ruang

Bila dicermati, salah satu penyebab bangsa ini terus terbelit dalam labirin transisi demokrasi adalah karena kecenderungan orientasi budaya politik harian kita yang keliru dan salah kaprah.

BACA JUGA

Djaginduang Dalimunthe: Saya Tidak Ikut ke Istana

Merawat Muhammadiyah: Ketika Kesungguhan Dibalas Pertolongan Allah

PSMS Merindu Tembakau

Dosen Kebidanan UMMAD (UMJT) Ikuti Workshop Kompetensi Esensial untuk Praktik Kebidanan dari Konfederasi Bidan Internasional

Stop Ekstraksi Modal! Saatnya Bank Wajib Pihaki Ekonomi Daerah

Layanan Komprehensif Muhammadiyah Diakui Angkat Martabat Penyintas Gempa Bumi Cianjur

Secara umum, orientasi budaya politik kita nyatanya cenderung lebih menggandrungi “politik ruang”, dimana  hiruk pikuk kehidupan politik kita hanya berkutat pada persoalan berebut lapak, zona, terotarial dan kursi kekuasaan semata.

Terkait hal ini, menarik sekali apa yang ditulis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003). Dia mengatakan, bahwa sejauh ini seluruh energi dan perhatian bangsa ini seakan-akan terkuaras habis untuk sebuah politik ruang atau politik wilayah (geo-politics), berupa klaim-klaim baru atas wilayah, daerah, atau teritorial (provinsi, kabupaten dan kecamatan) dengan segala kekayaan sumber daya  di dalamnya (alam, manusi dan budaya).

Selain itu, lanjut Yasraf, apa yang sesungguhnya juga tengah terjadi di atas tubuh bangsa ini adalah politik segmentasi (politic of segmentary) tanpa akhir, berupa kegandrungan untuk mengklaim dan mengkapling teritorial menjadi segmen-segmen provinsi, kabupaten dan kecamatan, baik yang didorong oleh politik, ekonomi maupun kultural.

Pada hal, secara empiris kita melihat hasil dari tradisi geopolitik hanya menghasilkan segmentasi murni, yang setelah klaim otonomi diperoleh sesungguhnya tidak ada yang berubah kecuali peralihan kekuasaan semata. Bahkan  yang terjadi justru adalah semacam duplikasi model geopolitik pusat yang dulunya di daerah di tolak.

Glamor politik ruang juga marak terjadi di atas pentas politik praktis kita belakangan ini, dimana pelbagai kekuatan kepentingan  politik dengan sengitnya bertarung memperebutkan ruang-ruang kekuasan yang ada di zona eksekutif maupun legislatif.

Begitu juga dengan perilaku yang ditunjukkan oleh rezim penguasa, mereka sepertinya juga masih lebih mementingkan kebijakan politik ruang ketimbang politik waktu. Diantaranya yang teranyar dapat kita lihat bagaiman ngototnya pemerintah mengagendakan pemindahan ibu kota baru di tengah situasi dan kondisi ekonomi bangsa yang masih begitu sulit.

 

Urgensi Politik Waktu

Akibat terkurasnya energi bangsa ini untuk geopolitik, Yasraf mengatakan tidak tersisa lagi energi utuk proses perubahan, reformasi ataupun transformasi dalam bentuk politik waktu (cronopolitics).

Menurutnya, dalam konteks kenegaraan politik waktu itu identik dengan politik perubahan; yakni berkenaan dengan persaingan ekonomi, pergerakan modal, perlombaan politik, dinamika sosial, perubahan budaya, fluktuasi moneter, persaingan produk, percepatan produksi, perpacuan konsumsi, manajemen waktu, perlombaan kemajuan dan sebagainya.

Kemudian, mengutip Paul Virilio di dalam Lost Dimension (1991), Yasraf menegaskan, bahwa di dalam  dunia yang dikuasai kecepatan, sebenarnya peran geo-politics telah diambil alih oleh cronopolitics, yang di dalamnya kecepatan, percepatan dan tempo kehidupan yang semakin cepat mengharuskan setiap orang (juga sebuah negara bangsa) untuk hidup dan bertahan hidup di dalam sebuah mesin dunia (dromology machine) yang berlari kencang.

Dan konsekuensinya, di dalam dunia yang berlari itu waktu dan kecepatan menjadi energi utama untuk menggerakkan mesin kemajuan atau perubahan. Artinya, siapa yang menguasai waktu, ia akan menguasai dunia.

Yasraf mengambil contoh, misalnya negara mini Singapura yang sangat kecil secara geopolitik dapat menjadi sebuah raksasa ekonomi disebabkan kemampuannya mengembangkan cronopolitics yang ampuh lewat manajemen perubahan dan kemajuan yang terorganisir.

Sebaliknya, siapa pun yang tidak mampu mengendalikan waktu dan mengembangkan politik perubahan akan menjadi korban dari dunia yang berlari kencang. Ketidakmampuan untuk hidup dalam bahasa-bahasa perubahan, pergerakan, peralihan, kemajuan, transformasi, mutasi yang didukung mentalitas, gaya hidup, etos kerja, tingkah laku, cara berpikir, dan cara bertindak yang serba cepat akan menyebabkan mereka terlindas oleh deru mesin waktu globalisasi.

 

Penutup

Dari uraian di atas, jika ingin terlepas dari kutukan transisi demokrasi berkepanjangan, maka mestinya tidak ada pilihan bangsa ini harus segera mengubah oriaentasi kultur demokrasinya.

Harus disadari, tradisi politik ruang memang telah membuat bangsa ini jadi naif dan mengabaikan visi demokratisasi sesungguhnya, serta abai terhadap tujuan utama berdemokrasi, yakni untuk menciptakan kemaslahatan umum (bonum commine) dan kesejahteraan bangsa.

Oleh karenanya, sudah saatnya tradisi politik ruang kita tinggalkan untuk kemudian beralih ke tradisi politik waktu yang tentunya lebih bernilai stragis dan transformatif bagi perubahan serta kemajuan bangsa Indonesia ke depan. (*)

 

 

Tags: demokrasiM Risfan SihalohopolitikPolitik Ruangpolitik waktuwaktu
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

by Mujaddid
12 Oktober 2026
61
Demokrasi yang Bau Bangkai
Nasional

Demokrasi yang Bau Bangkai

by Mujaddid
29 Agustus 2026
64
Politik: Cara Merampok Dunia
Nasional

Politik: Cara Merampok Dunia

by Mujaddid
26 Agustus 2026
112
Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara
Nasional

Demokrasi yang Kehilangan Suara: Ketika Kritik Dipandang sebagai Ancaman Negara

by Mujaddid
20 Juli 2026
66
Akar Panjang, Langkah Tenang: Catatan Seorang Kader
Jufri Daily

Politik itu Terlalu Penting untuk Hanya Diserahkan kepada Politisi

by Mujaddid
8 Juni 2026
83
Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna
Kebangsaan

Menjinakkan Watak “Raja” Presiden: Belajar dari Sjafruddin, Assaat, dan Ilusi Konstitusi Sempurna

by Mujaddid
28 Mei 2026
77
Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting
Daerah

Modernisasi Sistem Demokrasi Nagari melalui E-Voting

by Mujaddid
24 Mei 2026
80
Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik
Daerah

Maestro Sihaloho: Dari Mesin Tik Sebelas Jari hingga Dunia Jurnalistik

by Mujaddid
15 Juni 2026
125
Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi
Jufri Daily

Demokrasi Tanpa Oposisi Resmi

by Mujaddid
9 April 2026
80
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia
Esai

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

by Mujaddid
22 Februari 2026
152

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Kaji Industri Komunikasi Hadapi Disrupsi, UMY dan UMJT Gelar Seminar di Madiun
  • Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
  • SMeCK Hooligan Apresiasi League Cup, Siap Jadikan Medan Tuan Rumah yang Ramah
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?
Nasional

Rocky Gerung Masuk Istana, Masihkah Suaranya Segarang Dulu?

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.