• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Sabtu, Agustus 30, 2025
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Martabat Bangsa

Haedar Nashir by Haedar Nashir
2024/01/03
in Islam, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Nasional, Opini, Pedoman
0
Martabat Bangsa
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Haedar Nashir

Kata pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang.” Lalu, “Manusia mati meninggalkan nama.”

Tentu nama baik, bukan nama buruk. Nama baik dengan segala benih kebaikan sebagai makhluk berakal budi, yang melahirkan keadaban dan peradaban.

Bagi bangsa Indonesia, martabat dan nilai utama itu hidup subur dalam nilai dasar Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa. Ketiganya menjadi patokan berperilaku yang penting dan bermakna agar bangsa ini selalu berada di jalan benar, baik, dan pantas. Sebaliknya tidak terjerumus pada jalan salah, buruk, dan tidak patut.

Namun nilai-nilai luhur itu sering rusak dan menjadi dangkal karena pesona dunia. Godaan materi, kursi, dan nafsu inderawi sering menjerumuskan individu maupun bangsa pada perbuatan salah, buruk, dan tidak beretika.

Perbuatan-perbuatan nista itu sering dibungkus dengan segala argumen, instrumen, dan siasat yang piawai sehingga yang tampak di permuakaan ialah pesona luar biasa layaknya fatamorgana!

Insan Bermartabat

Martabat manusia melekat dengan eksistensi dirinya sebagai insan ciptaan Tuhan yang berakal budi. Makhluk yang memiliki hati, rasa, dan rasio untuk menimbang segala hal dalam hidupnya.

Martabat itu tingkat kualitas harkat kemanusiaan, termasuk harga dirinya sebagai makhluk ciptaan manusia yang mulia dan dimuliakan Tuhan. Martabat, dalam konstruksi kaum beriman dan keagamaan, melekat dengan nilai akhlak.

Bagaimana manusia berpola-perilaku utama, agar hidup bermartabat mulia.

Suatu bangsa sejatinya memiliki martabat diri, yakni harkat kebangsaan yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, kebaikan, dan kepatutan hidup di atas nilai-nilai utama.

Kata Syeikh Syauqi Bey, “Sesungguhnya kejayaan suatu umat atau bangsa karena akhlaknya, bila akhlak hilang maka jatuhlah bangsa itu.”

Meski digdaya dalam segala pesona duniawi, suatu bangsa akhirnya akan kehilangan makna jika tidak memiliki martabat diri nan utama.

Cicero, sang pemikir di era Yunani Kuno berkata, “Manusia lebih tinggi derajatnya daripada hewan.” Bila hewan bertindak atas instingnya, manusia berbuat atas akal budinya.

Manusia dengan akal budinya tahu yang benar, baik, dan pantas serta mampu membedakan dari yang salah, buruk, dan tidak patut. Adapun hewan tidak tahu nilai-nilai utama kehidupan seperti itu.

Namun, manusia ketika berbuat salah, buruk, dan tidak layak justru dapat lebih jahat dan nista daripada binatang. Mereka seperti binatang buas, “Bal hum adhallun”, bahkan jauh lebih sesat ketimbang hewan.

Secara rinci disebutkan dalam Alquran, yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-‘Araf: 179).

Karenanya, Rasul SAW hadir dan kitab suci diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia agar akal budinya terus terawat, terbina, dan sempurna. Misi kerisalahan Nabi Muhammad sebagai Rasul akhir zaman ialah “menyempurnakan akhlak manusia”.

Bukan hanya manusia yang beriman dan Muslim, tetapi seluruh anak cucu keturunan Adam alaihissalam mesti disempurnakan perangainya menuju martabat “insan kamil”. Termasuk umat manusia dari bangsa Indonesia, baik warga lebih-lebih elite negerinya.

Siapapun insan beriman mestinya bertindak berdasarkan akal budi yang dijiwai iman, takwa, dan kesalehan hidup. Mereka yang diberi Tuhan amanah kekuasaan, kelebihan harta, keutamaan ilmu, dan segala anugerah yang berharga lainnya mesti dimanfaatkan sebaik-sebaiknya untuk segala kebajikan yang utama selaku insan beradab dan berperadaban luhur.

Bukan bertindak menuruti segala hawa nafsunya yang merah menyala. Sebelum bertindak pikirkanlah dengan matang mana yang benar, baik, dan pantas serta mampu membedakan serta tidak melakukan perbuatan yang salah, buruk, dan tidak patut berdasar etika dan nilai ajaran hidup nan utama.

Kontestasi Bermartabat

Martabat dalam keluhuran kehormatan diri itu ibarat benih yang ditaburkan Tuhan di alam semesta menjadi nilai universal. Manusia dalam seluruh denyut kehidupannya termasuk ketika harus bersaing atau berkontestasi, mesti menjunjung tinggi martabat diri dan sesama.

Segala wujud pertandingan olahraga, termasuk sepak bola yang sudah berubah menjadi industri di dunia, ditegakkan segala aturan yang selalu dikawal wasit dan semua pihak yang terlibat dalam pertandingan.

Hal ini agar pertandingan itu bermartabat layaknya peragaan hidup manusia yang beradab. Bukan perebutan hidup alam hewan dalam hukum Hobbesian, homo homini lopus.

Dalam pertandingan olahraga sekalipun, selalu ada perilaku menyimpang demi meraih kemenangan. Diving, melakukan pelanggaran ringan sampai yang berbahaya, serta segala trik yang kadang atau sering dilakukan para pemain dalam pertandingan.

Bahkan dalam pertandingan yang dikendalikan mafia, sering terjadi pengaturan skor dan pertandingan, sehingga kemenangan berada di tangan kuasa para mafioso dan bohir. Pertandingan sudah ditentukan pemenangnya sebelum dimulai!

Memang selalu ada “rule of law” yang menjadi pengatrol dan pengendali sistem berperilaku. Prinsip hukum tersebut dalam bernegara bahkan menegaskan bahwa negara harus diperintah oleh hukum atau aturan dan tidak oleh keputusan-keputusan subjektif para pejabat negara.

Bila para pejabat negara melakukan pelanggaran, maka terjadilah penyimpangan seperti korupsi atau penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Hukum dan semua sistem diakali dan diporakporandakan demi kepentingan manusia yang sarat hasrat ambisius.

Hukum dan sistem yang sudah payah telah dibangun pun diporakporandakan. Sebaik dan secanggih apapun sistem, akhirnya bergantung manusia sebagai aktor.

Ada manusia perawat dan pembangun sistem. Sebaliknya, tidak sedikit perusak sistem.

Alam semesta ciptaan Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia pun, di tangan sang perusak, menjadi hancur dan dihancurkan. Apalagi sistem dan ekosistem bikinan manusia sendiri. Tuhan pun memperingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia…” (QS ar-Rum: 41).

Manusia pada dasarnya baik, bahkan bertuhan dan beragama. Tetapi elemen buruk yang bernama hawa nafsu sering membuat manusia lupa diri.

Manusia tenggelam dalam segala hasrat yang ambisius yang menjadikan dirinya serakah sekaligus sesat jalan. Sistem kehidupan dikorbankan demi meraih kekuasaan, uang, dan segala pesona duniawi yang sebesar-besarnya dan selanggeng mungkin.

Lantas, manusia menjadi rakus dunia dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan segala ambisi hidupnya yang tak berkesudahan. Sebagaimana ilustrasi nyata dalam firman Allah, “Al-hakumut-takasur, ḥatta zurtumul-maqabir”, artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS at-Takatsur: 1-2).

Karenanya manusia dan bangsa yang beriman mesti kembali ke fitrah atau jati diri yang murni guna meraih martabat utama selaku insan yang diciptakan mulia (fi ahsan at-taqwim) manakala telah diliputi hasrat duniawi yang berlebihan.

Dunia dengan segala kontestasi apapun, termasuk pemilihan umum dalam politik, hanyalah nisbi dan tidak abadi. Watak kontestasi itu “al-ghurur”, serba penuh permainan yang mesti disikapi kewaspadaan tinggi dengan nilai luhur dan kekayaan akal budi.

Hati-hati di kala sukses dan bergelimang kuasa takhta maupun harta, semua merupakan ujian Tuhan yang akan ada akhirnya. Roda kehidupan itu selalu dipergilirkan Tuhan yang Mahakuasa. Tuhan Maha Segalanya dalam membolak-balikkan seluruh digdaya manusia yang sifatnya sementara dan fana.

Maka, berkontestasilah dalam segala aktivitas hidup secara bermartabat, dengan cara yang halal dan baik. Junjung tinggi etika dan nilai utama kehidupan.

Meski siapapun bisa keluar menjadi pemenang dalam suatu kontestasi, bilamana diraih dengan curang dan segala muslihat, maka hasil akhirnya hanya akan menjadi beban diri dalam dosa dan pertanggungjawaban yang sangat berat di dunia hingga hari akhir.

Tidak ada yang berkah untuk nasib manusia atau kelompok yang menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan hidup. Di dunia akan terus dikejar dosa dan beban berat tak berkesudahan, meski bermahkotakan kuasa yang tampak gagah perkasa, tapi sejatinya simulakra.

Jikalau lolos di dunia, pasti di akhirat akan dijerat hisab dan siksa Tuhan yang sangat pedih dan mengerikan! (*)

Artikel ini pertama terbit di laman Republika.id pada Sabtu (30/12).

Tags: Haedar NashirMartabat BangsaMuhammadiyahPemikiran Haedar Nashirtulisan haedar nashir
Previous Post

Kunjungi Poskor Muhammadiyah Sumedang, Prof Ahmad Dahlan Minta MDMC dan Lazismu Berikan Layanan Terbaik

Next Post

Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung

Related Posts

Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid III Dibuka, Tiga Kader Tarjih Sumut Ikut Bergabung

Konferensi Mufasir Muhammadiyah Jilid III Dibuka, Tiga Kader Tarjih Sumut Ikut Bergabung

28 Agustus 2025
177
Pemberian Bintang Mahaputera Sarat Makna Politik Simbolik

Pemberian Bintang Mahaputera Sarat Makna Politik Simbolik

27 Agustus 2025
119
LPCR-PM PP Muhammadiyah dan 1000 Cahaya Gelar ToT Audit Energi, Dorong Dakwah Ramah Lingkungan

LPCR-PM PP Muhammadiyah dan 1000 Cahaya Gelar ToT Audit Energi, Dorong Dakwah Ramah Lingkungan

19 Agustus 2025
110
Manajemen Reputasi Digital Muhammadiyah Perlu Dikelola

Manajemen Reputasi Digital Muhammadiyah Perlu Dikelola

17 Agustus 2025
122
Muhammadiyah dan Danamon Teken MoU untuk Perkuat Ekosistem Digital SatuMu

Muhammadiyah dan Danamon Teken MoU untuk Perkuat Ekosistem Digital SatuMu

23 Juli 2025
115
Haedar Nashir Luncurkan ‘SehatMu’, Platform Digital untuk Integrasikan Ratusan Rumah Sakit Muhammadiyah

Haedar Nashir Luncurkan ‘SehatMu’, Platform Digital untuk Integrasikan Ratusan Rumah Sakit Muhammadiyah

18 Juli 2025
167
Next Post
Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung

Mahupiki Apresiasi Peningkatan Kinerja Kejaksaan Agung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In