No Result
View All Result
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
SAVED POSTS
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
TAJDID.ID
No Result
View All Result

Buzzer dan Influencer Memberontak

18 Februari 2021
in Opini, Ulasan
Reading Time: 4 mins read
0
A A
0
Ilustrasi Buzzer. (foto: internet)

Ilustrasi Buzzer. (foto: internet)

Share on Facebook
Share on Twitter

Oleh: Shohibul Anshor Siregar


Politisasi kemiskinan rakyat Aceh berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis beberapa hari lalu adalah bentuk pemberontakan nasional buzzer dan atau yang selama ini diperhalus dengan istilah influencer.

Semakin menjadi lebih terang benderang karena selain adanya framing opini berskala nasional juga ada mobilisasi pengiriman papan bunga satire ucapan selamat kepada pemerintah Aceh.

Para pemberontak ini sangat sadar bahwa penyebab utama degradasi kualitas kehidupan penduduk dunia saat ini (kemiskinan) adalah wabah COVID-19. Untuk Indonesia penanganannya adalah oleh sebuah organisasi terpusat. Semua daerah hanya mengekor saja.

Menurut regulasi, untuk usul penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), misalnya, daerah tidak memiliki kewenangan kecuali sekadar mengusulkan, dan boleh disetujui atau tidak oleh Jakarta. Padahal Jakarta tidak mungkin selalu faham kondisi daerah.

Secara politik jika semakin banyak daerah yang menerapkan PSBB, Jakarta pasti akan khawatir krisis ekonomi bisa menjurus kepada krisis politik yang sangat menakutkan. Indonesia terkesan kuat dalam posisi itu.

Mereka juga sangat sadar bahwa kegagalan dalam membangun gerakan sosial menanggulangi wabah COVID-19 sangat serius. Mereka tahu pemerintah tak hanya gagap dalam membangun konsepsi yang akan menjadi lead bagi gerakan nasional melawan wabah COVID-19, tetapi juga dalam menempatkan kepentingan prioritas.

Lihat misalnya dana stimulus COVID-19 yang lebih mementingkan korporasi, tidak hanya menunjukkan kegamangan. Melainkan juga rasa ketakutan atas kemungkinan krisis ekonomi berlanjut menjadi krisis politik yang serius.

Hal lain ialah tentang program prakerja. Bayangkan, pada saat pandemik program prakerja dengan perimbangan dana untuk korporasi penyelenggara dan distribusinya untuk rakyat penerima manfaat sangat terbuka dipertanyakan.

Juga wacana nasional mensupport korporasi dan Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) yang membahana, begitu juga wacana pengembangan bisnis digital. Semua kebijakan itu seakan tak sudi mengindahkan nasib rakyat. Karena korporasi boleh mendapat dana supporting yang besar, begitu juga UMKM.

Pertanyaannya, adakah korporasi dan UMKM yang bisa bertahan jika daya beli rakyat terus menerus tergerus karena kehilangan pekerjaan (PHK) dan mengerucutnya peluang usaha?

Padahal semestinya pemerintahan nasional mengucurkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), misalnya Rp 5-7 triliun untuk setiap Kabupaten dan Kota, serta Rp 10-15 triliun untuk setiap Provinsi. Dana itu digunakan untuk membangun infrastruktur yang mempekerjakan rakyat, tidak seperti model selama ini yang di bawah dikte Belt and Road Inisiative (BRI) China yang pengerahan tenaga kerjanya dengan sama sekali tak mengindahkan keterpurukan Indonesia dalam masalah pengangguran.

Beberapa hari ini viral berita bahwa dalam keadaan susah begini Indonesia tetap tidak memiliki sensitivitas yang wajar. Misalnya, diketahui Indonesia telah menyerahkan bulat-bulat kepada Mister Loo untuk mengelola 25 toilet yang dibangun di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba. Mister Loo adalah perusahaan yang mengurus WC atau toilet pada kancah internasional berbasis di Swiss yang dikendalikan oleh Andreas Wanner dan Dominik Schuler. Bayangkan duka kehilangan kesempatan dari tangan pengusaha Indonesia atas nama international competitiveness.

Mereka tentu sangat sadar bahwa penggantian Menteri Kesehatan adalah salah satu indikasi puncak gunung es yang mencerminkan besaran masalah dan rentetannya di bawah permukaan. Apalagi dengan mendudukkan seorang yang tak faham sama sekali masalah kesehatan dan khususnya masalah pandemik, sebagai pengganti Menteri Kesehatan.

Semua orang heran, Majelis Ulama Indonesia (MUI) buru-buru mematwakan bahwa vaksin yang akan digunakan Indonesia yang berasal dari China itu bersifat suci dan halal. Padahal uji klinis yang diprasyaratkan untuk itu masih sedang akan dimulai oleh institusi yang berkompeten, yakni Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tertangkapnya Menteri Sosial (oleh KPK) dengan berbagai asumsi politisasi anggaran yang sangat sadis semakin memperkuat fenomena puncak gunung es itu yang mengindikasikan kebobrokan nasional. Tentu saja mereka sangat sadar bahwa kebijakan mengakhiri pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan menggantinya dengan penerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berskala Mikro terhitung mulai tanggal 9 Februari 2021, adalah bukti yang semakin memperkuat kegagalan nasional melawan wabah COVID-19. Mereka juga pasti sangat tahu data kekorupsian nasional yang terbuka mau pun yang tertutup di bawah permukaan.

Degradasi kualitas kehidupan karena wabah COVID-19 terjadi di hampir seluruh dunia, dan umumnya dengan sadar hampir semua orang waras berfikir bagaimana menumbuhkan solidaritas menanggulangi bencana.

Lembaga-lembaga internasional khususnya WHO mencurahkan perhatian dan upayanya untuk itu, meski karena kepentingan perang dagang rivalitas yang memuncak juga tidak reda. Vaksin saja diposisikan sebagai komoditas politik berefek tinggi bagi konsekuensi ekonomi, dan ini gagal disikapi oleh banyak negara yang tersubordinasikan secara menyedihkan kepada kekuatan-kekuatan negara pendikte dalam arena politik dan ekonomi perdagangan bebas.

Disadari bahwa dalam struktur dunia yang relatif seakan bersifat anarkis terutama sejak berakhirnya perang dingin sehingga keleluasaan negara predator begitu dahsyat dan Lembaga-lembaga internasional seperti WHO, UNESCO dan bahkan PBB seakan hanya bisa menonton sambil menggerutu.

Mereka pasti sangat faham bahwa Aceh dan Papua adalah provinsi-provinsi yang berada dalam status otonomi khusus dengan kewajiban nasional mengucurkan dana “berlebih” dari APBN. Tetapi nasibnya tidak begitu banyak berubah dengan kucuran dana nasional dari APBN selama bertahun-tahun. Ini mengindikasikan kegagalan konsepsi dan penerapan hubungan pusat dan daerah (otonomi) dalam pemerintahan Indonesia yang lebih bersifat parasitis ketimbang memerdekakan. Sangat banyak dimensi yang mesti dirombak di sini, terutama mentalitas birokrasi dalam sistem politik yang terus-menerus diglorifikasi.

Mengapa mereka memandang politisasi kemiskinan Aceh begitu penting? Aceh itu tak hanya daerah istimewa, tetapi juga memiliki sebuah qanun, dan mereka di sana sangat bergembira dengan upaya membangun masyarakat madani dengan konsep shariah.

BACA JUGA

Jurnalistik Wasathiyah

Pilkada Tapsel 2020, Mungkinkah Harahap Bersatu?

Menakar Arti Kemerdekaan

Konsistensi Pencerahan Melalui “Psychological Empowerment” Demi Mewujudkan Ikatan yang Berkemajuan

Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Percepat Elektrifikasi Transportasi

Implikasi Kekerasan Struktural terhadap Kejahatan Pemilu

Urgensi atau motif mobilisasi opini yang menyudutkan pemerintah Aceh itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyudutkan pemerintah Aceh dan bukanlah sebuah upaya menyembunyikan kegagalan nasional menangani wabah COVID-19 yang antara lain menyebabkan pertambahan jumlah penduduk miskin di Indonesia. Justru terbalik.

Mereka ingin mempermalukan pemerintah kepada rakyatnya sendiri dan kepada dunia internasional. Bisa saja agitasi semacam ini dapat memicu kemarahan rakyat secara nasional. (*)


Penulis adalah Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut, Dosen FISIP UMSU

Tags: buzzerinfluencershohibul anshor siregar
Mujaddid

Mujaddid

Editor in chief

Konten Terkait

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas
Daerah

NTP Naik Tapi Petani Tetap Miskin: Sosiolog Sebut Data BPS Hanya Manipulasi Realitas

by Mujaddid
28 Juli 2026
85
Shohibul: Presiden Sebaiknya Rombak Struktur Anggaran
Nasional

Sosiolog Soroti Universitas Republik Indonesia: “Institusi Pendidikan atau Reproduksi Elit Kekuasaan?”

by Mujaddid
24 Juli 2026
88
Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”
Nasional

Oposisi Jalanan Berbaju “Kabinet Bayangan”

by Mujaddid
19 Juli 2026
87
Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”
Esai

Gincu vs Garam: Opera Buffa Politik Islam di Republik yang Selalu “Demokratis”

by Mujaddid
3 Agustus 2026
77
Penyiksaan oleh Aparat TNI-Polri di Sumut Ancam Demokrasi dan Hak Asasi Warga
Internasional

Kesaksian Akademisi: AI Menipu Saya, Jangan Percaya Buta!

by Mujaddid
14 Juni 2026
124
Akademisi ini Paparkan Peta Pilpres 2024 di Sumatera Utara
Nasional

Rupiah Sekarat Bertengkar dengan Siapa? Ini Jawaban Menohok Akademisi

by Mujaddid
12 Juni 2026
141
Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman
Nasional

Menolak Jadi Penonton Pasif: 5 Langkah Taktis Aceh Amankan Kekayaan Gas Blok Andaman

by Mujaddid
9 Juni 2026
111
Cegah Kriminalitas, Shohibul: Muhammadiyah Perlu Tentukan Prioritas Orientasi Dakwahnya
Daerah

LHKP Muhammadiyah Sumut Desak Pemerintah Hentikan Personifikasi Kurban APBN

by Mujaddid
28 Mei 2026
208
Pakar Sentil KPK Soal Usulan E-Voting Pemilu: Jangan Bicara di Luar Domain Tugas!
Nasional

Pakar Sentil KPK Soal Usulan E-Voting Pemilu: Jangan Bicara di Luar Domain Tugas!

by Mujaddid
9 Mei 2026
102
Magnet Investor, Tanah yang Menghilang
Daerah

Magnet Investor, Tanah yang Menghilang

by Mujaddid
1 April 2026
95

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU

  • Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
  • Lulusan Terbaik Medkom UMY Bahas Fenomena Jastip dan Guru Gembul dalam Seminar Media dan Komunikasi UMJT
  • Belajar dari Kelangkaan BBM di Bali: FSPPB Dorong Pembenahan Tata Kelola lewat RUU Migas 2026
  • Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
  • Terpilih Secara Aklamasi, Arya Sinulingga Resmi Pimpin PSSI Sumut Periode 2026–2030
  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

OPINI

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung
Jufri Daily

Setiap Orang Perlu Panggung dan Punggung

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban
Esai

Menulis: Dari Sekadar Merangkai Kata hingga Memahat Peradaban

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara
Daerah

Kontribusi Gerakan Tajdid Muhammadiyah dalam Pencerahan Kehidupan Bangsa dan Bernegara

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore  dari Pak Zai
Jufri Daily

Orang Lucu Bicara Serius: Sore-Sore dari Pak Zai

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan
Jufri Daily

Kepemimpinan Muhammadiyah dan Masa Depan Persyarikatan

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital
Islam

Tantangan Dakwah Islam Abad Kontemporer Era Digital

TAJDID.ID

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

Navigate Site

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Sign Up
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
    • Pemilu
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • ‘Aisyiyah
      • Muktamar 49
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Catatan Hukum
    • Jufri Daily
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
    • Nukilan
    • Celotehan
    • Kiat
    • Ringan
  • Jepretan
    • Foto

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.