Oleh: Jufri
Pagi ini, setelah selesai salat Subuh dan membaca Al-Qur’an, pikiran saya justru melayang ke sepak bola. Bukan karena ada pertandingan besar atau berita transfer pemain dunia, melainkan karena melihat sebuah foto seorang Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah yang sedang menonton pertandingan sepak bola dengan ekspresi khas seorang suporter. Wajahnya tampak serius, matanya mengikuti arah bola, mungkin waktu itu sesekali tersenyum dan tampak larut dalam suasana pertandingan.
Dari foto sederhana itu saya tersadar bahwa sepak bola memang memiliki kekuatan yang unik. Ia mampu menembus batas profesi, usia, pendidikan, organisasi, bahkan jabatan. Di tribun penonton, seorang petani, guru, ustaz, pengusaha, pejabat, dan profesor bisa duduk bersama mendukung tim yang sama. Semua larut dalam emosi yang sama.
Baru kemudian saya ingat bahwa tidak lama lagi dunia akan menyambut pesta sepak bola terbesar, yaitu Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Indonesia, seperti biasanya, masih menjadi penonton setia. Tentu sekaligus komentator yang sangat aktif. Bangsa ini memang memiliki jutaan pelatih, analis, dan pengamat sepak bola dadakan setiap kali pertandingan berlangsung.
Dulu ketika masih sekolah, terutama saat berada di Ujung Gading, Pasaman, saya sesekali ikut menonton pertandingan sepak bola di lapangan kampung. Pemainnya bukan pesohor dunia dengan bayaran miliaran rupiah. Ada guru kami Saripada Lubis, ada senior saya Muhammad Ribhan Sihaloho , ada pula kawan saya Risfan Sihaloho alias Maestro Sihaloho . Disamping keluarga aktifis Muhammadiyah , mereka juga keluarga sepakbola . Kami menonton dari pinggir lapangan tanpa tribun, tanpa kursi, tanpa papan skor elektronik, tanpa fasilitas apa pun. Tetapi suasananya hidup.
Debu berterbangan ketika pemain berlari. Penonton berteriak memberi semangat. Anak-anak kecil berlarian di sekitar lapangan. Kadang keputusan wasit menjadi bahan perdebatan hingga pertandingan selesai. Sederhana, tetapi penuh kenangan. Dari lapangan-lapangan seperti itulah sebenarnya kecintaan bangsa ini terhadap sepak bola tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kadang saya membayangkan bagaimana suasana tribun di Camp Nou, markas FC Barcelona. Atau di Allianz Arena, kandang FC Bayern Munich. Atau di Old Trafford dan Etihad Stadium. Puluhan ribu orang bernyanyi bersama, melompat bersama, menangis bersama, dan merayakan kemenangan bersama.
Namun di balik gemerlap stadion-stadion megah itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul dalam benak saya.
Bagaimana jika suatu hari Indonesia benar-benar tampil di Piala Dunia?
Bahkan lebih jauh lagi, bagaimana jika Indonesia menjadi juara dunia?
Seperti apa suasana bangsa ini?
Saya bahkan membayangkan dampaknya jauh melampaui sebuah kemenangan di lapangan hijau. Indonesia memiliki lapangan-lapangan sepak bola yang terawat dan stadion-stadion megah yang selalu dipenuhi penonton. Anak-anak kecil di kampung-kampung tidak lagi hanya bercita-cita menjadi aparat negara, pegawai negeri, atau profesi-profesi yang selama ini dianggap paling menjanjikan. Mereka juga bermimpi menjadi pesepak bola profesional yang mengharumkan nama bangsa.
Dari lapangan-lapangan itu lahir pemain-pemain Indonesia yang bermain di liga-liga terbaik dunia dengan kemampuan dan penghasilan yang fantastis. Setelah masa bermain mereka selesai, lahir pula pelatih-pelatih Indonesia yang disegani di tingkat internasional. Bahkan wasit-wasit Indonesia dipercaya menjadi pengadil pada pertandingan-pertandingan paling bergengsi di dunia. Nama Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi menjadi bagian penting dari perkembangan sepak bola dunia.
Lebih jauh lagi, roda ekonomi bergerak dengan sangat besar. Industri sepak bola menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha yang luas. Penjualan tiket pertandingan, hak siar televisi, sponsor, iklan, jersey, pernak-pernik suporter, pariwisata olahraga, hingga usaha kecil di sekitar stadion ikut menikmati manfaatnya. Sepak bola bukan hanya menghadirkan kebanggaan nasional, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi rakyat.
Membayangkannya saja sudah terasa luar biasa. Apalagi jika suatu hari nanti semua itu benar-benar menjadi kenyataan.
Mungkin jalan-jalan akan dipenuhi lautan Merah Putih. Mungkin media sosial akan dipenuhi ungkapan kebanggaan nasional. Mungkin perbedaan pilihan politik yang selama ini sering membuat kita berdebat akan menghilang sejenak.
Bahkan mungkin pada saat itu orang tidak terlalu peduli pada pidato seorang presiden. Tidak terlalu sibuk mengikuti pertengkaran politik. Tidak terlalu larut memikirkan berbagai kesulitan hidup yang sedang dihadapi. Seluruh perhatian tertuju pada satu hal: Indonesia.
Rakyat akan hanyut dalam rasa bangga dan gembira karena nama Indonesia menggema ke seluruh dunia. Lagu Indonesia Raya berkumandang di panggung tertinggi sepak bola dunia. Bendera Merah Putih berkibar di hadapan miliaran pasang mata. Nasionalisme tumbuh dengan sendirinya dari hati rakyat. Bukan karena perintah, bukan karena kampanye, melainkan karena kebanggaan kolektif sebagai sebuah bangsa.
Di titik itulah saya memahami mengapa sepak bola sering disebut lebih dari sekadar olahraga.
Di banyak negara seperti Brasil, Argentina, atau Prancis, sepak bola telah menjadi semacam agama sipil bangsa. Bukan agama dalam pengertian teologis, melainkan ruang bersama tempat rakyat menemukan identitas, kebanggaan, dan rasa memiliki terhadap negaranya. Tidak mengherankan jika para pemain sepak bola sering kali lebih dikenal daripada kepala negaranya sendiri.
Karena sepak bola menyentuh sesuatu yang tidak selalu mampu disentuh oleh pidato politik, program pembangunan, atau slogan-slogan kebangsaan. Sepak bola menyentuh emosi. Ia menyatukan orang-orang yang berbeda latar belakang dalam satu rasa bangga yang sama.
Di Indonesia, nasionalisme sering dibicarakan dalam seminar, pidato, dan diskusi akademik. Itu penting. Tetapi ada kalanya nasionalisme tumbuh lebih kuat dari sebuah pertandingan sepak bola daripada dari seratus pidato kebangsaan.
Ketika jutaan rakyat menyanyikan Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca sebelum pertandingan dimulai, di situlah nasionalisme bekerja. Ketika rakyat dari Aceh sampai Papua bersorak untuk kemenangan yang sama, di situlah persatuan menemukan bentuknya yang paling sederhana.
Sebagai bangsa, kita tentu berharap Indonesia maju dalam pendidikan, ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Namun tidak ada salahnya juga bermimpi besar di lapangan hijau. Sebab mimpi-mimpi besar sering kali menjadi bahan bakar kemajuan sebuah bangsa.
Karena itu, sepak bola sesungguhnya bukan hanya soal menang atau kalah. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah bangsa belajar bermimpi bersama.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika Indonesia benar-benar tampil di panggung terbesar dunia, kita akan menyadari bahwa yang sedang bertanding bukan hanya sebelas pemain di lapangan. Yang sedang bertanding adalah harga diri, harapan, dan cita-cita sebuah bangsa bernama Indonesia.
Sampai hari itu tiba, kita tetap menjadi penonton setia. Tetap menjadi komentator yang kadang merasa lebih hebat dari pelatihnya. Tetapi yang lebih penting, kita tetap memelihara mimpi.
Karena setiap bangsa besar selalu dimulai dari keberanian untuk bermimpi besar.
Bahkan ketika mimpi itu lahir dari sebuah foto sederhana, setelah salat Subuh, sambil mengenang lapangan sepak bola berdebu di sudut kecil Ujung Gading, Pasaman. Di tempat yang jauh dari gemerlap stadion dunia, tetapi dekat dengan harapan tentang Indonesia yang suatu hari nanti mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar di lapangan hijau dan di panggung peradaban dunia. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








