Oleh: M. Risfan Sihaloho
Ekonomi dunia sedang tidak baik-baik saja. Inflasi melonjak, suku bunga mencekik, geopolitik memanas seperti kompor melempem yang tiba-tiba meledak, dan badai PHK massal terus menghantui kelas pekerja.
Di tingkat nasional, bumbu-bumbunya sama: daya beli merosot, harga bahan pokok melonjak, sementara para pembuat kebijakan sibuk meracik narasi “ekonomi kita tangguh dan terkendali.”
Namun alangkah lucunya, coba tengok pusat perbelanjaan atau keranjang belanja e-commerce hari ini. Di tengah jeritan kuota subsidi yang menipis, konter kosmetik tetap ramai. Penjualan lipstik, parfum premium, dan produk perawatan kulit justru dilaporkan melonjak.
Selamat datang di teater absurd “lipstick effect” (efek lipstik)—sebuah anomali ekonomi di mana kedunguan psikologis manusia bertemu dengan kecerdikan kapitalisme.
Istilah lipstick effect bukan barang baru. Teori yang dipopulerkan oleh Leonard Lauder (bos Estée Lauder) saat resesi AS awal tahun 2000-an ini menjelaskan fenomena perilaku konsumen yang unik: ketika krisis ekonomi menghantam dan uang makin cekak, orang-orang akan berhenti membeli barang mewah berukuran besar (mobil, rumah, atau liburan ke Eropa). Sebagai gantinya, mereka beralih ke “kemewahan kecil” (small luxuries) yang tetap bisa memberikan kepuasan instan tanpa membikin rekening bank langsung sekarat.
Lipstik adalah simbol sempurna. Anda mungkin tidak mampu lagi membeli tas desainer seharga puluhan juta rupiah untuk pamer di media sosial.
Tapi, Anda masih sanggup membeli lipstik seharga ratusan ribu rupiah dari merek ternama. Warnanya merah menyala, diaplikasikan ke bibir, dan seketika memberikan dopamin instan serta ilusi bahwa “Saya masih bagian dari kelas borjuis yang sejahtera.”
Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan diri psikologis yang tragis sekaligus menggelikan. Kita menolak terlihat miskin di hadapan dunia yang sedang runtuh. Lipstik berubah fungsi dari sekadar perona wajah menjadi masker gas di tengah polusi krisis ekonomi.
Fenomena ini bukan sekadar urusan dandan, melainkan sebuah indikator ekonomi yang membawa dampak sistemik, baik secara makro maupun mikro.
Indikator Palsu Pertumbuhan Ekonomi
Bagi para pejabat dan menteri ekonomi yang gemar memoles angka, lonjakan konsumsi barang retail kosmetik sering kali dijadikan tameng pidato. “Lihat, konsumsi domestik kita masih kuat!”. Padahal, ini adalah distorsi. Meningkatnya penjualan produk kecantikan bukan tanda masyarakat makin makmur, melainkan sinyal keputusasaan yang disamarkan.
Ini adalah indikator bahwa masyarakat sudah menyerah untuk menabung demi masa depan (karena harga rumah sudah tidak masuk akal) dan memilih membelanjakan uangnya demi kewarasan hari ini.
Berkah Instan bagi Industri Kosmetik dan FMCG
Dampak paling nyata tentu dirasakan oleh korporasi kosmetik, baik global maupun lokal. Ketika sektor properti dan otomotif tiarap memohon insentif pajak, industri kecantikan justru panen raya. Perusahaan lokal berlomba-lomba meluncurkan produk baru dengan strategi pemasaran yang manipulatif: mengaitkan kesehatan mental (self-care) dengan konsumtifisme. Anda stres karena beban kerja naik tapi gaji mandek? Silakan beli skincare baru, Anda berhak “menyembuhkan diri.”
Jebakan Finansial bagi Kelas Menengah “Nanggung”
Bagi individu, dampak lipstick effect bagaikan candu yang menggerogoti secara perlahan. Membeli lipstik atau kopi susu premium memang terasa murah jika dibandingkan dengan membeli aset. Namun, akumulasi dari ratusan “kemewahan kecil” ini menciptakan kebocoran halus pada keuangan pribadi. Di akhir bulan, tabungan tetap nol, investasi nihil, tetapi bibir tetap merah merona saat menerima surat tagihan.
Sebuah Ironi
Sungguh sebuah ironi yang satir: kita hidup di zaman di mana penampilan luar harus tetap terlihat aesthetic dan paripurna, sementara fondasi ekonomi di bawah kaki kita sedang retak. Kapitalisme global sangat memahami psikologi keputusasaan ini. Mereka tahu cara memeras sisa-sisa uang di dompet Anda dengan menawarkan kebahagiaan seharga beberapa gram perona pipi.
Lipstick effect adalah bukti nyata bagaimana manusia modern merayakan krisis. Kita menolak menghadapi kenyataan pahit bahwa daya beli kita sedang sekarat. Kita memilih bersembunyi di balik polesan gincu, memamerkannya lewat filter TikTok, dan berpura-pura semua baik-baik saja.
Ekonomi dunia boleh saja menuju jurang resesi, dan ekonomi nasional mungkin sedang berjalan di atas tali tipis ketidakpastian. Namun, selama cermin di kamar mandi masih menunjukkan wajah yang terpoles rapi, kita merasa telah memenangkan pertempuran melawan realita. Sebuah delusi yang indah, bukan? (*)


