• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Jumat, Mei 15, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat

Heri Isnaini by Heri Isnaini
2026/05/15
in Esai, Nasional, Opini
0
Membaca Humor: dari Sastra hingga Filsafat
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Heri Isnaini

Humor sering dianggap sebagai sesuatu yang ringan dan sekadar hiburan. Padahal, di balik tawa terdapat persoalan bahasa, budaya, pendidikan, bahkan filsafat kehidupan manusia. Buku The Philosophy of Humour karya Paul McDonald menunjukkan bahwa humor bukan sekadar lelucon, melainkan bagian penting dari cara manusia memahami dunia. Humor membantu manusia menghadapi kenyataan, menyampaikan kritik, membangun relasi sosial, dan mengekspresikan kreativitas.

Dalam dunia sastra, humor memiliki fungsi yang jauh lebih dalam dibanding sekadar membuat pembaca tertawa. Humor menjadi medium kritik sosial, sindiran budaya, dan refleksi terhadap kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan pembahasan McDonald mengenai pemikiran Cicero yang melihat humor sebagai sarana retorika untuk menyampaikan kebenaran secara halus.

Banyak karya sastra justru terasa kuat karena mampu menghadirkan ironi dan kelucuan di tengah tragedi. Dalam tradisi sastra Indonesia, humor hadir melalui tokoh-tokoh seperti Kabayan atau cerita-cerita satire yang menertawakan realitas sosial. Humor dalam sastra membuat pembaca tidak hanya tertawa, tetapi juga berpikir.

Humor juga memiliki hubungan erat dengan bahasa. Dalam The Philosophy of Humour, dijelaskan bahwa humor sering muncul dari ketidaksesuaian atau incongruity, yakni benturan antara harapan dan kenyataan. Dalam bahasa Indonesia, hal ini tampak pada budaya plesetan, permainan kata, ambiguitas, hingga meme digital.

Kelucuan muncul ketika makna bahasa “dipelintir” dari ekspektasi awal. Misalnya, “Cinta itu buta, tapi tagihan listrik membuka mata.” Ungkapan sehari-hari yang dibalik logikanya dapat menghasilkan efek komikal yang spontan. Humor bahasa Indonesia memperlihatkan bahwa masyarakat tidak hanya menggunakan bahasa untuk komunikasi formal, tetapi juga sebagai ruang bermain kreativitas.

Di dunia digital, meme juga menjadi bentuk humor bahasa yang sangat populer. Gambar seorang siswa tertidur di kelas dengan tulisan “belajar sambil merem supaya ilmunya masuk lewat mimpi” adalah contoh humor yang lahir dari absurditas logika. Kelucuannya muncul karena pembaca memahami bahwa pernyataan tersebut tidak masuk akal, tetapi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari.

Keragaman budaya Indonesia juga memengaruhi bentuk humor masyarakatnya. Humor Sunda cenderung spontan dan ringan, humor Jawa sering hadir dalam bentuk sindiran simbolik, sedangkan humor Betawi terkenal lugas dan egaliter.

Semua itu menunjukkan bahwa humor adalah cermin budaya. Bahasa menjadi medium yang memperlihatkan cara masyarakat memandang kehidupan, kekuasaan, dan relasi sosial.

Dalam pendidikan bahasa, humor memiliki fungsi pedagogis yang penting. Suasana belajar yang terlalu serius sering membuat peserta didik takut berbicara atau takut melakukan kesalahan. Humor mampu menciptakan ruang belajar yang lebih cair dan komunikatif. Ketika guru menggunakan cerita lucu, anekdot, atau permainan bahasa, siswa lebih mudah memahami materi sekaligus merasa dekat dengan proses pembelajaran.

Buku The Philosophy of Humour menjelaskan bahwa humor membantu manusia menjadi lebih terbuka terhadap gagasan baru dan lebih fleksibel dalam berpikir. Dalam pembelajaran bahasa, hal ini sangat penting karena bahasa bukan hanya soal tata bahasa, melainkan juga soal konteks sosial dan kemampuan memahami makna tersembunyi seperti ironi, sindiran, dan satire. Humor membantu siswa memahami bahwa bahasa hidup bersama masyarakatnya.

Namun, pembahasan paling menarik dalam buku tersebut adalah hubungan antara humor dan filsafat. Sejak zaman Yunani Kuno, humor telah menjadi perhatian para filsuf. Plato memandang tawa sebagai sesuatu yang berbahaya karena dapat merusak keseriusan manusia. Sebaliknya, Aristotle melihat humor sebagai bagian alami kehidupan sosial selama digunakan secara proporsional.

Kemudian, Thomas Hobbes menjelaskan bahwa manusia tertawa karena merasa lebih unggul dibanding orang lain. Dari sini lahir teori superioritas dalam humor. Sementara itu, teori incongruity melihat humor sebagai hasil benturan logika dan realitas yang tidak sesuai harapan.

Semua teori tersebut memperlihatkan bahwa tertawa sebenarnya adalah aktivitas intelektual: manusia tertawa karena mampu mengenali kontradiksi kehidupan.

Pada akhirnya, humor menunjukkan sisi paling manusiawi dari manusia. Ketika hidup terasa berat, humor menjadi cara untuk bertahan. Ketika kenyataan terasa absurd, humor menjadi cara untuk memahaminya. Karena itu, humor bukan lawan dari keseriusan, melainkan bentuk lain dari kebijaksanaan.

Melalui humor, manusia belajar bahwa hidup tidak selalu harus dipahami dengan dahi berkerut; kadang-kadang, dunia justru lebih mudah dimengerti melalui senyuman dan tawa. (*)

 

Bionarasi Penulis

Heri Isnaini adalah dosen sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Heri lahir di Subang pada 17 Juni dan memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya.

Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara.

Tags: Heri IsnainiHumorsastra
Previous Post

Ketua Prodi PGSD FKIP UMSU Jadi Pemateri Workshop Pembelajaran Mendalam Guru Muhammadiyah Kota Medan

Next Post

Wakaf untuk Masa Depan: Dari Amal Ibadah menuju Gerakan Peradaban

Related Posts

Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

Pembelajaran Sastra dan Penumbuhan Nilai Karakter

2 April 2026
132
Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

Sastra Diuji, Agama Dihafal: Krisis Pendidikan di Kampus yang Kehilangan Makna

25 Maret 2026
143
Puisi-puisi Heri Isnaini

Puisi-puisi Heri Isnaini

16 April 2025
446
Puisi~puisi Diktar

Puisi~puisi Diktar

30 April 2023
277
Puisi~puisi Lalik Kongkar (2)

Puisi~puisi Lalik Kongkar (2)

26 April 2023
364
Obat Sekaligus Luka

Obat Sekaligus Luka

9 September 2022
747
Next Post
Wakaf untuk Masa Depan: Dari Amal Ibadah menuju Gerakan Peradaban

Wakaf untuk Masa Depan: Dari Amal Ibadah menuju Gerakan Peradaban

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In