Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Kami menyimak dan memperhatikan dengan serius apa yang disampaikan oleh Ketua PDM Serdang Bedagai tentang bagaimana daerah ini bersiap menyukseskan Muktamar Muhammadiyah sebagai ajang silaturahmi akbar warga Muhammadiyah.
Percakapan itu berlangsung hangat dalam sebuah podcast di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang dipandu oleh Dr Zainuddin Gayo Gayo.
Dari ruang diskusi yang sederhana itu, saya menangkap satu hal penting: ada kesungguhan, ada kesiapan, dan ada semangat kebersamaan yang nyata.
Muktamar selalu lebih besar dari sekadar pertemuan organisasi. Ia adalah peristiwa peradaban. Tempat gagasan dipertemukan, arah gerakan ditentukan, dan harapan masa depan dirumuskan. Tetapi di balik ruang sidang yang penuh diskusi, ada kerja-kerja sunyi yang jarang disorot: daerah penyangga, relawan, pelayanan, logistik, hingga keramahan masyarakat. Tanpa semua itu, muktamar hanya akan menjadi acara. Dengan semua itu, muktamar menjadi gerakan.
Serdang Bedagai memahami posisi penting itu. Sejak awal berdirinya Muhammadiyah, daerah pesisir timur Sumatera Utara ini telah menjadi wilayah yang kaya dinamika keagamaan dan kebudayaan. Dakwah, tradisi, dan kehidupan sosial tumbuh berdampingan, membentuk masyarakat yang religius sekaligus terbuka terhadap kemajuan.
Muktamar 49 Muhammadiyah dengan tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” adalah momentum untuk melihat Sumatera Utara, termasuk Serdang Bedagai. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan undangan terbuka bagi siapa pun untuk menyaksikan energi kebersamaan, keramahan masyarakat, dan potensi daerah yang terus bergerak maju.
Serdang Bedagai tidak datang dengan tangan kosong. Garis pantainya yang indah menghadirkan wajah pariwisata pesisir yang memikat. Lahan pertaniannya yang luas menunjukkan kekuatan ekonomi yang bertumpu pada kerja keras masyarakat. Budaya yang kaya memperlihatkan identitas yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman. Semua ini adalah pesan optimisme: Serdang Bedagai siap menyambut, melayani, dan membersamai.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Serdang Bedagai, Akhyar MSP, menyampaikan kesiapan itu dengan sederhana namun penuh makna. Bahwa daerah ini siap menjadi penyangga muktamar.
Kata penyangga mungkin terdengar teknis, tetapi sejatinya sangat filosofis. Penyangga adalah penopang. Ia tidak selalu terlihat, tetapi tanpanya bangunan tidak akan berdiri kokoh.
Dukungan itu juga sejalan dengan sikap Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. Bupati Dharma Wijaya dan Wakil Bupati Adlin Tambunan dikenal dekat dengan warga Muhammadiyah. Pemerintah daerah, sebagaimana disampaikan Akhyar, selalu mendukung gerak maju serta kontribusi Muhammadiyah, termasuk pelaksanaan Muktamar.
Bahkan, momentum ini diharapkan menjadi ajang promosi Serdang Bedagai sebagai daerah yang kaya potensi wisata, pertanian, dan budaya.
Di sinilah optimisme itu tumbuh.
Dalam setiap peristiwa besar, selalu ada daerah-daerah yang memilih bekerja tanpa banyak sorotan. Tidak berebut panggung, tetapi memastikan panggung berdiri kokoh. Tidak mengejar tepuk tangan, tetapi memastikan semua tamu pulang dengan kesan baik. Serdang Bedagai tampaknya memilih jalan itu—jalan pengabdian yang sunyi namun bermakna.
Muktamar 49 Muhammadiyah akan menghadirkan tamu dari berbagai penjuru negeri. Ia akan mempertemukan gagasan, mempererat silaturahmi, dan menggerakkan energi kebersamaan. Namun lebih dari itu, muktamar adalah kesempatan bagi Sumatera Utara untuk menunjukkan wajah terbaiknya: ramah, terbuka, dan siap melayani.
Ada kebanggaan yang tenang ketika sebuah daerah berkata, “Kami siap membantu.” Kalimat sederhana, tetapi sarat makna. Ia menegaskan bahwa membangun peradaban tidak selalu harus dari pusat. Kadang ia justru tumbuh dari daerah-daerah yang bekerja dengan tulus dan penuh harapan.
Di situlah Muhammadiyah menemukan kekuatannya: pada jaringan kebersamaan, pada semangat kolektif, pada kesediaan banyak pihak untuk mengambil peran, sekecil apa pun itu.
Karena pada akhirnya, muktamar bukan hanya tentang tempat berlangsungnya acara. Ia adalah tentang semangat yang menyatukan banyak daerah dalam satu tujuan: memajukan umat, mencerahkan bangsa, dan meneguhkan langkah menuju masa depan.
Dan Serdang Bedagai telah menyatakan dirinya siap—dengan optimisme, dengan kebersamaan, dan dengan harapan. (*)








