Oleh: Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Ada tema-tema yang hanya terdengar indah di telinga, lalu hilang setelah acara selesai. Tetapi ada juga tema yang terasa seperti suara hati zaman, sederhana kalimatnya namun panjang maknanya. Tema Muktamar Muhammadiyah ke-49 Tahun 2027, “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”, termasuk dalam jenis yang kedua.
Ketika pertama kali membaca tema itu, pikiran saya justru tidak langsung melayang pada kemegahan muktamar, dinamika organisasi, atau hiruk pikuk politik internal. Yang muncul justru pertanyaan sederhana: mengapa kata “cerdas” dan “bercahaya” terasa begitu penting untuk Indonesia hari ini?
Mungkin karena kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan sering kali langka. Semua orang bisa berbicara, tetapi tidak semua mau mendengar. Semua merasa paling benar, sementara kemampuan memahami orang lain perlahan menipis. Di tengah keadaan seperti itu, tema ini terasa menyentuh akal sehat masa depan.
Muhammadiyah tampaknya ingin mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kecanggihan teknologi. Sebab bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang memiliki gedung tinggi, tetapi bangsa yang manusianya tercerahkan.
Kalimat “Cerdas Bangsa” mengandung makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pendidikan formal. Kecerdasan bukan hanya soal gelar akademik atau kemampuan berbicara rumit di forum-forum ilmiah. Kecerdasan juga berarti kemampuan menahan diri dari kebencian, kemampuan berpikir jernih di tengah banjir informasi, dan kemampuan menjaga persatuan di tengah perbedaan.
Hari ini kita sering menyaksikan bagaimana media sosial menjadi arena pertengkaran tanpa ujung. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Orang mudah tersinggung, mudah marah, dan mudah memberi label kepada orang lain. Dalam keadaan seperti itu, mencerdaskan bangsa berarti membangun kedewasaan publik, bukan sekadar memperbanyak ijazah.
Muhammadiyah sendiri sejak awal lahir memang berada di jalur pencerahan. Dari sekolah, universitas, rumah sakit, hingga gerakan sosialnya, Muhammadiyah telah lama bekerja dalam sunyi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak selalu gaduh, tetapi nyata jejaknya. Banyak tokoh lahir dari rahim pendidikan Muhammadiyah, banyak masyarakat kecil merasakan manfaat amal usahanya, dan banyak ruang sosial diterangi oleh gerakan dakwah yang menenangkan.
Lalu hadir kalimat kedua: “Semesta Bercahaya.”
Kalimat ini terasa puitis, tetapi sesungguhnya sangat filosofis. Cahaya di sini bukan hanya cahaya lampu kota atau gemerlap teknologi modern. Cahaya adalah simbol ilmu, moral, keadilan, dan kemanusiaan. Semesta bercahaya berarti kehidupan yang dipenuhi nilai-nilai yang memuliakan manusia.
Sebab ilmu tanpa moral bisa melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa nurani bisa melahirkan penindasan. Agama tanpa kasih sayang bisa berubah menjadi kemarahan. Karena itu, cahaya yang dimaksud bukan hanya terang di mata, tetapi terang di hati dan pikiran.
Tema ini juga terasa relevan dengan tantangan dunia hari ini. Ketika perang masih terjadi di berbagai tempat, ketika lingkungan mengalami kerusakan, ketika manusia semakin sibuk mengejar materi tetapi sering kehilangan ketenangan, maka gagasan tentang semesta bercahaya terasa seperti ajakan untuk mengembalikan arah peradaban.
Menariknya lagi, tema ini tidak terdengar penuh amarah. Ia tidak menyerang siapa pun. Tidak pula sibuk menciptakan musuh. Tema ini justru terasa teduh, tenang, dan mengajak berpikir jauh ke depan. Seolah Muhammadiyah ingin mengatakan bahwa masa depan bangsa tidak dibangun dengan kebencian, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan kerja panjang yang berkelanjutan.
Saya membayangkan, jika bangsa ini benar-benar dipenuhi manusia-manusia yang cerdas dan menghadirkan cahaya bagi sesamanya, maka Indonesia tidak hanya menjadi negara besar secara jumlah penduduk, tetapi juga besar dalam kualitas peradaban.
Karena pada akhirnya, kemajuan sejati bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu memberi manfaat dan menerangi kehidupan.
Dan mungkin di situlah inti terdalam tema ini: bahwa mencerdaskan bangsa adalah jalan untuk menghadirkan cahaya bagi semesta.(*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








