TAJDID.ID~Madiun 🔳 Direktur Al Islam dan Kemuhammadiyahan UMMAD (Universitas Muhammadiyah Madiun), Suyono, M.Pd menjadi narasumber kajian tafsir Al Qur’an di Masjid RSI Aisyah Kota Madiun, Sabtu, 13 Maret 2026.
Kajian tafsir Al Qur’an tersebut merupakan bagian dari kegiatan itikaf, sahur bersama, dan sholat Shubuh berjamaah di masjid rumah sakit yang dilakukan manajemen.
Dalam kesempatan tersebut, Suyono menyampaikan keterangan mengenai malam Lailatul Qadar yang ada didalam QS Al-Qadr ayat 1-5.
Makna ayat 1, Inna anzalnahu fi lailatil qadr oleh Suyono dihubungkan dengan darimana dan kemana Al Qur’an diturunkan oleh Allah melalui perantaraan malaikat. Yakni dari Lauhul Mahfudz di atas Arsy ke Baitul uzza atau langit pertama.
“Lauhul mahfudz adalah tempat dirahasiakan Allah dimana manusia dan malaikat tidak bisa tahu dengan kondisi lauhul mahfudz dan merupakan tempat terjaga,” kata Suyono. Suyono menyampaikan proses turunnya Al Quran menurut para mufasir ada dua tafsir yaitu Al Quran diturunkan secara keseluruhan pada malam qadr yaitu 30 juz.
Tafsir kedua, Al Quran diturunkan pada malam Lailatul qadr secara berangsur-angsur yang dimulai dari Surat Al Alaq ayat 1-5.
“Malaikat Jibril mendatangi Nabi muhammad ..ya Muhammad iqro’…, Muhammad menjawab ma Anna bi qorik (saya tidak bisa membaca) sampai 3 kali.. akhirnya malaikat Jibril memeluk nabi dan men-talqin pada Nabi Muhammad kemudian Muhammad mengulang talqin malaikat itu,” ujar Suyono.
Tafsir ke 3 dari ayat Inna anzalnaahu fi lailatulqadr yaitu bahwa turunnya Al Qur’an untuk memuliakan malam Lailatul Qadr.
Selain malaikat men-talqin Nabi Muhammad, menurut Suyono, mekanisme turunnya Al Qur’an juga melalui mimpi Nabi Muhammad SAW.
Dan juga dengan mekanisme malaikat Jibril langsung memasukkan ke dada Nabi Muhammad SAW. Namun dalam pandangan para ulama ahli tafsir terjadi khilaf. Ada ulama yang berpendapat Lailatul Qadr sudah turun sejak jaman Nabi Muhammad dan tidak akan turun lagi dan masa itu sudah lewat.
Tetapi ada ahli tafsir yang berpendapat Lailatul Qadr masih ada terbukti dengan kehadiran bulan Ramadhan tiap tahun berulang sampai sekarang. “Lailatin bermakna tunggal (mufrot). Artinya malam Lailatul Qadr turun hanya pada satu malam saja di bulan Ramadhan,” kata Suyono.
Mengenai kapan Lailatul Qadr diturunkan, Suyono menyampaikan, para mufasir ada yang mengatakan pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, ada yang mengatakan turun pada malam ganjil pada bulan Ramadhan. Dalam satu riwayat dikatakan, sebenarnya Nabi Muhammad ingin menyampaikan informasi secara jelas tentang kapan Lailatul Qadr turun.
Tapi saat ingin menyampaikan informasi itu, Nabi mengetahui ada dua sahabat yang bertengkar dengan sengit, suara meninggi dan keras. Nabi Muhammad melerai para sahabat tersebut sampai lupa menyampaikan informasi itu.
“Nabi Muhammad tetap berkata cari Lailatul Qadr. Kalau Nabi menyuruh cari berarti Lailatul Qadr itu ada,” kata Suyono. Suyono menyampaikan makna Qadr sebagai malam kemuliaan dengan turunnya Al Quran bisa dilihat dari ayat ketiga.
Yaitu Lailatul qadri khairun min alfi syahr, yang maknanya bahwa satu malam itu nilainya lebih baik dari 1000 bulan atau setara dengan 83 th 4 bulan. Suyono menyampaikan, Al qadr juga bisa bermakna sempit, hal itu bisa dibaca dari Ayat berikutnya (ayat 4).
Tanazzalul malaaikatu warruukhufiihaa bi-izdni rabbihim minkulli amr . “Maknanya malaikat turun dari langit turun memenuh bumi, tidak ada sejengkal tanah pun di bumi kecuali dipenuhi malaikat,” terang Suyono.
Ibnu Kasir menyebutkan malaikat turun ke bumi bagaikan kerikil di daratan analoginya begitu luar biasa banyaknya. Malaikat turun atas izin Allah untuk mengatur semua urusan, maknanya Al Qadri merupakan malam takdir.
“Maksudnya, takdir manusia akan didaur ulang bahkan akan ditentukan pada malam kemuliaan itu untuk waktu 1 tahun yang akan datang, terkait umur, rejeki, kebahagian. Nasib manusia Sehingga jadi penentu nasib 11 bulan yang akan datang,” jelas Suyono.
Disambung ayat berikutnya, Salamun hiya hattamat la’il fajar.Artinya malam (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.
Suyono juga menyampaikan mengenai Keistimewaan Lailatul Qadr yaitu sebagai malam pengampunan melalui puasa, sholat taraweh dan ibadah lain pada malam Lailatul Qadr.
“Keistimewaan lainnya adalah pelipatgandaan pahala, juga sebagai turunnya Qur’an, maka disebut Syahrul Qur’an yang semestinya kita harus banyak-banyak berinteraksi dengan Al Quran. Salaamun hiya hatamat la’il fajr, malam kesejahteraan sampai terbit fajar,” terang Suyono. (PJ)








