✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Dalam perjalanan sejarah bangsa, sering kali kita mengenang tokoh-tokoh besar yang berdiri di panggung depan sejarah. Nama-nama seperti Ahmad Dahlan, Soekarno, dan Soedirman tercatat dengan tinta emas dalam perjalanan Indonesia. Mereka adalah tokoh yang memberikan arah bagi umat, bangsa, dan negara.
Namun sejarah sering kali lupa menengok ruang yang lebih sunyi, ruang di mana kekuatan itu sesungguhnya dipelihara. Di balik tokoh-tokoh besar itu, ada perempuan-perempuan tangguh yang menjadi penopang, penguat, dan peneduh dalam perjalanan mereka. Perempuan-perempuan itu lahir dari rahim gerakan perempuan yang tercerahkan, yaitu Aisyiyah.
Gerakan perempuan yang didirikan oleh Ahmad Dahlan bersama istrinya Siti Walidah pada tahun 1917 ini bukan sekadar organisasi perempuan biasa. Sejak awal, Aisyiyah telah menanamkan kesadaran bahwa perempuan bukan hanya pelengkap dalam kehidupan sosial, tetapi juga penopang utama dalam membangun peradaban.
Nyai Siti Walidah sendiri adalah contoh nyata bagaimana seorang perempuan menjadi kekuatan moral bagi suaminya. Dalam banyak kisah tentang dakwah Ahmad Dahlan, kita menemukan bahwa keberanian dan keteguhan sang pendiri Muhammadiyah tidak berdiri sendirian. Ia didampingi oleh seorang perempuan yang memiliki visi yang sama tentang Islam yang mencerahkan.
Jejak itu kemudian tampak pula dalam perjalanan bangsa. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam perjalanan hidupnya didampingi oleh Fatmawati, seorang perempuan tangguh yang dikenal luas sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih—bendera yang pertama kali dikibarkan saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Peran ini bukan sekadar simbolik. Ia menunjukkan bahwa dalam detik-detik kelahiran bangsa, tangan seorang perempuan ikut menjahit harapan dan kemerdekaan.
Hal yang sama dapat kita lihat pada Panglima Besar Soedirman. Dalam perjuangannya yang penuh pengorbanan, ia didampingi oleh istrinya, Alfiah Soedirman, seorang perempuan yang juga tumbuh dalam lingkungan keluarga Muhammadiyah yang dekat dengan tradisi gerakan perempuan Aisyiyah. Keteguhan, kesederhanaan, dan kekuatan moral yang dikenal dari sosok Jenderal Soedirman tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga yang membentuknya.
Di sinilah kita melihat satu pelajaran penting dari sejarah: bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh tokoh yang berdiri di mimbar atau memimpin pasukan. Peradaban juga dibangun oleh perempuan-perempuan yang mendidik, menguatkan, dan menanamkan nilai di dalam rumah, keluarga, dan masyarakat.
Aisyiyah memahami hal itu sejak awal. Karena itu, gerakan ini tidak hanya mendirikan sekolah, rumah sakit, dan berbagai lembaga sosial, tetapi juga membangun kesadaran perempuan tentang pentingnya ilmu, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Dari ruang-ruang pendidikan dan pengajian yang sederhana itulah lahir generasi perempuan yang mampu menjadi penopang lahirnya tokoh-tokoh besar bangsa.
Namun perjalanan sejarah tidak pernah berhenti. Setiap zaman menghadirkan tantangannya sendiri. Menjelang Muktamar Aisyiyah ke-49, Aisyiyah dihadapkan pada berbagai persoalan baru yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa awal berdirinya.
Bagaimanapun, peranan perempuan di zaman sekarang semakin kompleks. Perempuan tidak lagi hanya berperan dalam ruang domestik, tetapi juga hadir dalam ruang pendidikan, ekonomi, sosial, bahkan politik. Mereka menjadi pendidik dalam keluarga, penggerak ekonomi rumah tangga, aktivis sosial di masyarakat, sekaligus penjaga nilai dalam kehidupan publik.
Perubahan sosial yang cepat, perkembangan teknologi, arus informasi yang tidak terbendung, serta tantangan moral generasi muda menuntut perempuan memiliki kesiapan intelektual, spiritual, dan sosial yang lebih kuat. Di sinilah peran gerakan seperti Aisyiyah menjadi semakin strategis: memperkuat perempuan agar mampu menjalankan peran-peran yang semakin kompleks itu tanpa kehilangan arah nilai.
Karena itu, muktamar bukan sekadar forum organisasi. Ia adalah ruang muhasabah gerakan—tempat Aisyiyah menilai kembali perjalanan panjangnya, sekaligus merumuskan langkah-langkah baru untuk menjawab tantangan zaman.
Sejarah bangsa ini sesungguhnya tidak hanya ditulis oleh para pemimpin yang tampil di depan. Ia juga ditulis oleh tangan-tangan perempuan yang bekerja dengan kesabaran dan ketulusan.
Maka ketika kita berbicara tentang kontribusi Aisyiyah bagi bangsa, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah gerakan yang melahirkan kekuatan sunyi. Kekuatan yang tidak selalu terlihat, tetapi justru menjadi fondasi dari lahirnya para pemimpin besar.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari gerakan perempuan ini: Aisyiyah bukan sekadar organisasi perempuan, tetapi rahim peradaban, tempat nilai, keberanian, dan keteguhan dilahirkan untuk menguatkan perjalanan umat, bangsa, dan masa depan Indonesia. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








