✍️ Padian Adi S. Siregar
Ketua PC Muhammadiyah Kampung Durian-Medan
Kehidupan seorang pemimpin sering diuji melalui keputusan-keputusan yang tampak kecil namun sarat implikasi etis. Sebuah istana dapat berdiri megah, tetapi integritas seorang pemegang kekuasaan kadang hanya terekspos melalui tindakan sederhana.
Kisah tentang Ali bin Abi Thalib mengilustrasikan bahwa amanah tidak hanya terlihat melalui kebijakan besar atau pidato resmi, melainkan melalui pilihan-pilihan praktis yang mencerminkan apakah kekuasaan digunakan untuk melayani kepentingan masyarakat atau semata-mata memfasilitasi kepentingan pribadi.
Cerita tentang sekerat roti tersebut menjadi relevan dalam konteks modern, sebagai pengingat bahwa ukuran moral seorang pemimpin sering kali lebih ditentukan oleh kesadaran dirinya daripada besarnya jabatan yang diemban.
Kisah Ali bin Abi Thalib dan Hasan bin Ali, berawal dari interaksi dengan seorang pengemis yang datang kepada lelaki tua duduk di bawah pohon kurma, membawa bekal sepotong roti kering. Pengemis tersebut mengalami kesulitan mengonsumsi rotinya karena kondisi fisik yang lelah dan kelaparan. Lelaki tua itu kemudian mengarahkan pengemis ke rumah Hasan bin Ali, yang sedang menyiapkan makanan untuk masyarakat kurang mampu. Pengemis itu menerima makanan yang lebih layak, dan sisa makanan yang dibungkusnya dikembalikan kepada lelaki tua tadi, yang ternyata adalah Ali bin Abi Thalib.
Ketika pengemis mempertanyakan mengapa lelaki tua tersebut hanya memiliki roti keras dan bukan jamuan yang lebih layak, Hasan bin Ali menjelaskan bahwa ayahnya selalu menyesuaikan konsumsi pribadinya dengan kondisi masyarakat yang berada dalam kesulitan. Prinsip ini menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh memisahkan diri dari masyarakatnya, bahkan dalam hal-hal yang tampak sederhana. Kisah ini menekankan pentingnya empati sosial dan kesadaran moral sebagai komponen fundamental dalam setiap praktik kekuasaan.
Relevansi kisah ini terhadap konteks kekuasaan modern sangat signifikan. Dalam banyak institusi kontemporer, batas antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi kerap kabur. Posisi atau jabatan tertentu membuka akses terhadap fasilitas atau peluang yang tidak tersedia bagi semua orang secara setara. Walaupun prosedur formal dipenuhi, etika moral sering kali diabaikan. Perbedaan akses ini mengindikasikan bahwa tanpa kesadaran etis, kekuasaan berpotensi menimbulkan ketimpangan sosial yang nyata.
Fenomena ini diperkuat oleh norma sosial yang membatasi legitimasi kritik: individu yang berada di luar lingkaran kekuasaan, atau yang kalah dalam suatu kontestasi, dianggap tidak berhak menyampaikan evaluasi terhadap keputusan penguasa. Akibatnya, ruang diskursus publik menjadi terbatas, sementara praktik kekuasaan yang menyimpang dari prinsip moral sering kali dibiarkan.
Dalam tradisi intelektual Islam, kritik dipandang sebagai mekanisme moral penting untuk menjaga integritas kekuasaan. Kekuasaan yang sehat bukanlah kekuasaan yang steril dari pengawasan masyarakat, melainkan kekuasaan yang mampu menyesuaikan diri dengan evaluasi kritis dari berbagai pihak. Tanpa mekanisme pengawasan semacam ini, kekuasaan berisiko menjadi ruang tertutup yang memfasilitasi kepentingan individu di atas kepentingan publik.
Kisah roti Ali bin Abi Thalib berfungsi sebagai cermin etis: beliau menggunakan sumber daya pribadinya untuk memastikan keadilan dan kesejahteraan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi. Yang dijaga bukan sekadar bahan makanan, melainkan batas moral yang jelas antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Kisah ini menjadi simbol bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan kesadaran etis yang konsisten, sekecil apa pun sumber daya yang digunakan.
Ironisnya, dalam banyak praktik kekuasaan modern, fasilitas publik tetap dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, dan sorot kekuasaan menutupi batas antara kepentingan umum dan kepentingan individu. Kisah sederhana tentang roti Ali bin Abi Thalib menjadi refleksi yang tajam mengenai etika kepemimpinan kontemporer.
Pertanyaan yang paling relevan bukan sekadar apakah aturan formal telah dilanggar, tetapi sejauh mana kesadaran amanah tetap hidup. Integritas seorang pemimpin diukur bukan dari kepatuhan terhadap prosedur, tetapi dari kapasitasnya untuk menahan diri dan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi. Jika Ali bin Abi Thalib menggunakan roti pribadinya untuk menegakkan amanah, maka tantangan terbesar bagi kepemimpinan modern adalah keberanian untuk menegakkan prinsip moral yang sama. (*)


