• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Kamis, Februari 19, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Belajar Dewasa dari Perbedaan

M. Risfan Sihaloho by M. Risfan Sihaloho
2026/02/18
in Esai, Islam, Nasional, Opini, Tilikan
0
Belajar Dewasa dari Perbedaan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: M. Risfan Sihaloho

Pemred TAJDID.ID

Hidup tak pernah menawarkan keseragaman. Sejak kita membuka mata, dunia sudah penuh dengan warna: warna pikiran, warna keyakinan, warna pilihan, bahkan warna cara mencintai dan membenci sesuatu. Kita tumbuh di tengah perbedaan—dan sering kali justru di situlah kita diuji.

Perbedaan bukanlah gangguan dalam perjalanan hidup. Ia adalah bagian dari desain kehidupan itu sendiri. Yang kerap menjadi masalah bukanlah perbedaannya, melainkan cara kita menyikapinya. Ketika ego lebih dominan daripada empati, perbedaan berubah menjadi ancaman. Ketika merasa paling benar lebih penting daripada mencari kebenaran, dialog berubah menjadi pertengkaran.

Padahal setiap perbedaan pendapat adalah undangan untuk belajar. Ia membuka jendela yang sebelumnya tertutup. Kita mungkin tidak selalu setuju, tetapi kita selalu bisa memahami. Dan memahami adalah bentuk kedewasaan yang lebih tinggi daripada sekadar memenangkan argumen.

Dalam banyak situasi, kita terlalu cepat memberi label: “salah”, “sesat”, “tidak satu frekuensi”, atau “bukan bagian dari kita”. Padahal bisa jadi yang berbeda itu hanya memiliki pengalaman hidup yang tidak sama. Setiap orang berbicara dari latar belakangnya, dari luka dan harapannya, dari pendidikan dan lingkungannya. Kita melihat dunia dari tempat kita berdiri. Maka wajar jika pemandangannya berbeda.

Orang yang benar-benar pandai tidak merasa terancam oleh perbedaan. Ia tidak sibuk memaksakan keyakinannya agar diikuti semua orang. Ia tahu bahwa kebenaran tidak perlu dibentak-bentakkan. Ia juga paham bahwa memaksakan kehendak sering kali hanya menunjukkan ketidakmatangan berpikir.

Kebijaksanaan justru tampak dalam kemampuan berjalan berdampingan dengan mereka yang tidak sepemikiran. Bukan berarti menggadaikan prinsip, melainkan memahami bahwa prinsip pribadi tidak harus menjadi standar tunggal bagi seluruh dunia. Kita bisa teguh tanpa harus keras. Kita bisa yakin tanpa harus merendahkan.

Di era media sosial, perbedaan terasa semakin tajam. Algoritma mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda pandangan, tetapi sayangnya tidak selalu disertai kedewasaan dalam berdiskusi. Komentar singkat sering kali lebih cepat daripada refleksi panjang. Emosi lebih dulu berbicara sebelum akal sehat mengambil peran.

Karena itu, menerima perbedaan bukan sekadar sikap sosial, melainkan latihan batin. Ia mengasah kesabaran, melatih kerendahan hati, dan memperluas cakrawala berpikir. Setiap kali kita mampu menahan diri untuk tidak menyudutkan orang lain, kita sedang membangun kualitas diri yang lebih matang.

Perbedaan membuat kita kaya—bukan dalam arti materi, tetapi dalam kedalaman rasa dan keluasan ilmu. Kita belajar bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih. Ada wilayah abu-abu yang membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar keberanian bersuara.

Kedewasaan sejati terlihat saat kita mampu berkata, “Saya berbeda denganmu, tetapi saya tetap menghargaimu.” Di situlah dialog menjadi mungkin. Di situlah persahabatan tetap terjaga. Dan di situlah masyarakat bisa tumbuh tanpa harus saling meniadakan.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras mempertahankan pendapatnya, melainkan siapa yang paling lapang menerima kenyataan bahwa dunia memang diciptakan beragam.

Jika kita mampu menikmati perbedaan dengan hati yang lapang, kita bukan hanya menjadi lebih bijak—kita juga menjadi lebih manusia.

Karena hidup yang kaya bukanlah hidup yang seragam, melainkan hidup yang mampu merangkul keberagaman dengan penuh kesadaran dan kedewasaan. (*)

Tags: KedewasaanPerbedaanTulisan M. Risfan Sihaloho
Previous Post

Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Related Posts

The Epstein Files dan Dramaturgi

The Epstein Files dan Dramaturgi

5 Februari 2026
114
Sirkel Pertemanan

Sirkel Pertemanan

30 Januari 2026
136
Antek

Antek

25 Januari 2026
150
Muhammadiyah Vibes

Muhammadiyah Vibes

19 Januari 2026
217
Merawat Nyali dalam Demokrasi

Merawat Nyali dalam Demokrasi

13 Januari 2026
149
Paling Bahagia, Apa Iya?

Paling Bahagia, Apa Iya?

8 Januari 2026
154

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In