Oleh: Jufri
Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Dalam beberapa hari terakhir berada di Malaysia, saya banyak memperhatikan cara orang berkomunikasi. Hal yang paling menarik bagi saya bukan gedungnya, bukan juga sistemnya, melainkan bahasanya.
Di sana, setiap kelompok etnis cenderung memakai bahasa masing-masing. Orang Melayu dengan Melayu, orang Tionghoa dengan Mandarin, orang India dengan Tamil. Ketika mereka berada dalam satu ruang dan tidak saling menguasai bahasa satu sama lain, yang dipilih justru Bahasa Inggris. Bukan Bahasa Melayu.
Pemandangan ini terasa kontras dengan Indonesia.
Di Indonesia, ketika orang dari suku apa pun bertemu, Batak, Jawa, Bugis, Minang, Dayak, Tionghoa, Arab, bahkan keturunan asing, dan terjadi hambatan bahasa, solusinya bukan Bahasa Belanda, bukan pula Bahasa Inggris, melainkan Bahasa Indonesia.
Dan di situ, saya merasakan sesuatu yang jarang kita sadari: kebanggaan yang sunyi sebagai orang Indonesia.
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat bicara. Ia adalah alat menyatu. Ia tidak lahir dari satu suku, tapi dari kesadaran kolektif. Ia tidak dibentuk untuk berkuasa, tapi untuk menyatukan.
Strukturnya sederhana. Tidak berbelit. Tidak membuat orang kecil merasa minder. Siapa pun bisa belajar. Siapa pun bisa masuk. Tidak perlu merasa asing.
Di situlah kehebatannya. Bahasa ini bekerja tanpa teriak. Ia tidak memaksa, tapi mengajak. Ia tidak menekan, tapi merangkul. Dalam diam, ia membangun kebangsaan.
Sementara di Malaysia, Bahasa Melayu hidup dalam tradisi yang kuat. Bahasa dijaga dengan adab dan rasa. Indah, halus, dan berlapis. Tapi justru karena itu, ia tidak selalu menjadi jalan temu bagi semua etnis.
Di Indonesia, Bahasa Indonesia telah menjadi rumah bersama. Kita boleh berbeda agama, suku, warna kulit, dan asal-usul. Tapi saat berbicara, kita setara. Kita tidak perlu meminjam bahasa penjajah. Kita tidak harus naik kelas dulu lewat bahasa global. Kita langsung masuk lewat bahasa sendiri.
Dan bagi saya, itu bukan hal kecil. Itu adalah hasil dari keputusan sejarah yang sangat cerdas: membangun bangsa lewat bahasa, bukan lewat darah atau etnis.
Karena itu, setelah melihat Malaysia, saya justru semakin mencintai Indonesia. Bukan karena kita paling hebat. Tapi karena kita paling berani menyatukan yang berbeda lewat bahasa.
Dan di sanalah, kebangsaan itu bekerja, bukan di podium, bukan di baliho, tapi di percakapan sehari-hari. Kita bangsa yang besar diantara karena satu bahasa , bahasa Indonesia. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








