• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Minggu, Januari 11, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Model Demokrasi Muhammadiyah: Alternatif Demokrasi Indonesia

(Refleksi Menuju Muktamar 49 Muhammadiyah)

Jufri by Jufri
2026/01/09
in Esai, Jufri Daily, Kemuhammadiyahan, Muhammadiyah, Opini
0
Model Demokrasi Muhammadiyah: Alternatif Demokrasi Indonesia

Gambar ilustrasi demokrasi ala Muhammadiyah.

Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

 

Demokrasi Indonesia hari ini tampak semakin bising, mahal, dan melelahkan. Pemilu dan pilkada langsung dirayakan sebagai puncak kedaulatan rakyat, tetapi ironi justru mengemuka: biaya politik melonjak, konflik sosial berulang, dan kualitas kepemimpinan kian dipertanyakan. Demokrasi prosedural hidup, namun substansinya—keadilan sosial—tertinggal jauh di belakang.

Dalam situasi seperti ini, menarik mencermati satu praktik demokrasi yang jarang dibahas negara, tetapi konsisten dijalankan lebih dari satu abad: demokrasi Muhammadiyah.

 

Demokrasi Langsung: Ramai, tetapi Rentan Disandera Modal

Demokrasi langsung kerap dipromosikan sebagai bentuk paling murni kedaulatan rakyat. Namun realitas menunjukkan, suara rakyat tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia disaring oleh modal, popularitas instan, dan manipulasi emosi. Kontestasi politik lebih sering ditentukan oleh kemampuan logistik, bukan kapasitas moral dan intelektual.

Akibatnya, pemimpin lahir bukan dari proses pematangan etika dan pengabdian, melainkan dari keberhasilan menaklukkan pasar politik. Demokrasi berubah menjadi kompetisi modal, sementara rakyat direduksi menjadi angka partisipasi. Polarisasi dipelihara, konflik dinormalisasi, dan persatuan kerap menjadi korban.

 

Muhammadiyah dan Demokrasi Permusyawaratan

Berbeda dengan negara, Muhammadiyah tidak menganut demokrasi langsung. Kepemimpinan lahir melalui permusyawaratan berjenjang, kaderisasi panjang, dan mekanisme perwakilan yang rasional. Popularitas bukan ukuran utama; integritas, kapasitas, dan rekam pengabdian justru menjadi penentu.

Dalam Muhammadiyah, demokrasi tidak diarahkan untuk merebut kekuasaan, melainkan untuk memastikan amanah dijalankan dengan benar. Jabatan tidak dipuja, tidak diwariskan, dan tidak dipermanenkan. Kritik bukan ancaman, tetapi bagian dari tanggung jawab kolektif.

 

Demokrasi yang Modern, Ketat, tapi Beradab

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2022 di Surakarta, Muhammadiyah membuktikan bahwa demokrasi permusyawaratan tidak berarti tertinggal secara teknologi. Pemilihan pimpinan dilaksanakan dengan sistem komputerisasi dan digitalisasi modern yang dilengkapi pengamanan barcode berlapis, ketat namun tetap elegan. Hasil pemilihan segera dapat diketahui begitu pemungutan suara selesai , tanpa ribet , tanpa drama dan terbuka .

Teknologi digunakan bukan untuk menggiring kehendak, melainkan untuk menjaga integritas proses. Prosesnya presisi, transparan, dan nyaris tanpa konflik. Sebuah kontras mencolok dengan pemilu dan pilkada nasional yang sering berujung sengketa, kegaduhan, dan ketidakpuasan berkepanjangan.

Pengalaman Surakarta itu bukan sekadar capaian teknis, melainkan pesan penting: demokrasi tidak harus gaduh untuk menjadi sah, dan tidak harus mahal untuk menjadi bermartabat. Teknologi dapat berjalan seiring dengan kedewasaan etika politik.

 

Lebih Dekat dengan Demokrasi Pancasila

Jika ditarik ke akar konstitusional, praktik demokrasi Muhammadiyah justru lebih selaras dengan Demokrasi Pancasila. Sila keempat tidak menuhankan suara terbanyak, tetapi menekankan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.

Ironisnya, negara yang mengaku berpancasila justru mengadopsi demokrasi liberal secara mentah, sementara Muhammadiyah—sebuah organisasi masyarakat—mempraktikkan demokrasi yang berdisiplin, bermoral, dan berorientasi kemaslahatan.

 

Menuju Muktamar 49 Muhammadiyah 

Menjelang Muktamar 49 Muhammadiyah tahun 2027, praktik demokrasi ini patut ditegaskan kembali. Sistem pemilihan yang telah diterapkan pada Muktamar ke-48 akan terus disempurnakan, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi etika, akuntabilitas, dan keteladanan.

Muhammadiyah tidak sedang menawarkan utopia, apalagi bermimpi menggantikan sistem negara. Namun di tengah demokrasi Indonesia yang kian kehilangan arah, Muhammadiyah menghadirkan alternatif yang nyata: demokrasi yang tenang, rasional, modern, dan berorientasi keadilan sosial.

 

Penutup

Demokrasi seharusnya menjadi jalan menuju kesejahteraan dan persatuan, bukan sekadar ritual lima tahunan yang mahal dan memecah belah. Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa demokrasi bisa dijalankan tanpa kegaduhan, tanpa kultus individu, dan tanpa transaksi murahan.

Dalam kelelahan publik terhadap demokrasi langsung yang semakin prosedural, model demokrasi Muhammadiyah layak dibaca sebagai cermin kritis—bahwa hikmat kebijaksanaan, etika, dan kemajuan teknologi dapat berjalan beriringan demi kemaslahatan bersama. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Demokrasi IndonesiaDemokrasi Muhammadiyahdemokrasi pancasilaTulisan Jufri
Previous Post

Menyemai Generasi Dunia: Langkah Smamio Gresik Menuju Pendidikan Internasional

Next Post

Labirin Demokrasi

Related Posts

Jangan Patah, Jangan Lumat

Jangan Patah, Jangan Lumat

10 Januari 2026
126
Bangsa Indonesia yang Mana yang Bahagia?

Bangsa Indonesia yang Mana yang Bahagia?

8 Januari 2026
134
MUI Sumut 2025–2030: Di Antara Musyawarah, Isu Kekuasaan, dan Beban Amanah

MUI Sumut 2025–2030: Di Antara Musyawarah, Isu Kekuasaan, dan Beban Amanah

29 Desember 2025
155
Belajar dan Malu pada Belanda

Belajar dan Malu pada Belanda

27 Desember 2025
128
Tetaplah Bodoh, Jangan Pintar

Tetaplah Bodoh, Jangan Pintar

24 Desember 2025
130
Puisi~puisi Fiana Winata (5)

Buya HAMKA: Ulama yang Tidak Silau oleh Jabatan

23 Desember 2025
116
Next Post
Labirin Demokrasi

Labirin Demokrasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In