Rabu, Juli 1, 2026
TAJDID.ID
  • Login
  • Register
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Sosiolog: Pertanian Indonesia Mati Karena Obsesi Istilah yang Tak Jelas

Mujaddid by Mujaddid
2025/07/24
in Uncategorized
Reading Time: 3 mins read
0
Sosiolog: Pertanian Indonesia Mati Karena Obsesi Istilah yang Tak Jelas
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

 

Dosen FISIP UMSU kritik wacana “Petani Milenial” hingga “ Smart Farming Era 5.0” sebagai bentuk pembiusan ideologis dan ungkap ketakberdayaan Negara wujudkan swasembada pangan

TAJDID.ID~Medan || Retorika pembangunan pertanian di Indonesia semakin jauh dari kenyataan yang dihadapi petani di lapangan. Istilah-istilah seperti petani milenial, era Smart Farming 5.0, teknologi tepat guna, dan kearifan lokal justru dianggap sebagai bentuk obsesi semu yang menutupi kegagalan negara dalam mewujudkan swasembada dan kedaulatan pangan.

Hal itu disampaikan oleh Shohibul Anshor Siregar, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), dalam wawancara khusus dengan tajdid.id, Kamis (24/7).

“Di balik istilah-istilah futuristik yang digunakan dalam wacana pertanian, kita menyaksikan paradoks yang menyakitkan: petani tak beroleh lahan, pupuk menjadi arena kebanditan, dan negara tak berdaya mengamankan kedaulatan pangannya sendiri,” ujar Siregar dengan nada prihatin.

 

Bahasa Bombastis, Realitas Tragis

Menurut Siregar, istilah “petani milenial” bukanlah solusi, melainkan bentuk interpelasi ideologis terhadap generasi muda agar ikut masuk ke dalam sistem pertanian yang rapuh dan timpang. “Mereka dijadikan objek dari wacana transformasi, bukan subjek perjuangan agraria. Padahal tanpa akses tanah, mereka hanya menjadi buruh tani digital,” jelasnya, mengacu pada teori Louis Althusser mengenai ideologi dan aparatus negara.

Ia menyebut, “Smart Farming Era 5.0” dalam konteks pertanian Indonesia hanya menjadi hiasan proyek-proyek teknologi yang tak menjawab problem struktural. “Apa gunanya drone pemantau kelembaban jika lahan milik sendiri pun tak ada? Ini seperti menjual mimpi di atas tanah yang tak dimiliki,” tegasnya.

Ketidakberdayaan Negara: Swasembada atau Sekadar Mimpi?

Lebih jauh, Siregar menekankan bahwa kegagalan mewujudkan swasembada pangan bukan semata karena inefisiensi teknis, melainkan karena kegagalan politik dan struktural.

“Swasembada pangan adalah soal kedaulatan, bukan sekadar soal produksi. Negara gagal menciptakan sistem pangan yang membebaskan petani dari ketergantungan dan penindasan,” ujarnya.

Salah satu bukti paling telanjang, menurut Siregar, adalah ketiadaan akses lahan bagi sebagian besar petani kecil. Reforma agraria yang seharusnya menjadi agenda pokok justru digantikan oleh program sertifikasi tanah yang tidak menyentuh ketimpangan penguasaan.

“Petani hari ini tidak lebih dari penyewa di atas tanah yang seharusnya menjadi hak hidupnya. Mereka tidak punya posisi tawar. Dalam situasi ini, bicara tentang swasembada hanyalah pengulangan propaganda,” katanya.

Pupuk dan Kartel Kebanditan

Selain soal tanah, Siregar juga menyoroti persoalan pupuk bersubsidi yang tak kunjung terselesaikan. “Pupuk bukan lagi alat produksi, tetapi ladang pemburuan rente. Ada kartel, ada mafia, ada permainan sistemik yang tidak disentuh oleh hukum. Petani hanya menjadi korban kebijakan yang tak berpihak,” paparnya.

Ia menyebutkan bahwa pupuk bersubsidi sering tidak tersedia di musim tanam, dijual lebih mahal dari harga eceran tertinggi, atau bahkan ‘dipetik’ terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang memiliki koneksi. “Di banyak tempat, distribusi pupuk adalah cerminan bagaimana negara kehilangan kendali atas salah satu komponen paling vital dalam produksi pangan,” katanya.

 

Narasi Kosong dan Hegemoni Wacana

Dalam pandangannya, istilah-istilah seperti “kearifan lokal” pun telah dikooptasi dan direduksi menjadi jargon yang kosong makna. “Kita melihat bagaimana nilai-nilai kearifan agraris hanya menjadi ornamen proyek CSR atau sekadar festival. Ia tak lagi menjadi kekuatan pengetahuan rakyat, melainkan eksotisme yang dijual kepada donor,” tambahnya, dengan merujuk pada analisis diskursus Michel Foucault.

Ia menggarisbawahi bahwa wacana pertanian yang kini mendominasi bukan berasal dari petani, tetapi dari institusi yang mengatur mereka. “Ini bukan wacana pembebasan, tapi penjinakan. Kita butuh bahasa baru, bukan hanya istilah baru,” tegasnya.

Mendesak Agenda Keadilan Agraria dan Kedaulatan Pangan

Menutup pernyataannya, Siregar menegaskan bahwa satu-satunya jalan menyelamatkan pertanian Indonesia adalah kembali kepada prinsip keadilan agraria dan kedaulatan pangan. “Reforma agraria sejati, perlindungan harga hasil tani, kedaulatan atas input produksi, dan kontrol rakyat terhadap tanah adalah prasyarat mutlak,” katanya.

Ia menyerukan agar negara tidak lagi menyembunyikan kegagalan melalui istilah-istilah palsu, dan mulai bicara jujur kepada rakyat.

“Pertanian tak akan hidup hanya dengan wacana dan label futuristik. Ia hanya akan hidup jika negara berpihak pada petani, mengembalikan tanahnya, dan melindungi kedaulatan pangannya dari cengkeraman korporasi dan spekulan.” pungkasnya. (*)

Tags: Pertanian IndonesiaPetani Milenialshohibul anshor siregarSmart Farming 5.0
Previous Post

Bupati Simalungun Dukung Agenda Muktamar 49 Muhammadiyah

Next Post

Komitmen Produksi Halal, Yayasan Matahari Aktifkan Pendamping di 34 Provinsi

Related Posts

Paman Sam: Halal No, Thayyib Yes

Paman Sam: Halal No, Thayyib Yes

26 Februari 2026
137
Bahaya Mikroplastik Kian Nyata, Akademisi UM Bandung Ingatkan Ancaman Kesehatan Global

Bahaya Mikroplastik Kian Nyata, Akademisi UM Bandung Ingatkan Ancaman Kesehatan Global

27 November 2025
135
Ethics of Care: Etika Pejabat Terkikis, Jabatan Disalahgunakan

Ethics of Care Kritik Proyek Sekolah Garuda: Pemerintah Terjebak dalam Obsesi Infrastruktur

12 Oktober 2025
143
Pentingnya Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya untuk Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan di Sawahlunto

Pentingnya Kolaborasi Lintas Agama dan Budaya untuk Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan di Sawahlunto

23 Februari 2025
180
Ketua IKA UMSU Jabodetabek Sampaikan Ucapan Selamat kepada Ribuan Wisudawan UMSU

Ketua IKA UMSU Jabodetabek Sampaikan Ucapan Selamat kepada Ribuan Wisudawan UMSU

18 Desember 2024
195
Pimnas 2024: UMSU Satu-Satunya PTS di Sumut yang Raih Medali

Pimnas 2024: UMSU Satu-Satunya PTS di Sumut yang Raih Medali

22 Oktober 2024
154
Next Post
Komitmen Produksi Halal, Yayasan Matahari Aktifkan Pendamping di 34 Provinsi

Komitmen Produksi Halal, Yayasan Matahari Aktifkan Pendamping di 34 Provinsi

Ketua PWM Jateng Tafsir Raih Penghargaan Tokoh Pamomong Jawa Tengah

Ketua PWM Jateng Tafsir Raih Penghargaan Tokoh Pamomong Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    20077 shares
    Share 8031 Tweet 5019
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    11914 shares
    Share 4766 Tweet 2979
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    9184 shares
    Share 3674 Tweet 2296
  • Pasca Putusan MK Soal IKN, Fordek FH PTM se-Indonesia Desak Audit Investigatif dan Pertanggungjawaban Pemerintah

    6307 shares
    Share 2523 Tweet 1577
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    6098 shares
    Share 2439 Tweet 1525

OPINI

Potret Reformasi Polri
Nasional

Potret Reformasi Polri

30 Juni 2026
108
Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat
Esai

Guru BK Pelopor Bakat, Bukan Pengawas Sekat

29 Juni 2026
117
Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital
Esai

Peran Guru Menghadapi Tantangan di Era Digital

28 Juni 2026
111
AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia
Esai

AI Mulai Masuk Sekolah, Jadi Topik Hangat di Dunia Pendidikan Indonesia

28 Juni 2026
116
Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?
Esai

Mengapa Kita Selalu Menyukai Kisah Perjalanan?

28 Juni 2026
111
Bekas Sujud yang Membangun Peradaban
'Aisyiyah

Bekas Sujud yang Membangun Peradaban

26 Juni 2026
117

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan