Oleh: M. Risfan Sihaloho
Di tengah gersangnya tradisi meritokrasi dan karut-marutnya budaya birokrasi kita, lahir sebuah sekte baru yang bergerak di bawah radar, namun dampaknya nyata: yakni “engkolisme”.
Istilah khas Medan ini bukan sedang bicara soal menghidupkan mesin sepeda motor tua, melainkan seni memompa ego atasan hingga melambung ke langit ketujuh.
Hari ini, di ruang-ruang rapat pemerintahan, di lorong-lorong organisasi kemasyarakatan, hingga di mimbar-mimbar akademik, “ngengkol” telah bertransformasi dari sekadar perilaku menjilat menjadi sebuah soft-skill yang jauh lebih sakti ketimbang sertifikasi profesional manapun.
Pujian Kosong
Secara struktural, engkolisme adalah tarian asimetris. Si bawahan berperan sebagai tukang pompa (pengengkol), dan si atasan adalah ban kempis yang butuh dicitrakan berisi. Sungguh ini adalah simbiosis mutualisme yang menjijikkan: si pengengkol mendapat akses kekuasaan, sementara si atasan mendapat asupan dopamin lewat sanjungan palsu.
Yang menarik—sekaligus tragis—adalah pengakuan jujur para penguasa yang kerap berujar:
“Taunya kita lagi diengkol, tapi syor (senang) juga kita.”
Pernyataan ini adalah lonceng kematian bagi akal sehat. Ketika seorang pemimpin sadar sedang dibohongi namun memilih untuk menikmatinya, di sanalah feodalisme modern bersemi. Kita sedang membangun menara kekuasaan di atas fondasi “jual cakap” dan “jual kecap”.
Baca juga: Gemar Memuji dan Senang Disanjung itu Sama-sama Berbahaya
Reinkarnasi Kaum Sofis
Jika di zaman Yunani Kuno kaum Sofis dihujat karena memutarbalikkan logika demi bayaran, maka para praktisi engkolisme hari ini adalah reinkarnasi mereka yang lebih canggih. Mereka tidak butuh visi, misi, apalagi integritas. Cukup kuasai teknik berikut:
Pertama, timing yang tepat: Kapan harus memuji warna dasi bos atau tertawa paling keras untuk leluconnya yang garing.
Kedua, pilihan diksi yang menghanyutkan: Membungkus kegagalan atasan menjadi “langkah strategis yang belum dipahami publik”.
Ketiga, pasang wajah tanpa dosa: Tetap konsisten memuja meski yang dipuja sedang menabrak nalar.
Di dunia profesionalisme sejati, engkolisme adalah sampah. Namun dalam ekosistem kita yang pragmatis, mereka yang konsisten “ngengkol” rezim justru lebih cepat naik pangkat ketimbang mereka yang berdarah-darah bekerja tapi “kaku” berkomunikasi (baca: jujur).
Penutup
Engkolisme adalah bukti bahwa feodalisme tidak pernah benar-benar mati; ia hanya berganti baju menjadi etiket organisasi dan birokrasi. Kita sedang membiarkan orang-orang medioker menguasai hajat hidup orang banyak hanya karena mereka lihai bersilat lidah dan pandai memainkan emosi penguasa.
Selama “Syor” masih menjadi indikator keberhasilan ketimbang “Output”, maka jangan harap inovasi akan lahir. Kita akan terus terjebak dalam lingkaran setan para penjilat.
Pertanyaannya: sampai kapan kita mau dipimpin oleh mereka yang mabuk karena asap “engkol” anak buahnya sendiri?
Sudah saatnya kita berhenti memompa ban yang bocor moral, sebelum seluruh kendaraan republik ini masuk ke jurang kenaifan.
Lagi pula, bukan kah sekarang eranya metik? Jadi lucu saja melihat masih banyak yang suka “ngengkol” 😀 (*)

