Oleh : Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Sejak Prof .Akrim dikukuhkan sebagai Rektor UMSU pada Selasa, 28 April 2026 yang lalu, ternyata banyak respons bermunculan dari berbagai kalangan—baik dari warga Muhammadiyah maupun masyarakat pada umumnya. Respons itu hadir dalam beragam bentuk: harapan, aspirasi, bahkan ekspektasi yang kadang berbeda satu sama lain. Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang menarik. Ia menunjukkan bahwa keberadaan UMSU tidak berada di ruang sunyi, tetapi diperhatikan, dinilai, dan diharapkan oleh banyak pihak.
Ada yang menarik dari cara sebuah kampus tumbuh. Ia tidak hanya bergerak melalui gedung-gedung baru, akreditasi yang meningkat, atau angka-angka yang membanggakan. Ia hidup dari gagasan, dari nilai, dan dari kesadaran kolektif bahwa apa yang sedang dibangun hari ini adalah titipan untuk masa depan.
Di titik itulah, Prof .Akrim meletakkan satu fondasi penting: keberlanjutan. Bukan sekadar melanjutkan apa yang sudah ada, tetapi menjaga arah, merawat nilai, dan sekaligus meningkatkan peran. Sebuah kesadaran bahwa perjalanan UMSU tidak boleh terhenti pada capaian, tetapi harus terus bergerak pada makna.
UMSU telah melewati banyak fase. Dari membangun fondasi kelembagaan, memperkuat tata kelola, hingga menegaskan diri sebagai kampus yang berkemajuan. Namun seperti dalam setiap perjalanan besar, tantangan sesungguhnya bukan pada saat memulai, melainkan pada saat menjaga ritme agar tetap hidup dan relevan.
Baca juga:
Keberlanjutan akademik menjadi pilar pertama. Dunia pendidikan tinggi hari ini tidak lagi cukup hanya melahirkan lulusan. Ia dituntut melahirkan pemikir, pencipta solusi, dan penjaga nilai. Akademik di UMSU harus terus tumbuh—tidak hanya dalam angka publikasi atau peringkat, tetapi dalam kedalaman makna dan kebermanfaatan. Ilmu harus hadir sebagai cahaya, bukan sekadar informasi.
Namun ilmu yang tidak menyentuh realitas akan kehilangan ruhnya. Karena itu, keberlanjutan sosial menjadi pilar kedua. UMSU tidak boleh menjadi menara gading. Ia harus hadir di tengah masyarakat, merasakan denyutnya, memahami problemnya, dan ikut menawarkan jalan keluar. Kampus harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat.
Di sinilah UMSU memiliki kekhasan yang tidak dimiliki semua perguruan tinggi: ia adalah bagian dari gerakan Muhammadiyah. Ini bukan sekadar identitas, tetapi tanggung jawab sejarah. UMSU bukan hanya institusi akademik, tetapi juga penopang gerakan dakwah dan tajdid. Nilai-nilai pencerahan harus mengalir dalam setiap aktivitasnya.
Peran ini menempatkan rektor pada posisi yang tidak sederhana. Prof. Akrim tidak hanya memimpin kampus sebagai organisasi, tetapi juga sebagai simpul yang menjembatani berbagai kepentingan. Di satu sisi, ada dinamika internal Muhammadiyah dengan beragam aspirasi dan sudut pandang. Di sisi lain, ada kepentingan eksternal, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak, yang juga berinteraksi dengan Muhammadiyah.
Menjembatani keduanya bukan perkara teknis, tetapi kebijaksanaan. Dibutuhkan kemampuan membaca arah, menjaga keseimbangan, dan memastikan bahwa setiap langkah tetap berpijak pada nilai. Sebab menjembatani bukan berarti mengaburkan identitas, melainkan mempertemukan kepentingan tanpa kehilangan prinsip.
Di tengah perjalanan itu, kritik dan masukan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. UMSU tidak boleh alergi terhadap suara-suara yang berbeda, karena justru dari sanalah proses pendewasaan berlangsung. Kritik, dengan berbagai faktor yang melatarbelakanginya, harus dijawab bukan dengan defensif, tetapi dengan kerja dan prestasi. Inilah pelajaran penting yang dapat kita lihat dari perjalanan Prof Agussani, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia menunjukkan bahwa jawaban terbaik atas kritik adalah bukti nyata.
Sementara itu, Prof. Akrim, meskipun merupakan keberlanjutan dari kepemimpinan sebelumnya, tetaplah pribadi yang berbeda. Ia membawa karakter, gaya, dan pendekatan kepemimpinan yang khas. Dan di situlah dinamika menjadi sehat—keberlanjutan tidak berarti keseragaman, tetapi kesinambungan arah dengan keberagaman cara.
Di titik ini, kita belajar bahwa keberlanjutan bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal kepemimpinan. Kepemimpinan yang tidak reaktif, tetapi reflektif. Tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga matang secara moral.
Perjalanan menuju World Class University pun menemukan konteksnya. Menjadi kampus kelas dunia bukan sekadar soal pengakuan global, tetapi tentang kemampuan menghadirkan standar tinggi tanpa tercerabut dari akar. UMSU tidak perlu menjadi seperti yang lain untuk diakui dunia. Ia justru harus menjadi dirinya sendiri—dengan nilai Muhammadiyah yang kuat, dengan komitmen sosial yang nyata, dan dengan kualitas akademik yang terus meningkat.
Keberlanjutan, pada akhirnya, adalah tentang menjaga api. Api semangat, api nilai, dan api pengabdian. Ia tidak boleh padam, tetapi juga tidak boleh dibiarkan tanpa arah. Ia harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.
Dan mungkin benar, bahwa yang paling penting bukanlah seberapa jauh kita melangkah, tetapi apakah langkah itu tetap berada di jalan yang benar. UMSU hari ini sedang menapaki jalan itu—jalan yang tidak selalu mudah, tetapi penuh makna.
Semoga api itu terus menyala. Semoga jembatan-jembatan itu terus terbangun. Dan semoga UMSU tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi cahaya, bagi umat, bangsa, dan dunia.
Dan seperti bisik – bisik disekitar saya waktu pengukuhan Selasa itu, mereka berharap dibawah kepemimpinan rektor termuda dalam sejarah UMSU ini, Prof Akrim akan mampu melanjutkan dan bahkan melebihi pencapaian Prof . Agussani. Karena seperti pidato perdana Prof Akrim , seorang guru pasti ingin agar muridnya lebih baik dari dirinya , walaupun melanjutkan kepemimpinan yang sukses itu tidak mudah, namun Prof Akrim Insya Allah mampu dan bisa lebih baik. (*)

