• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Kamis, April 2, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Magnet Investor, Tanah yang Menghilang

Jejak investasi dan Pergeseran Ruang Hidup di Pesisir Timur Sumatera

Shohibul Anshor Siregar by Shohibul Anshor Siregar
2026/04/01
in Daerah, Nasional, Opini, Ulasan
0
Magnet Investor, Tanah yang Menghilang
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Shohibul Anshor Siregar

 

Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan lahan yang kini tak lagi sepenuhnya dikenali oleh pemilik lamanya. Di sebuah desa di pesisir timur Sumatera Utara, suara mesin terdengar lebih awal daripada kokok ayam. Truk-truk keluar masuk, membawa tanah yang diratakan, sementara pagar seng berdiri seperti garis baru yang memisahkan masa lalu dan masa kini.

Di Jakarta, pada waktu yang hampir bersamaan, optimisme pembangunan kembali diumumkan. Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa investasi dari Jepang terus mengalir deras ke Indonesia. Angkanya ratusan triliun rupiah. Kalimat itu disusun rapi, penuh keyakinan, dan terdengar seperti janji masa depan yang tak terbantahkan.

Namun di desa ini, masa depan tidak datang sebagai janji. Ia datang sebagai perubahan yang sulit dipahami sepenuhnya.

Sutrisno—bukan nama sebenarnya—berdiri di tepi lahannya yang kini terpotong oleh jalur akses proyek. Ia menunjuk ke arah tanah yang dulu ditanami jagung dan padi, lalu berhenti sejenak, seolah mencoba memastikan bahwa yang dilihatnya benar-benar nyata.

“Dulu ini semua satu hamparan,” katanya pelan. “Sekarang sudah beda. Katanya sudah masuk kawasan.”

Kawasan yang dimaksudnya merujuk pada pengembangan industri yang terhubung dengan pelabuhan besar di wilayah Kabupaten Batubara. Dalam dokumen resmi, kawasan ini adalah bagian dari strategi nasional untuk mempercepat industrialisasi dan menarik investasi asing. Di atas kertas, semuanya tampak sistematis: penetapan zona, penerbitan izin, pembangunan infrastruktur, dan masuknya modal.

Proses itu berjalan cepat. Terlalu cepat, menurut sebagian warga.

Perubahan status lahan tidak selalu diikuti dengan pemahaman yang utuh di tingkat lokal. Sosialisasi dilakukan, tetapi seringkali dalam bahasa yang tidak sepenuhnya dimengerti. Dokumen dibacakan, tetapi tidak selalu dipahami. Ketika tanda tangan diminta, banyak yang mengira itu hanya bagian dari administrasi biasa.

Beberapa menerima kompensasi. Sebagian menolak. Sebagian lainnya berada di antara keduanya—tidak sepenuhnya setuju, tetapi tidak memiliki cukup kekuatan untuk menolak.

Di sinilah konflik tidak muncul sebagai ledakan, melainkan sebagai tekanan yang terus berlangsung.

Menurut catatan Konsorsium Pembaruan Agraria, konflik agraria di Indonesia tidak pernah benar-benar surut. Angkanya berkisar ratusan kasus setiap tahun, tersebar di berbagai wilayah, dengan pola yang serupa: tumpang tindih klaim, perbedaan nilai tanah, dan ketimpangan akses terhadap hukum.

Di Sumatera Utara, konflik ini sering tersebar dalam bentuk-bentuk kecil yang jarang menarik perhatian nasional. Tidak ada bentrokan besar. Tidak ada peristiwa dramatis yang mudah dijadikan headline. Yang ada adalah perubahan bertahap yang menggeser kehidupan sehari-hari.

Seorang tokoh masyarakat di wilayah perkebunan Deli Serdang, yang meminta namanya tidak disebutkan, merumuskan situasinya dengan kalimat sederhana.

“Perusahaan datang dengan izin. Kami tinggal dengan sejarah.”

Kalimat itu menangkap inti persoalan yang sering terlewat: ketimpangan antara legalitas formal dan legitimasi sosial. Di atas kertas, izin menjadi dasar utama. Di lapangan, ingatan kolektif dan praktik turun-temurun tidak selalu diakui sebagai bukti yang setara.

Negara berada di tengah situasi ini, tetapi tidak selalu netral. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan investasi mengalami percepatan yang signifikan. Sistem perizinan dipangkas, regulasi disederhanakan, dan proyek strategis didorong untuk segera berjalan.

Dalam perspektif ekonomi, langkah ini masuk akal. Investasi diperlukan untuk pertumbuhan. Infrastruktur membutuhkan pembiayaan. Lapangan kerja harus diciptakan.

Namun di tingkat lokal, percepatan ini sering kali berarti bahwa aspek sosial harus menyesuaikan diri dengan ritme kebijakan, bukan sebaliknya.

Seorang pejabat daerah, yang meminta anonim, mengakui adanya tekanan tersebut.

“Target investasi itu jelas. Kadang kita harus mengejar waktu. Soal sosial, ya diupayakan mengikuti.”

Dalam praktiknya, “mengikuti” sering berarti terlambat.

Dampak pembangunan tidak selalu langsung terlihat. Ia muncul perlahan, dalam bentuk perubahan yang tampaknya kecil tetapi signifikan. Air yang tidak lagi sejernih dulu. Jarak melaut yang semakin jauh. Lahan yang tidak lagi produktif.

Seorang nelayan di pesisir Batubara menceritakan bagaimana tangkapan ikan berubah dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu dekat saja sudah dapat. Sekarang harus lebih jauh. Air juga beda rasanya.”

Perubahan ini tidak tercatat dalam laporan investasi. Ia tidak muncul dalam grafik pertumbuhan. Tetapi bagi mereka yang mengalaminya, perubahan ini menentukan kualitas hidup.

Sementara itu, di kawasan industri yang berkembang, pekerjaan memang tersedia. Namun tidak selalu dalam bentuk yang stabil. Kontrak jangka pendek, upah minimum, dan ketidakpastian menjadi bagian dari realitas baru.

Rudi, seorang buruh muda, menggambarkannya tanpa retorika.

“Kerja ada, tapi belum tentu besok masih ada.”

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Investasi meningkat, dan sektor industri berkembang. Namun data yang sama juga menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja masih berada dalam kondisi rentan.

Di sinilah paradoks pembangunan muncul. Pertumbuhan terjadi, tetapi tidak selalu diikuti oleh distribusi yang merata. Kesempatan ada, tetapi tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk memanfaatkannya.

Ketika semua ini disatukan, pola yang lebih besar mulai terlihat. Pembangunan bukan hanya soal proyek dan angka. Ia adalah proses reorganisasi ruang, distribusi ulang sumber daya, dan penataan ulang hubungan sosial.

Konflik yang muncul bukan sekadar gangguan. Ia adalah bagian dari proses itu sendiri.

Namun konflik ini sering disamarkan oleh bahasa. Dalam dokumen resmi, istilah yang digunakan cenderung menenangkan: penyesuaian lahan, penataan kawasan, optimalisasi ruang. Kata-kata ini tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang terjadi.

Bahasa, dalam hal ini, menjadi alat untuk menjaga stabilitas narasi.

Sementara itu, di lapangan, stabilitas itu terasa rapuh.

Pembangunan akan terus berjalan. Kawasan industri akan berkembang. Investasi akan tetap datang, dari Jepang dan negara lain yang melihat Indonesia sebagai peluang.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pembangunan perlu dilakukan. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memahami dampaknya secara utuh.

Jika kita hanya melihat angka, kita akan melihat keberhasilan.

Jika kita melihat ke lapangan, kita akan melihat kompleksitas.

Dan mungkin, di antara keduanya, terdapat sesuatu yang selama ini tidak benar-benar ingin kita lihat: bahwa setiap angka besar selalu memiliki bayangan—dan bayangan itu adalah mereka yang harus menyesuaikan diri agar angka itu bisa ada. (*)

 

Penulis adalah Dosen FISIP UMSU dan Koordinator Umum n’BASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya)

Tags: investasiInvestorKeadilan SosialPesisir Timur Sumaterashohibul anshor siregar
Previous Post

Ber-Muhammadiyah: Sabar, Lapang Dada, dan Tetap Menjadi Mitra Kritis Bangsa

Next Post

Halalbihalal Teras Baca Agmarani: Literasi Menyatukan, Silaturahmi Menguatkan

Related Posts

Kegagalan Sistemik dan Devaluasi Gotong Royong Hambat Pembangunan Nasional

Kegagalan Sistemik dan Devaluasi Gotong Royong Hambat Pembangunan Nasional

13 Maret 2026
131
Sejarah 1400 Tahun Upaya Rekonsiliasi Sunni-Syiah yang Terlupakan

Sejarah 1400 Tahun Upaya Rekonsiliasi Sunni-Syiah yang Terlupakan

7 Maret 2026
125
Babi, Agama, dan Politik Identitas di Era Global

Babi, Agama, dan Politik Identitas di Era Global

4 Maret 2026
143
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

22 Februari 2026
160
Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

13 Januari 2026
172
Shohibul: Protes Kampus terhadap Rezim Jokowi Penting, Tapi Sudah Sangat Terlambat

Oase Musyawarah: Menjemput Kembali Marwah Sila Keempat Pancasila dalam Arsitektur Kekuasaan

7 Januari 2026
142
Next Post
Halalbihalal Teras Baca Agmarani: Literasi Menyatukan, Silaturahmi Menguatkan

Halalbihalal Teras Baca Agmarani: Literasi Menyatukan, Silaturahmi Menguatkan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In