• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Rabu, Maret 25, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Alumni Madrasah Ramadan

Farid Wajdi by Farid Wajdi
2026/03/25
in Islam, Keislaman, Nasional, Opini
0
Alumni Madrasah Ramadan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Farid Wajdi

 

Ramadan tidak sekadar singgah sebagai ritus tahunan. Bulan suci ini bekerja seperti ruang pembinaan yang mengguncang kebiasaan, menata ulang kesadaran, lalu menuntut perubahan yang nyata. Selama sebulan penuh, manusia dilatih menahan diri, menundukkan hasrat, memperhalus empati, serta mendekatkan diri kepada Tuhan dalam intensitas yang jarang ditemukan di waktu lain. Dari proses itu lahir satu klaim identitas yang sering diucapkan, tetapi jarang diuji secara serius: alumni Madrasah Ramadan.

Klaim tersebut tidak sederhana. Status alumni menuntut bukti, bukan sekadar partisipasi. Dalam kerangka ini, Ramadan bukan peristiwa seremonial, melainkan institusi pembentuk karakter.

Abu Hamid al-Ghazali melalui Ihya Ulum al-Din (2005) menempatkan ibadah sebagai sarana penyucian jiwa yang berujung pada perubahan akhlak. Tanpa perubahan tersebut, ibadah hanya menjadi rutinitas yang kosong makna. Kritik ini tetap relevan ketika praktik keagamaan sering kali berhenti pada simbol dan kehilangan daya transformasi.

Arah perubahan yang diharapkan telah ditegaskan dalam Al-Qur’an, yang mengaitkan puasa dengan pembentukan takwa. M. Quraish Shihab (2002) memaknai takwa sebagai kesadaran moral yang aktif, yang membimbing manusia dalam setiap pilihan hidup. Takwa bukan identitas yang diklaim, melainkan kualitas yang teruji dalam tindakan. Dalam titik ini, istilah alumni Ramadan kehilangan makna ketika tidak diikuti oleh perubahan konkret dalam perilaku sosial.

Keberagamaan Musiman
Problem utama muncul ketika Ramadan direduksi menjadi momentum emosional. Antusiasme meningkat drastis selama bulan suci, tetapi merosot tajam setelahnya. Masjid kembali sepi, sedekah berkurang, dan disiplin spiritual memudar.

Yusuf al-Qaradawi (1995) mengkritik fenomena keberagamaan musiman sebagai bentuk kegagalan internalisasi nilai. Kritik tersebut menyasar kecenderungan menjadikan Ramadan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai titik awal transformasi. Dalam situasi ini, klaim sebagai alumni berubah menjadi ilusi kolektif yang menenangkan, tetapi tidak mengubah apa pun.

Pendekatan analitik menunjukkan setidaknya tiga indikator yang dapat digunakan untuk membongkar klaim tersebut.

Pertama, kontinuitas ibadah. Ramadan melatih manusia hidup dalam disiplin spiritual yang ketat. Fazlur Rahman (1982) menegaskan ibadah memiliki fungsi etis yang berkelanjutan. Ketika praktik ibadah berhenti bersamaan dengan berakhirnya Ramadan, kegagalan tidak terletak pada kurangnya ritual, melainkan pada absennya internalisasi. Kontinuitas menjadi ukuran yang lebih jujur daripada intensitas sesaat.

Kedua, kepekaan sosial. Pengalaman lapar selama puasa seharusnya membuka kesadaran terhadap ketimpangan sosial. Namun, kesadaran tersebut sering kali bersifat temporer.

Amartya Sen (1999) menekankan empati sebagai fondasi keadilan. Tanpa keberlanjutan empati dalam tindakan sosial, pengalaman Ramadan hanya menghasilkan sensasi moral sesaat. Alumni yang autentik menjadikan solidaritas sebagai prinsip hidup, bukan sekadar respons emosional musiman.

Ketiga, pengendalian diri. Puasa mengajarkan manusia menahan dorongan impulsif dan mengelola emosi.

Ibn Qayyim al-Jawziyya (2003) menempatkan kontrol diri sebagai inti akhlak. Kegagalan menjaga emosi setelah Ramadan menunjukkan latihan tersebut tidak berbekas. Dalam banyak kasus, kemarahan, keserakahan, dan egoisme kembali mendominasi, seolah tidak pernah ada proses pembinaan sebelumnya.

Karena itu, Ramadan dapat dibaca sebagai simulasi kehidupan ideal yang sering gagal direplikasi. Malik Badri (2000) mengaitkan praktik keagamaan dengan pembentukan keseimbangan batin. Lingkungan Ramadan menyediakan kondisi optimal bagi pembentukan karakter. Kegagalan mempertahankan nilai setelahnya memperlihatkan ketergantungan pada suasana, bukan pada kesadaran. Ketika lingkungan berubah, nilai pun ikut runtuh.

Integrasi Iman dan Kemanusiaan
Kritik menjadi semakin tajam ketika dikaitkan dengan realitas sosial yang lebih luas. Korupsi, ketidakadilan, serta lemahnya integritas tetap berlangsung bahkan di tengah masyarakat yang mayoritas menjalani Ramadan setiap tahun.

Nurcholish Madjid (1992) menekankan pentingnya integrasi iman dan kemanusiaan dalam kehidupan publik. Ketika nilai Ramadan tidak tercermin dalam praktik sosial, terjadi pemisahan antara religiositas dan moralitas. Fenomena tersebut menunjukkan kegagalan struktural dalam menjadikan agama sebagai kekuatan etis.

Dari perspektif etika kebajikan, problem ini dapat dijelaskan melalui absennya pembentukan karakter yang konsisten.

Alasdair MacIntyre (1981) menegaskan karakter terbentuk melalui kebiasaan yang berulang. Ramadan menyediakan momentum pembiasaan, tetapi tidak menjamin keberlanjutan. Tanpa komitmen menjaga kebiasaan tersebut, seluruh proses hanya menjadi pengalaman temporer yang tidak mengubah struktur kepribadian.

Idulfitri sering dirayakan sebagai simbol kemenangan. Namun, tanpa perubahan yang bertahan, kemenangan tersebut kehilangan substansi. Perayaan berubah menjadi formalitas, sementara nilai yang seharusnya dijaga perlahan memudar.

Dalam konteks ini, istilah alumni Ramadan layak dipertanyakan secara kritis: apakah benar terjadi kelulusan, atau hanya sekadar klaim tanpa dasar?

Refleksi ini menuntut kejujuran yang tidak nyaman. Pertanyaan yang muncul bukan lagi seberapa khusyuk ibadah selama Ramadan, melainkan seberapa jauh nilai tersebut bertahan dalam kehidupan nyata. Ukuran keberhasilan tidak terletak pada kuantitas ritual, tetapi pada kualitas perubahan.

Alumni Madrasah Ramadan dalam pengertian yang autentik bukan sekadar individu yang pernah menjalani ibadah intens selama sebulan. Sosok tersebut hadir sebagai pribadi yang mengalami transformasi mendasar: lebih jujur dalam tindakan, lebih peka terhadap penderitaan, serta lebih terkendali dalam menghadapi godaan.

Tanpa perubahan tersebut, Ramadan hanya menjadi siklus tahunan yang berulang tanpa makna.

Pesan melalui tulisan ini ini bermuara pada sebuah makna yang terasa getir: begitu banyak yang menjalani proses Madrasah Ramadan, namun hanya segelintir yang meraih kelulusan sejati. (*)

 

Penulis adalah Founder Ethics of Care, Anggota Komisi Yudisial 2015-2020, dan Dosen UMSU

 

Tags: Alumni Madrasah RamadanFarid Wajdiramadan
Previous Post

Teatrikal Toleransi dan Jerat Neoliberalisme dalam Arsitektur "Islam Moderat" Indonesia

Related Posts

Reinterpretasi “Kembali Suci”

Reinterpretasi “Kembali Suci”

23 Maret 2026
119
Pemimpin Baperan

Pemimpin Baperan

14 Maret 2026
124
Ranting Muhammadiyah Penting Wujudkan Lingkungan ASRI di Hari Peduli Sampah Nasional

Ranting Muhammadiyah Penting Wujudkan Lingkungan ASRI di Hari Peduli Sampah Nasional

22 Februari 2026
132
Ramadan dan Tuhan Musiman

Ramadan dan Tuhan Musiman

21 Februari 2026
134
Ramadhan, Kekuasaan, dan Keikhlasan yang Dijaga

Ramadhan, Kekuasaan, dan Keikhlasan yang Dijaga

20 Februari 2026
122
WR III UM Bandung: Puasa adalah Jalan Penyucian Jiwa dan Peneguhan Tauhid

WR III UM Bandung: Puasa adalah Jalan Penyucian Jiwa dan Peneguhan Tauhid

20 Februari 2026
117

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In