✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Masih dalam suasana Idulfitri, ketika pintu-pintu maaf terbuka dan silaturahmi kembali menghangatkan jiwa, saya membaca sebuah tulisan singkat di media sosial dari seorang senior yang menggugah rasa. Tulisan itu sederhana, tetapi mengetuk ruang batin yang dalam, tentang satu hal yang sering kita rasakan, namun jarang kita sadari sepenuhnya: betapa romantisnya Allah, Sang Maha Pencipta.
Romantis, dalam pengertian yang paling suci, bukan sekadar tentang ungkapan cinta antar manusia. Ia adalah bahasa kedekatan, perhatian, dan kehadiran yang menenangkan.
Dan jika kita mau jujur, Al-Qur’an penuh dengan bahasa seperti itu. Bahasa yang tidak hanya memerintah, tetapi juga memeluk.
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah…” (QS. Al-Baqarah: 156).
Bukankah ini kalimat kepemilikan yang paling lembut? Kita ini milik-Nya. Bukan sekadar ciptaan yang dibiarkan berjalan sendiri, tetapi milik yang dijaga, diperhatikan, dan selalu kembali kepada-Nya.
“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 152).
Ayat ini seperti undangan cinta. Allah tidak menuntut yang rumit, cukup ingat Dia, maka Dia akan “mengingat” kita. Sebuah relasi timbal balik yang terasa begitu dekat, begitu personal.
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…” (QS. At-Taubah: 40).
Di saat manusia lain mungkin pergi, Allah justru menegaskan kehadiran-Nya. Ini bukan sekadar janji, tapi peneguhan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.
“Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka Aku dekat…” (QS. Al-Baqarah: 186).
Betapa indahnya, Allah tidak menyuruh perantara untuk menjawab. Dia sendiri yang menegaskan: Aku dekat. Bahkan lebih dekat dari yang kita bayangkan.
“Dialah yang bershalawat kepadamu…” (QS. Al-Ahzab: 43).
Allah “memperhatikan”, “mengangkat”, dan “menyayangi” hamba-Nya dengan cara yang mungkin tak sepenuhnya kita pahami, tapi selalu kita rasakan dalam bentuk ketenangan.
Di titik ini, kita mulai mengerti: ternyata Allah tidak hanya mengatur hidup kita dengan hukum-hukum-Nya, tetapi juga menyentuh hati kita dengan kasih sayang-Nya. Ia mendidik manusia tentang cinta, bukan dengan teori, tetapi dengan pengalaman batin yang halus.
Idulfitri adalah salah satu momen ketika romantisme Ilahi itu terasa nyata. Setelah sebulan berpuasa, menahan diri, dan mendekat kepada-Nya, Allah “menyambut” kita dengan hari kemenangan. Seolah-olah Dia berkata, “Aku melihat usahamu, dan Aku membalasnya dengan ampunan dan kebahagiaan.”
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang jauh, padahal cinta yang paling tulus justru datang dari Yang Maha Dekat. Cinta yang tidak pernah mengkhianati, tidak pernah lelah menunggu, dan tidak pernah berhenti memanggil kita untuk kembali. Itulah mengapa hamba- Nya yang berdosapun dipanggil Nya dengan cinta . Allah mencintai Orang yang bertaubat dan mensucikan dirinya .( Al Baqarah. 222 )
Maka benar adanya, Allah itu romantis sekali. Dan kita, seringkali, baru menyadarinya ketika hati sedang hening dan jiwa sedang pulang. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







