✍️ M. Risfan Sihaloho
Selama ini, Muhammadiyah kerap dipuji sebagai organisasi Islam yang rapi, modern, dan unggul dalam tata kelola. Pujian itu bukan basa-basi. Lihat saja jejaknya: sekolah bertebaran, perguruan tinggi bertumbuh, rumah sakit menjamur, dan semuanya dikelola dengan standar profesional yang bahkan kerap melampaui lembaga negara.
Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari satu hal yang jarang dimiliki banyak organisasi: visi yang dijalankan, bukan sekadar dipajang.
Visi itu bernama ‘Islam Berkemajuan”.
Namun masalahnya, “berkemajuan” tidak pernah menjadi istilah yang netral. Ia selalu mengandung konsekuensi: bergerak ke depan, meninggalkan yang usang, dan—ini yang sering bikin panas—mungkin tidak selalu sejalan dengan arus utama.
Muhammadiyah tidak hanya menjadikan “berkemajuan” sebagai slogan, tetapi sebagai karakter. Ia tampak dalam keberanian mengambil keputusan berbasis ilmu, termasuk dalam hal yang sensitif seperti penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri yang memicu polemik publik, ketika organisasi ini menggunakan hisab, sebuah metode astronomi yang presisi.
Sebagian orang melihatnya sebagai kecanggihan. Tapi sebagian lain, entah karena tidak paham atau tidak siap, buru-buru memberi label: menyimpang, berbeda sendiri, bahkan “membangkang”.
Padahal, sejak kapan perbedaan metode ilmiah menjadi bentuk pembangkangan?
Di sini letak problemnya. Di negeri yang katanya menjunjung ilmu, keputusan berbasis sains justru sering diperlakukan seperti ancaman. Muhammadiyah, dengan segala konsistensinya, seperti mengganggu kenyamanan sebagian pihak yang lebih betah dalam zona tradisi tanpa evaluasi.
Lebih ironis lagi, kritik yang dilontarkan seringkali bukan berbasis argumen, melainkan sentimen. Seolah-olah, kebenaran harus menunggu keseragaman. Seolah-olah, berbeda itu dosa.
Padahal kalau mau jujur, yang benar-benar mengkhawatirkan bukanlah mereka yang bergerak maju, tapi mereka yang diam—atau lebih buruk, berjalan mundur sambil merasa paling benar.
“Berkemajuan” memang punya sejumlah antonim: seperti mundur, jumud, stagnan, dan alergi terhadap perubahan. Dan dalam banyak kasus, resistensi terhadap Muhammadiyah lebih mencerminkan kegamangan pihak lain menghadapi perubahan, bukan kesalahan Muhammadiyah itu sendiri.
Muhammadiyah sudah memilih jalannya sejak lama—jauh sebelum republik ini berdiri. Ia tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari kegelisahan terhadap kejumudan umat. Maka tidak heran jika DNA-nya adalah pembaruan (tajdid), bukan pengulangan.
Dan soal loyalitas? Tidak perlu diragukan. Organisasi ini sudah berkontribusi bahkan ketika negara belum punya bentuk.
Jadi, tudingan “pembangkangan” itu terasa bukan hanya berlebihan, tapi juga ahistoris—seolah lupa siapa yang sudah lama bekerja dalam diam.
Yang menarik, Muhammadiyah tampaknya tidak terlalu peduli dengan cibiran. Ia tetap berjalan. Tidak reaktif, tidak baper, tidak sibuk klarifikasi berlebihan. Ini mungkin karena satu kesadaran sederhana: kemajuan tidak pernah lahir dari keramaian tepuk tangan, tapi dari keteguhan memegang prinsip.
Akhirnya, kita sampai pada pertanyaan yang lebih jujur:
yang bermasalah itu Muhammadiyah, atau cara kelompok tertentu dalam memandang perbedaan?
Kalau “berkemajuan” terus dianggap ancaman, mungkin yang perlu diperbaiki bukan Muhammadiyah—melainkan cara berpikir kelompok yang masih nyaman hidup di masa lalu.
Dan di tengah riuhnya suara-suara sumbang yang gemar mencibir setiap langkah maju, ada satu pepatah lama yang tampaknya masih relevan—meski terdengar sedikit pedas: “anjing menggonggong, kafilah berlalu”.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah tampaknya memilih menjadi kafilah itu—tetap berjalan dengan style berkemajuannya, tanpa perlu repot menghitung berapa banyak intensitas gonggongan yang tertinggal di belakang.
Ya. Muhammadiyah akan tetap istiqomah di jalur berkemajuannya—dengan atau tanpa persetujuan. (*)






