• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Kamis, Maret 19, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Muktamar: Di Antara Kekuasaan dan Suara Kebenaran

Belajar dari Muktamar 43 Muhammadiyah 1995 di Banda Aceh, Menyongsong Muktamar 49 Tahun 2027 di Sumut

Jufri by Jufri
2026/03/19
in Daerah, Jufri Daily, Muhammadiyah, Muktamar 49
0
Muktamar: Di Antara Kekuasaan dan Suara Kebenaran
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh : Jufri

Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi

Pada penghujung kekuasaan Soeharto, terutama sejak awal 1990-an hingga 1998, satu isu yang pelan tapi pasti mengemuka adalah kesenjangan. Ia tidak selalu hadir dalam pidato resmi, tidak selalu menjadi tajuk utama media, tetapi terasa nyata di tengah masyarakat. Para intelektual mulai membicarakannya, mengkajinya, bahkan menggugatnya, meski dalam ruang yang serba terbatas.

Di masa ketika kebebasan berbicara belum seperti hari ini, suara-suara kritis harus mencari jalannya sendiri. Dari kampus, dari mimbar, dan dari gerakan keislaman, lahir keberanian yang tidak selalu keras, tetapi konsisten. Salah satu yang paling menonjol adalah Amien Rais, seorang dosen Universitas Gadjah Mada sekaligus tokoh penting Muhammadiyah. Ia tidak hanya berbicara tentang kesenjangan, tetapi juga tentang suksesi—sebuah gagasan yang pada zamannya terasa seperti membuka pintu yang lama terkunci.

Setelah Soeharto kembali terpilih pada 1993 untuk periode keenam, suara Amien Rais semakin nyaring. Ia tidak lagi sekadar pengamat, tetapi menjadi bagian dari denyut perubahan itu sendiri.

Momentum penting itu hadir pada Muktamar Muhammadiyah ke-43. Di Banda Aceh, kekuasaan dan moralitas seakan bertemu dalam satu panggung. Kehadiran Presiden Soeharto, bahkan dengan pernyataannya sebagai kader Muhammadiyah, menunjukkan betapa organisasi ini memiliki posisi strategis dalam lanskap kebangsaan. Banyak tokoh mengaitkan dirinya dengan Muhammadiyah—sebuah fenomena yang memperlihatkan daya tarik sekaligus pengaruhnya.

Dalam muktamar itu, Amien Rais terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 1995–2000. Sebuah fase yang menandai bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam dakwah sosial-keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran kebangsaan yang lebih luas.

Menariknya, di saat yang sama, tidak sedikit kader Muhammadiyah berada di lingkar kekuasaan. Kita mengenal nama-nama seperti Harmoko, Tarmizi Taher, Akbar Tandjung, R Hartono, Faisal Tanjung, hingga Wiranto. Mereka berada dalam sistem, menjadi bagian dari kekuasaan negara.

Namun di tengah kedekatan itu, Amien Rais justru semakin keras bersuara. Di sinilah pelajaran penting itu lahir: kedekatan dengan kekuasaan tidak harus melahirkan pembenaran.

Justru dari situ, integritas diuji. Sikap kritis yang ia tunjukkan bukan sekadar keberanian personal, tetapi cerminan bahwa kepentingan bangsa harus berdiri di atas segala kepentingan lain.

Waktu berlalu. Sejarah tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya menunggu untuk dibaca ulang.

Tiga puluh dua tahun kemudian, pada 2027, Muhammadiyah akan menggelar Muktamar 43 di Sumatera. Sebuah momentum yang bukan sekadar rutinitas organisasi, tetapi juga cermin untuk bertanya: di mana posisi kita hari ini?

Situasi hari ini terasa seperti gema masa lalu. Kader Muhammadiyah kembali banyak berada dalam lingkar kekuasaan Prabowo Subianto. Ini bukan sesuatu yang keliru. Bahkan bisa menjadi peluang besar untuk berkontribusi bagi bangsa. Namun di situlah ujian sesungguhnya dimulai: apakah kedekatan itu akan memperkuat keberpihakan pada rakyat, atau justru melemahkan daya kritis?

Muhammadiyah adalah organisasi Islam dakwah—gerakan amar ma’ruf nahi munkar, gerakan tajdid (pembaruan), sekaligus gerakan ilmu. Sikap dan karakternya khas: rasional, berkemajuan, dan berakar pada nilai-nilai keislaman yang mencerahkan. Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh kehilangan arah, meskipun banyak kadernya berkiprah dalam pemerintahan.

Muhammadiyah tidak boleh menjadi “kancil pilek”—sebuah metafora yang menggambarkan sikap pura-pura tidak tahu, seolah tidak melihat kesenjangan, dan memilih diam di tengah realitas yang membutuhkan suara. Justru di saat banyak kader berada dalam kekuasaan, kompas moral itu harus semakin ditegakkan.

Loyalitas terbesar Muhammadiyah bukan kepada kekuasaan yang datang dan pergi, tetapi kepada bangsa ini. Kepada rakyat yang membutuhkan keadilan, kepada nilai yang harus ditegakkan, dan kepada masa depan yang harus dijaga. Sebab penguasa boleh berganti, rezim bisa berubah, tetapi tanggung jawab moral tidak pernah ikut berlalu.

Yang dibutuhkan bukanlah oposisi tanpa arah, tetapi kritik yang berakar pada nilai. Bukan pula kedekatan tanpa batas, tetapi kontribusi yang berintegritas. Muhammadiyah harus tetap menjadi kekuatan moral, yang menegur tanpa kehilangan adab, mengingatkan tanpa kehilangan empati, dan mengoreksi tanpa kehilangan arah.

Pada akhirnya, setiap zaman melahirkan ujiannya sendiri. Namun satu hal yang tetap: bangsa ini selalu membutuhkan suara yang jernih. Dan jika sejarah 1995 memberi pelajaran, maka 2027 adalah kesempatan, apakah suara itu masih akan kita dengar, atau justru kita biarkan tenggelam dalam riuhnya kekuasaan. (*)

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Tags: Berita Muktamar 49Info Muktamar 49Muktamar 49
Previous Post

Lapangan SD Muhammadiyah Serbelawan Siap Tampung 1000 orang untuk Sholat Idul Fitri Jum'at 20 Maret 2026

Next Post

Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

Related Posts

Tanah Deli, Musyawarah Sejarah dan Harapan Masa Depan

Tanah Deli, Musyawarah Sejarah dan Harapan Masa Depan

19 Maret 2026
118
Kayu Gelondongan dan Hutan Kita

Khidmat Muhammadiyah dan Alarm Peradaban Bangsa

10 Maret 2026
123
Rektor UMSU Sosialisasikan Muktamar 49 Muhammadiyah di Pesantren Mu’allimin Riau

Rektor UMSU Sosialisasikan Muktamar 49 Muhammadiyah di Pesantren Mu’allimin Riau

10 Maret 2026
117
Muhammadiyah, Civil Society, dan Panggilan Sejarah Muktamar ke-49

Muhammadiyah, Civil Society, dan Panggilan Sejarah Muktamar ke-49

9 Maret 2026
121
Kekompakan Pemimpin, Kekuatan Organisasi

Kekompakan Pemimpin, Kekuatan Organisasi

8 Maret 2026
130
Napak Tilas Sejarah dan Membangkit Batang Terendam

Napak Tilas Sejarah dan Membangkit Batang Terendam

7 Maret 2026
131
Next Post
Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

Lebaran Terbelah Dua Hari: Siapa yang Menentukan Langit, dan Siapa yang Menentukan Hati?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In