✍️ M. Risfan Sihaloho
Ada orang yang percaya bahwa sistem dibangun untuk kemaslahatan bersama. Sebuah mekanisme yang tertata rapi agar kehidupan sosial berjalan lebih tertib, adil, dan teratur. Dalam bayangan ideal itu, sistem adalah rumah bersama—tempat semua orang merasa aman karena aturan bekerja secara rasional.
Namun ada pula yang melihat sistem dengan kacamata berbeda. Lebih dingin, lebih pragmatis. Dalam pandangan ini, sistem bukan sekadar alat pengatur, melainkan instrumen pengontrol. Ia tidak selalu dibangun untuk membebaskan manusia, melainkan untuk memastikan manusia tetap berada dalam garis yang sudah ditentukan.
Sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan sering sekali alergi terhadap kontrol. Namun ironisnya, justru kontrol adalah bahasa paling fasih yang dipahami oleh kekuasaan.
Dengan instrumen hukum, birokrasi, regulasi, hingga aparat, rezim mana pun akan selalu berusaha memastikan bahwa semua elemen tetap berada dalam orbitnya.
Orbit itu punya satu syarat sederhana: patuh.
Masalahnya muncul ketika seseorang atau sekelompok orang memilih untuk tidak sepenuhnya patuh. Dalam situasi seperti itu, mekanisme lama segera bekerja. Mereka yang resisten tidak langsung dipatahkan dengan argumen, tetapi lebih dulu disudutkan dengan label. Stigma menjadi alat yang sangat efektif: radikal, provokator, pengganggu stabilitas, atau sekadar “tidak memahami situasi”.
Dalam praktiknya, kontrol memang punya dua wajah.
Wajah pertama adalah dominasi yang koersif—yang bekerja melalui tekanan, ancaman, dan kekuatan terbuka. Ini model kontrol yang paling mudah dikenali. Ia keras, kaku, dan sering kali menimbulkan perlawanan.
Wajah kedua jauh lebih halus: hegemoni yang persuasif. Dalam model ini, orang tidak merasa sedang dikontrol. Mereka justru merasa sedang memilih dengan bebas, padahal pilihan-pilihan itu sudah lebih dulu diatur.
Jika dominasi memaksa orang untuk patuh, hegemoni membuat orang patuh dengan sukarela.
Kontrol di Era Digital
Di sinilah ironi zaman modern. Di era digital yang sering dirayakan sebagai zaman kebebasan informasi, kontrol justru menjadi semakin canggih. Jika dulu kekuasaan harus mengawasi secara fisik, kini cukup lewat data.
Algoritma tahu apa yang kita suka.
Platform tahu apa yang kita pikirkan.
Dan sistem tahu bagaimana cara mengarahkan perhatian kita.
Kontrol tidak lagi selalu hadir dalam bentuk larangan. Ia sering muncul dalam bentuk rekomendasi.
Bukan lagi: “Anda tidak boleh membaca ini.”. Tetapi: “Mungkin Anda lebih tertarik membaca yang itu.”
Pelan, halus, dan hampir tak terasa.
Pada titik tertentu, orang bisa merasa sangat bebas—padahal sedang berada dalam lingkaran kontrol yang sangat rapi. Kita bebas berbicara, selama berada dalam koridor yang tidak terlalu mengganggu arsitektur kekuasaan. Kita bebas berpendapat, selama pendapat itu tidak terlalu menular.
Karena dalam dunia yang sangat terkontrol, stabilitas sering kali lebih dihargai daripada kebenaran.
Ironinya, sistem yang awalnya diklaim untuk mengatur kehidupan bersama kadang berubah menjadi mesin besar yang terutama sibuk menjaga dirinya sendiri. Kritik dianggap gangguan, perbedaan dianggap ancaman, dan ketidakpatuhan dianggap penyakit yang harus segera disembuhkan.
Padahal sejarah manusia selalu bergerak justru karena ada orang-orang yang menolak untuk sepenuhnya dikontrol.
Mungkin di situlah paradoks terbesar dari kekuasaan: ia selalu ingin mengontrol segalanya, tetapi pada saat yang sama, kemajuan sering lahir dari mereka yang berani keluar dari kontrol itu.
Dan di era digital hari ini, pertanyaannya bukan lagi apakah kontrol itu ada.
Pertanyaannya jauh lebih menggelitik:
apakah kita masih cukup peka untuk menyadari ketika sedang dikontrol—atau justru sudah terlalu nyaman di dalamnya. (*)


