• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Sabtu, Maret 21, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Suluh di Nagolap, Tokkat di Nalandit

Jufri by Jufri
2026/03/15
in Daerah, Jufri Daily, Muhammadiyah, Opini
0
Suluh di Nagolap, Tokkat di Nalandit
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Jufri

Ketua PDM Kota Tebing Tinggi

 

Pagi ini, setelah saya menulis tentang Ramadhan yang demikian singkat terasa, dan akan segera berlalu, pikiran saya kembali tertarik pada sebuah foto yang diposting oleh Prof. Hasrat Efendi Samosir bersama Dr. Arifin Saleh Siregar. Dua orang intelektual dan cendikiawan Muhammadiyah Sumatera Utara.

Pada caption-nya beliau menuliskan hal yang menarik tentang persamaan asal-usul, sekaligus fungsi intelektual dalam filosofi Tapanuli Selatan. Disebutkan bahwa Siregar–Samosir masih dalam lingkup keturunan Raja Lottung. Prinsip utama yang diangkat adalah tetap sama: jadilah suluh di saat gelap dan tongkat di tempat yang licin.

Bagi saya ini sangat menarik, karena fungsi itu dapat dilaksanakan dan dibuktikan melalui pengabdian nyata dari para intelektual, apalagi yang telah berada di puncak gelar akademik sebagai legalitas intelektual yang sah secara formal.

Saya tentu termasuk orang yang senang melihat momen kebersamaan di antara mereka. Kita memang membutuhkan kebersamaan dan persatuan, apalagi menjelang muktamar Muhammadiyah, dimana Sumatera Utara ditunjuk sebagai tuan rumah dan berbagai persiapan untuk menyukseskan. Contoh yang mereka berikan bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi sebuah simbol bahwa intelektual yang tercerahkan harus mampu menjadi tongkat dan suluh peradaban.

Falsafah tersebut bukan sekadar rangkaian kata indah yang diwariskan oleh leluhur. Ia adalah pesan peradaban. Sebuah amanah sosial yang menempatkan kaum terdidik pada posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Menjadi suluh berarti mampu memberikan arah di tengah kebingungan zaman. Menjadi tongkat berarti hadir sebagai penopang ketika masyarakat berada pada situasi yang licin, rapuh, dan penuh risiko.

Dalam realitas kehidupan modern, gelar akademik seringkali dipandang sebagai simbol prestise. Tidak sedikit yang menjadikannya alat untuk membangun jarak sosial, bahkan terkadang menjadi tameng untuk mempertahankan kenyamanan pribadi. Padahal dalam tradisi kultural masyarakat Tapanuli Selatan, gelar justru merupakan beban tanggung jawab. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan pengabdiannya. Ilmu tidak boleh berhenti pada ruang seminar, ruang kelas, atau podium akademik. Ia harus menjelma menjadi keberanian moral dan kepekaan sosial.

Ketika masyarakat menghadapi kegelapan informasi, konflik kepentingan, atau ketidakpastian arah pembangunan, di situlah fungsi suluh diuji. Ketika rakyat berhadapan dengan medan kehidupan yang licin—ketidakadilan hukum, kesenjangan ekonomi, atau krisis kepemimpinan—di situlah tongkat dibutuhkan. Intelektual yang sejati tidak menunggu dipanggil, tetapi hadir karena panggilan nurani.

Menarik pula ketika silsilah keturunan seperti Raja Lottung kembali disebut. Dalam kultur Batak, asal-usul bukan hanya identitas genealogis, tetapi juga sumber etika. Ia mengingatkan bahwa kehormatan tidak diwariskan secara otomatis, melainkan harus dijaga melalui perilaku dan pengabdian. Garis keturunan menjadi bermakna hanya jika diikuti dengan keteladanan.

Ramadhan yang terasa begitu singkat ini seakan memberi pelajaran yang sama. Waktu terus berjalan tanpa kompromi. Kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang berulang. Maka siapa pun yang diberi kelebihan ilmu, kedudukan, atau pengaruh sosial, hendaknya menjadikan momentum spiritual ini sebagai titik refleksi. Sudahkah kita menjadi suluh bagi sesama? Sudahkah kita menjadi tongkat bagi mereka yang membutuhkan?

Pada hakikatnya, falsafah “suluh di nagolap, tokkat di nalandit” adalah panggilan sepanjang zaman. Ia relevan di desa maupun di kota, di ruang akademik maupun di ruang kekuasaan. Masyarakat selalu membutuhkan cahaya dan penopang. Dan sejarah akan mencatat, siapa yang benar-benar hadir menjalankan fungsi itu, dan siapa yang hanya menikmati gelar tanpa makna.

Semoga para ulama, intelektual, dan pemimpin di negeri ini tidak lelah menjadi penerang dan penyangga. Karena di tengah dunia yang semakin kompleks, nilai-nilai kearifan lokal justru menjadi kompas moral yang paling jernih, dan tetap sarat makna. (*)

Silaturahmi-Kolaborasi -Sinergi-Harmoni

Previous Post

Milad ke-62 IMM, Arfani Sinuhaji: Kader Harus Bergerak dan Memberi Dampak Nyata untuk Indonesia

Next Post

Kajian Ramadhan ke-3 Lazismu: Zakat Produktif, Solusi Jangka Panjang Pengentasan Kemiskinan

Related Posts

Belajar Memaknai Perbedaan di Jalan Pulang: Catatan Personal Menjumpai Dua Kali 1 Syawal

Belajar Memaknai Perbedaan di Jalan Pulang: Catatan Personal Menjumpai Dua Kali 1 Syawal

21 Maret 2026
116
Khidmatnya Idul Fitri di Masjid Taqwa Kecamatan Bilah Hulu

Khidmatnya Idul Fitri di Masjid Taqwa Kecamatan Bilah Hulu

21 Maret 2026
126
Kafilah itu Bernama Muhammadiyah

Kafilah itu Bernama Muhammadiyah

21 Maret 2026
513
Khatib Shalat Id di Krida Mangkubumen, Ustadz Dwi Jatmiko Ungkap 5 Kunci Negeri yang Berkah

Khatib Shalat Id di Krida Mangkubumen, Ustadz Dwi Jatmiko Ungkap 5 Kunci Negeri yang Berkah

20 Maret 2026
111
Langit Cerah, Hati Teduh: Ribuan Jamaah Shalat Id di UM Bandung

Langit Cerah, Hati Teduh: Ribuan Jamaah Shalat Id di UM Bandung

20 Maret 2026
107
Lebih dari 2.700 Orang Bayar Zakat Lewat MASA, LabMu Dorong Akselerasi Donasi Digital

Lebih dari 2.700 Orang Bayar Zakat Lewat MASA, LabMu Dorong Akselerasi Donasi Digital

20 Maret 2026
109
Next Post
Kajian Ramadhan ke-3 Lazismu: Zakat Produktif, Solusi Jangka Panjang Pengentasan Kemiskinan

Kajian Ramadhan ke-3 Lazismu: Zakat Produktif, Solusi Jangka Panjang Pengentasan Kemiskinan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In