TAJDID.ID~Jakarta 🔳 Penulis buku produktif sekaligus Dosen PBSI FKIP Uhamka, Hendra Apriyadi, membagikan kiat sukses menulis dalam acara KADAR (Kajian Daring Ramadan) yang diselenggarakan Penerbit Irfani via Zoom, Ahad (15/3/2026).
Dalam sesi tersebut, ia menekankan bahwa menulis adalah cara terbaik untuk merawat ingatan dan sejarah perjuangan.
Hendra, yang telah menelurkan sepuluh karya buku, mengungkapkan bahwa kunci utama memulai sebuah tulisan adalah adanya “keresahan” intelektual. Ia mencontohkan buku terbarunya, Jejak Langkah Kader Muhammadiyah, yang lahir dari keinginan kuatnya mendokumentasikan kearifan lokal tokoh-tokoh penggerak di wilayah Pantura. “Buku ini berawal dari sebuah keresahan. Kita harus rajin menggali kearifan lokal dan melakukan riset kecil-kecilan dengan berdiskusi bersama para tokoh. Jika tidak dituliskan, sejarah itu akan hilang,” jelas Hendra di hadapan puluhan peserta.
Selain riset, Hendra membagikan sejumlah tips praktis bagi para pemula, khususnya bagi kalangan guru dan kepala sekolah. Ia menekankan bahwa setiap orang pada dasarnya sudah memiliki kemampuan menulis karena aktivitas tersebut dilakukan setiap hari, namun tantangan utamanya terletak pada kedisiplinan mendokumentasikan kegiatan harian menjadi narasi yang bermakna.
Lebih lanjut, ia menyarankan para penulis untuk mengangkat tema lingkungan sekitar atau kebudayaan lokal melalui pendekatan etno-pedagogi agar karya yang dihasilkan memiliki ciri khas dan kedekatan emosional dengan pembaca. Di era digital ini, Hendra juga mendorong para pendidik untuk memanfaatkan media sosial dan portal sekolah sebagai wadah untuk melatih kebiasaan menulis secara konsisten melalui aktivitas jurnalisme sekolah.
Pendiri Penerbit Irfani, Ahmad Soleh, menyebutkan bahwa kehadiran Hendra diharapkan mampu memicu peserta untuk melahirkan karya nyata selama Ramadan. “Kami ingin memunculkan kembali tradisi intelektual. Literasi bukan hanya teori, tapi bagaimana gagasan itu dibukukan dan dibagikan,” tambahnya.
Kegiatan ini, kata Soleh, merupakan bagian dari upaya Penerbit Irfani upaya untuk mewadahi gagasan para penggiat literasi, jurnalis, dan aktivis dakwah dari berbagai daerah.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi pelengkap ibadah di bulan Ramadan, sekaligus memunculkan tradisi intelektual yang positif bagi kita semua,” ungkapnya.
Acara yang dipandu oleh Rafa Basyirah ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga motivasi bagi para penggiat dakwah untuk menjadikan menulis sebagai bagian dari ibadah profetik di bulan suci. (irf)


