✍️ Hendra Apriyadi
Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah
Para santri generasi Z mengikuti kegiatan Pelatihan Santri Gen-Z Memproduksi Konten Media dalam rangka Gerakan Santri Menulis (GSM) 2026 yang diselenggarakan oleh Suara Merdeka Network di Pondok Pesantren Muhammadiyah Zaenab Masykur, Minggu (8/3/2026).
Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan 18 Ramadan 1447 H ini diikuti para santri untuk meningkatkan literasi media sekaligus kemampuan menulis di era digital.
Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti.
Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguasaan literasi dan kreativitas media bagi generasi muda, khususnya para santri.
Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, santri perlu memiliki kemampuan menulis dan memproduksi konten yang edukatif, inspiratif, serta berkarakter.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga berinteraksi langsung dengan para santri untuk mengawali dialog sekaligus memantik semangat peserta Gerakan Santri Menulis (GSM). Ia mengajukan pertanyaan kepada para santri mengenai tema kegiatan, yaitu “Ngaji Kata Membuka Dunia.”
“Siapa yang bisa menjelaskan apa maksud dari tema tersebut?” tanya Menteri kepada para santri.
Pertanyaan tersebut langsung disambut antusias oleh para santri. Mereka berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk menjawab.
Salah satu santri bernama Alma terpilih untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan penuh percaya diri, Alma menjelaskan bahwa membaca merupakan jendela untuk mengetahui berbagai hal di dunia.
“Dengan membaca, kita menjadi tahu banyak hal. Dari membaca kita dapat membuka wawasan dan pengetahuan tentang dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menginspirasi, memotivasi, dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan serta dunia di sekitar kita. Melalui membaca Al-Qur’an, seseorang dapat memahami isi dan kandungan ayat-ayatnya.
Demikian pula dengan membaca novel atau cerpen, pembaca dapat memperoleh berbagai pesan dan nilai kehidupan yang bermanfaat.
Menurutnya, melalui membaca dan menuntut ilmu, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang berguna bagi kehidupan.
Menanggapi jawaban tersebut, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa “ngaji kata” tidak hanya berarti mempelajari kata-kata, tetapi juga memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dengan mempelajari kata-kata dan memperbanyak membaca, seseorang dapat memperluas wawasan dan pengetahuan tentang dunia.
Ia juga mengingatkan bahwa perintah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah membaca, sebagaimana tercermin dalam kata Iqra. Menurutnya, semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula ilmu yang diperoleh. Ia juga mengutip makna dalam Al-Qur’an bahwa orang yang memiliki ilmu akan memiliki derajat yang lebih tinggi.
Dalam suasana dialog yang hangat, Abdul Mu’ti turut berbagi kisah perjalanan hidupnya. Ia menceritakan bahwa dirinya berasal dari kampung dengan keterbatasan fasilitas. Pada tahun 1990-an, bahkan listrik belum tersedia di daerah tempat tinggalnya. Namun, dengan semangat belajar yang tinggi, ia mampu melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.
Ia mengungkapkan bahwa pendidikan membawanya menuntut ilmu hingga ke berbagai negara dan bahkan berkesempatan berkeliling dunia di lima benua.
Selain itu, Abdul Mu’ti juga menyampaikan kebanggaannya ketika berpidato menggunakan bahasa Indonesia di forum internasional seperti di UNESCO dan di Samarkand, sebuah kota bersejarah yang dikenal sebagai tempat lahirnya banyak ulama besar.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para santri untuk bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya mencintai bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.
Dengan nada santai dan penuh guyon, ia berkata, “Ora ngapak ora kepenak.” Ungkapan tersebut disambut tawa dan tepuk tangan para santri.
Menutup dialognya, Abdul Mu’ti memberikan motivasi kepada para santri agar menjadi pembaca yang baik dan kritis. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam scroll culture, yaitu kebiasaan hanya menggulir informasi di media sosial tanpa membaca secara mendalam.
Ia menegaskan bahwa seseorang yang cerdas adalah mereka yang mampu berpikir kritis serta melakukan tabayun ketika menerima informasi. Jika menemukan informasi yang meragukan atau berpotensi hoaks, seseorang harus memeriksa kebenarannya terlebih dahulu sebelum mempercayai atau menyebarkannya. ( Bersambung)
Catatan Ngaji Kata Bareng Kyai Abdul Muti (Mendikdasmen RI)
Adiwerna , 08 Maret 2026




