✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Sering kali sebuah bangsa baru menyadari tantangan peradabannya ketika tanda-tanda krisis mulai tampak di depan mata. Di tengah kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang terus didengungkan, Indonesia sesungguhnya sedang menghadapi sebuah persoalan mendasar: masa depan generasi mudanya.
Setiap tahun jutaan lulusan baru memasuki dunia kerja, namun peluang yang tersedia jauh lebih kecil dari jumlah mereka yang berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Kesenjangan ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi alarm peradaban yang menuntut perhatian serius dari semua kekuatan sosial bangsa, termasuk Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang sejak awal berdiri menempatkan pendidikan, pencerahan, dan khidmat sosial sebagai jalan membangun masa depan umat dan bangsa.
Setiap gerakan besar dalam sejarah selalu bertumpu pada dua kekuatan utama: kejernihan gagasan dan ketulusan pengabdian. Tanpa gagasan yang kuat, sebuah gerakan akan kehilangan arah. Tanpa pengabdian yang nyata, gagasan hanya akan berhenti sebagai wacana.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya memadukan keduanya, cara berpikir yang tajdid dan khidmat yang berkelanjutan, sehingga mampu bertahan lebih dari satu abad sebagai gerakan Islam yang memberi manfaat luas bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir mengingatkan bahwa khidmat merupakan jembatan emas peradaban. Sehebat apa pun iman dan takwa, seluas apa pun ilmu yang dimiliki, dan setinggi apa pun semangat pembaruan, semuanya tidak akan membawa kemaslahatan jika tidak diwujudkan dalam kerja nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pesan ini sejalan dengan ruh awal Muhammadiyah yang dirintis oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari satu abad yang lalu. Ketika Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912, organisasi ini tidak hanya menghadirkan ceramah keagamaan, tetapi juga langsung menyentuh persoalan nyata masyarakat. Sekolah didirikan, rumah sakit dibangun, panti asuhan diselenggarakan, dan berbagai amal usaha dikembangkan. Islam tidak hanya diajarkan sebagai doktrin, tetapi diwujudkan sebagai solusi bagi kehidupan.
Namun khidmat dalam Muhammadiyah tidak berdiri sendiri. Ia bertumpu pada cara berpikir yang khas. Muhammadiyah bukan sekadar organisasi yang tertata secara struktural, tetapi juga merupakan manhaj pemikiran, yakni sistem ideologis dan metodologis yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah serta berorientasi pada tajdid, pembaruan yang terus-menerus agar Islam tetap relevan dalam menghadapi perkembangan zaman.
Cara berpikir tajdid inilah yang menuntut warga dan kader Muhammadiyah untuk tetap menjaga nalar kritis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nalar kritis bukan berarti sikap yang selalu menentang atau memusuhi kekuasaan, tetapi kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih, objektif, dan bertanggung jawab demi kepentingan umat dan bangsa.
Dengan nalar kritis, kader Muhammadiyah dapat tetap menjadi kekuatan moral yang menjaga arah perjalanan bangsa agar tetap berada dalam koridor keadilan, kemajuan, dan kemaslahatan bersama.
Dalam perspektif ini, Muhammadiyah juga memandang dunia tidak secara sempit. Alam semesta tidak hanya dilihat sebagai objek yang dapat dieksploitasi, tetapi sebagai ciptaan Allah yang harus dihormati dan dijaga. Manusia diajak untuk bersahabat dengan alam dan berdialog dengan kehidupan, sehingga peradaban yang dibangun tidak merusak keseimbangan yang telah diciptakan Tuhan.
Di tengah perjalanan bangsa Indonesia hari ini, tantangan peradaban juga terlihat jelas dalam persoalan ketenagakerjaan. Data menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 5,17 juta lulusan baru dari berbagai jenjang pendidikan memasuki dunia kerja. Sementara itu, peluang kerja baru yang tersedia hanya sekitar 1,5 juta setiap tahunnya. Artinya terdapat kesenjangan lebih dari 3,6 juta tenaga kerja setiap tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi. Ia adalah alarm sosial dan alarm peradaban.
Jika kesenjangan ini terus berlangsung, maka jutaan generasi muda akan menghadapi ketidakpastian masa depan. Pengangguran, ketimpangan sosial, dan kekecewaan generasi muda dapat menjadi persoalan serius yang mempengaruhi stabilitas sosial dan arah pembangunan bangsa.
Bagi Muhammadiyah, situasi ini seharusnya menjadi panggilan moral dan intelektual. Sebagai gerakan yang sejak awal bergerak di bidang pendidikan, Muhammadiyah tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang mandiri, kreatif, dan mampu menciptakan lapangan kerja.
Di sinilah pendidikan Muhammadiyah perlu terus melakukan pembaruan. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta kerja, melalui penguatan kewirausahaan, inovasi teknologi, serta karakter kerja yang tangguh.
Dalam konteks itulah Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara memiliki makna yang sangat penting. Muktamar bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan, tetapi momentum refleksi sejarah sekaligus perumusan arah masa depan gerakan.
Sumatera Utara sendiri memiliki jejak historis yang kuat dalam perjalanan Muhammadiyah. Sejak masa awal penyebarannya di wilayah Sumatera, kader-kader Muhammadiyah telah memainkan peran penting dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Amal usaha Muhammadiyah di daerah ini menjadi bukti bahwa semangat khidmat telah tumbuh dan berakar di tengah masyarakat.
Karena itu, Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara bukan hanya peristiwa organisatoris, tetapi juga peneguhan arah peradaban. Muhammadiyah harus terus menjaga dua kekuatan utamanya: cara berpikir tajdid dan khidmat yang nyata.
Jika keduanya tetap hidup dalam diri para kadernya, maka Muhammadiyah akan terus menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang memberi pencerahan bagi bangsa Indonesia.
Dan dari Sumatera Utara, harapan itu kembali diteguhkan: bahwa Muhammadiyah akan terus melangkah menyalakan pencerahan, menjaga nalar kritis, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. (*)
Silaturahmi-Kolaborasi-Sinergi-Harmoni








