✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Dalam setiap organisasi, kekompakan dan kebersamaan adalah fondasi penting bagi keberhasilan gerak langkahnya. Hubungan yang harmonis antara ketua dan sekretaris, antara kepala daerah dan wakil kepala daerah, atau pasangan kepemimpinan lainnya, bukan sekadar hubungan formal dalam struktur organisasi. Ia adalah ikatan kerja, kepercayaan, dan kebersamaan yang menentukan arah perjalanan organisasi itu sendiri.
Sering kali pembicaraan di antara para pemimpin organisasi tidak hanya berkutat pada agenda resmi. Percakapan mereka bisa mengalir ringan tentang pekerjaan, kehidupan sehari-hari, bahkan keluarga. Justru dari ruang-ruang informal seperti itulah lahir kedekatan emosional yang memperkuat kepercayaan satu sama lain. Ketika kepercayaan terbangun, koordinasi menjadi lebih mudah, keputusan lebih cepat diambil, dan organisasi dapat berjalan dengan lebih tenang.
Pemandangan seperti itu saya lihat tadi selepas sahur menjelang Subuh. Keakraban yang hangat terlihat antara Buya Prof Hasimsyah Nasution dan ustadz Irwansyah Putra. Keduanya adalah Ketua dan Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara. Dalam percakapan yang santai, terlihat bagaimana hubungan kerja yang baik juga disertai dengan kedekatan personal.
Dalam struktur kepemimpinan organisasi, mereka ibarat gubernur dan wakil gubernurnya. Dua figur yang memikul tanggung jawab bersama dalam menggerakkan roda organisasi. Kekompakan seperti ini bukan hanya penting bagi hubungan personal, tetapi juga menjadi energi bagi seluruh jajaran organisasi di bawahnya.
Kekompakan sejatinya adalah nutrisi bagi gerakan organisasi. Ia bukan hanya harus ada, tetapi juga harus tampak dan terasa. Pemimpin perlu mampu membangun panggung depan yang baik—yakni wajah organisasi yang terlihat oleh publik. Ketika panggung belakang juga berjalan baik, tentu itu menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun bahkan ketika di panggung belakang terdapat perbedaan pandangan atau dinamika internal, para pemimpin tetap dituntut menjaga panggung depan agar tetap teduh dan bermartabat.
Sebab dalam organisasi, persatuan dan persaudaraanlah yang seharusnya ditampakkan, sementara perpecahan tidak perlu dipertontonkan. Publik membutuhkan keteladanan, bukan drama konflik di antara para pemimpin. Dalam praktik pemerintahan, kita sering melihat hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang retak di tengah jalan. Tidak jarang hal itu terjadi bukan karena persoalan besar, melainkan karena ego pribadi dan ketidakdewasaan dalam mengelola perbedaan.
Apalagi saat ini Muhammadiyah Sumatera Utara sedang mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Muktamar 49 Muhammadiyah~Aisyiyah tahun 2027. Sebuah agenda besar yang tentu membutuhkan kerja kolektif, koordinasi yang rapi, dan kepemimpinan yang solid. Persiapan kegiatan sebesar itu tidak mungkin berjalan baik tanpa adanya kekompakan di tingkat pimpinan.
Dari peristiwa kecil selepas sahur tadi, kita belajar bahwa organisasi besar sering kali ditopang oleh hal-hal sederhana: kebersamaan, komunikasi yang cair, dan saling percaya di antara para pemimpinnya. Ketika pemimpin kompak dan akrab, organisasi pun bergerak lebih tenang, lebih terarah, dan lebih kuat menghadapi tantangan di masa depan. (*)
Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni








