✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Di antara hal yang hampir selalu terasa dalam setiap kegiatan Muhammadiyah adalah indahnya kebersamaan. Ia hadir bukan sekadar sebagai suasana, tetapi sebagai ruh yang menghidupkan pertemuan-pertemuan itu. Silaturahmi terasa hangat, percakapan mengalir tanpa sekat, dan setiap orang seperti menemukan kembali keluarganya dalam ikatan persyarikatan.
Suasana seperti itu pula yang terasa dalam Pengajian Ramadhan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara yang berlangsung di Pesantren Muhammadiyah Kuala Madu, Langkat, pada Sabtu, 7 Maret 2026. Sejak pagi para peserta mulai berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang menempuh perjalanan jauh, ada yang berangkat sejak dini hari, sekadar agar bisa ikut duduk bersama dalam majelis ilmu yang selalu dinanti setiap Ramadhan.
Ramadhan memang sering menghadirkan cara yang khas untuk mempertemukan hati. Dalam suasana bulan yang penuh keberkahan ini, pengajian bukan hanya menjadi forum mendengar ceramah. Ia juga menjadi ruang perjumpaan, tempat mempererat kembali tali persaudaraan yang mungkin selama ini terpisah oleh kesibukan masing-masing.
Yang menarik dari pertemuan-pertemuan Muhammadiyah adalah kesederhanaan suasananya. Pimpinan wilayah, pimpinan daerah, pimpinan cabang, pimpinan ranting, bahkan jika ada pimpinan pusat, semuanya berbaur dengan rasa persaudaraan yang sama. Tidak ada jarak yang terasa kaku. Orang-orang duduk berdampingan, saling menyapa, berbincang ringan, seolah-olah perbedaan posisi dalam struktur organisasi melebur begitu saja dalam suasana kebersamaan.
Mungkin justru di situlah letak kekuatan Muhammadiyah yang sering tidak terlalu disadari. Persyarikatan ini memang dikenal dengan jaringan amal usaha yang luas—sekolah, rumah sakit, universitas, pesantren, dan berbagai lembaga sosial. Tetapi di balik semua itu, ada jaringan yang lebih sunyi namun sangat kuat: jaringan silaturahmi yang hidup di antara warganya.
Pertemuan seperti di Pesantren Muhammadiyah Kuala Madu pada hari itu menjadi semacam pengingat sederhana. Bahwa Muhammadiyah sejak awal dibangun bukan hanya dengan gagasan besar, tetapi juga dengan kebersamaan orang-orang yang bersedia bekerja bersama, berpikir bersama, dan menjaga kepercayaan satu sama lain.
Dari ruang-ruang kebersamaan seperti inilah sering lahir energi baru. Kadang bukan dari pidato panjang, tetapi dari perjumpaan yang hangat. Dari jabat tangan yang tulus. Dari percakapan kecil yang mempertemukan kembali semangat yang sama.
Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat—dengan tantangan teknologi, ekonomi, dan perubahan sosial yang tidak selalu mudah dipahami—Muhammadiyah tentu akan menghadapi berbagai ujian. Tantangan itu bukan hanya dalam bentuk perubahan zaman, tetapi juga berupa bencana alam dan bencana sosial yang semakin sering terjadi di berbagai tempat. Karena itu, Muhammadiyah juga perlu terus mempersiapkan diri, memperkuat kapasitas organisasi, dan menumbuhkan kepekaan sosial agar selalu siap hadir membantu masyarakat ketika musibah datang.
Tetapi sejarah panjang persyarikatan ini menunjukkan bahwa setiap zaman selalu membawa dua hal sekaligus: tantangan dan peluang.
Selama nilai kebersamaan, tradisi silaturahmi, dan semangat berkhidmat itu tetap hidup, Muhammadiyah memiliki bekal yang cukup untuk terus berjalan. Hambatan mungkin akan datang silih berganti, tetapi di dalam kebersamaan itulah sering kali kita menemukan kembali alasan untuk tetap optimis.
Pengajian Ramadhan di Kuala Madu, Langkat, pada Sabtu itu mungkin hanya sebuah pertemuan sederhana dalam kalender kegiatan organisasi. Namun dari pertemuan sederhana seperti itulah kita sering melihat sesuatu yang lebih dalam: bahwa Muhammadiyah masih memiliki energi sosial, moral, dan spiritual untuk terus melangkah.
Dan selama langkah itu dijaga bersama, masa depan selalu memiliki ruang untuk harapan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








