• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Rabu, Maret 4, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Babi, Agama, dan Politik Identitas di Era Global

Shohibul Anshor Siregar by Shohibul Anshor Siregar
2026/03/04
in Daerah, Esai, Islam, Opini, Ulasan
0
Babi, Agama, dan Politik Identitas di Era Global
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

✍️ Shohibul Anshor Siregar

Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut

Seekor babi. Hewan yang tampak biasa ini ternyata menyimpan ribuan tahun sejarah, perdebatan teologis yang mendalam, dan kini menjadi simbol dalam politik identitas global. Bagi miliaran umat Yahudi dan Muslim di seluruh dunia, babi bukan sekadar hewan—ia adalah batas yang membedakan “halal” dari “haram”, “tahor” dari “tame”, “kita” dari “mereka”.

Perjalanan panjang larangan konsumsi babi mengungkap sesuatu yang fundamental tentang keberagamaan manusia. Sebuah larangan sederhana yang tertulis dalam kitab suci ternyata mampu bertahan melintasi ribuan tahun, melampaui perubahan imperium, migrasi besar-besaran, hingga revolusi teknologi. Mengapa ia begitu kuat?

 

Akar Sejarah yang Dalam

Domestikasi babi di Levant (kawasan yang kini mencakup Palestina, Israel, Yordania, dan Suriah) telah berlangsung sejak 9.000 tahun lalu—jauh sebelum bangsa Israel terbentuk.

Pada Zaman Perunggu, babi adalah bagian normal dari menu masyarakat Kanaan. Lalu mengapa kemudian ia dihindari?

Para arkeolog menemukan jawaban menarik dari Zaman Besi (1200-586 SM). Ketika bangsa Filistin—pendatang dari kawasan Aegea—menetap di dataran rendah pesisir, mereka membawa serta tradisi konsumsi babi yang kuat. Situs-situs Filistin seperti Ashkelon dan Ekron menunjukkan proporsi tulang babi mencapai 20 persen dari total tulang hewan.

Sebaliknya, permukiman Israel awal di dataran tinggi menunjukkan proporsi di bawah 1 persen.

Kontras ini bukan kebetulan. Penghindaran babi menjadi penanda etnis yang membedakan “kita” (Israel) dari “mereka” (Filistin). Apa yang mungkin berawal dari perbedaan kebiasaan kemudian dikodifikasi dalam kitab suci—Imamat 11 dan Ulangan 14—menjadi perintah ilahi yang abadi.

Ketika Keyakinan Bertemu Politik

Perjalanan larangan ini tidak berhenti pada teks. Ia terus berkembang, beradaptasi, dan kadang menjelma menjadi senjata politik.

Pada abad ke-2 SM, penguasa Yunani Antiokhus IV Epifanes memaksa orang Yahudi memakan babi di Bait Allah sebagai bagian dari upaya membasmi agama Yahudi. Para syuhada seperti Eleazar dan tujuh bersaudara memilih mati daripada melanggar keyakinan. Babi menjadi simbol keteguhan iman.

Tujuh abad kemudian, ketika Islam menaklukkan Semenanjung Iberia, babi kembali menjadi penanda batas. Situs-situs arkeologi dari periode Islam di Spanyol menunjukkan hampir tidak ada tulang babi.

Namun yang lebih menarik terjadi setelah Reconquista, ketika Muslim yang tersisa (Morisco) terpaksa masuk Kristen secara nominal. Di ruang-ruang privat dapur mereka, penghindaran babi terus berlangsung diam-diam. Inkuisisi Spanyol, yang sadar akan pentingnya pangan sebagai penanda identitas, secara aktif menyelidiki apakah seseorang memasak dengan minyak atau lemak babi. Babi menjadi medan pertempuran antara identitas dan kekuasaan.

 

Babi dalam Politik Kontemporer

Lompat ke abad ke-21. Di Denmark, partai sayap kanan menggunakan babi sebagai simbol “ke-Danish-an” yang harus dipertahankan dari imigran Muslim. Di Malaysia, peternakan babi yang sebagian besar diusahakan warga Tionghoa menjadi locus ketegangan etnis yang berulang.

Di Nigeria, konflik antara petani Kristen dan penggembala Muslim kadang menggunakan isu babi sebagai pemicu.

Di Indonesia, kita mungkin tidak mengalami ketegangan separah itu. Namun bukankah kita juga punya cerita tentang bagaimana babi guling di Bali menjadi simbol identitas Hindu di tengah mayoritas Muslim?

Bukankah kita juga menyaksikan bagaimana isu sertifikasi halal kadang memicu perdebatan tentang “siapa yang berhak menentukan”?

Yang menarik, di era media sosial, dinamika ini semakin kompleks. Meme tentang babi beredar luas, tagar menjadi trending, dan polarisasi menguat di ruang digital. Babi yang dulu hanya urusan dapur kini menjadi urusan publik—diperdebatkan, dimobilisasi, dan kadang dipolitisasi.

 

Teknologi dan Ekonomi Halal

Namun ada sisi lain yang lebih produktif. Larangan babi juga memicu inovasi luar biasa. Hari ini, teknologi lateral flow immunoassay mampu mendeteksi kontaminasi babi dalam makanan hingga tingkat 0,001 persen—setara satu tetes dalam 10 liter. Kit rapid test ini bisa digunakan di lapangan, memberikan hasil dalam 20 menit.

Industri halal global kini bernilai triliunan dolar. Malaysia dan Indonesia bersaing menjadi pusatnya. Standar halal tidak lagi hanya urusan makanan, tetapi merambah farmasi, kosmetik, logistik, hingga pariwisata. Sertifikasi halal menjadi jembatan antara keyakinan religius dan pasar global.

Yang menggembirakan, di tengah komersialisasi ini, prinsip-prinsip kemanusiaan tetap dijaga. Islam mengenal konsep darurah—kebutuhan darurat yang membolehkan yang haram demi menyelamatkan nyawa. Saat pandemi COVID-19, para ulama mengeluarkan fatwa yang membolehkan vaksinasi meski ada kekhawatiran tentang kandungan babi.

Prinsip serupa dalam Yudaisme, pikuach nefesh, juga mengutamakan keselamatan jiwa di atas hampir semua perintah.

 

Pelajaran untuk Kita

Apa yang bisa dipelajari dari perjalanan panjang ini?

Pertama, praktik pangan bukan urusan remeh. Ia adalah identitas yang dihidupi setiap hari. Memahami mengapa saudara kita Muslim atau Yahudi tidak makan babi berarti memahami lapisan sejarah, teologi, dan sosial yang membentuk mereka.

Kedua, perbedaan tidak harus menjadi sumber konflik. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, perbedaan praktik pangan adalah keniscayaan. Yang menentukan apakah ia menjadi pemersatu atau pemecah adalah cara kita mengelolanya.

Ketiga, tradisi keagamaan memiliki kapasitas adaptasi luar biasa. Dari teknologi deteksi hingga transplantasi organ, hukum-hukum kuno terus berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.

Keempat, di era polarisasi, pemahaman menjadi kunci. Ketika kita tahu bahwa larangan babi bagi Muslim dan Yahudi bukan sekadar “kebiasaan aneh” tetapi praktik dengan akar ribuan tahun, kita bisa lebih menghargai—meski tidak harus sepakat.

***

Babi, hewan yang oleh sebagian dianggap najis dan oleh sebagian lain dinikmati sebagai kuliner, pada akhirnya menjadi cermin kemanusiaan. Ia memantulkan kembali kepada kita gambaran tentang bagaimana manusia membangun makna, menegaskan identitas, dan mengelola perbedaan.

Di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga semakin rentan terbelah, memahami babi mungkin terdengar aneh. Namun justru melalui hal-hal sederhana dan konkret seperti inilah kita belajar tentang hidup bersama dalam perbedaan. Seperti kata penyair, “kau tak perlu setuju untuk mengerti.” Dan dalam mengerti, kita mungkin menemukan jalan untuk hidup damai meski berbeda. (*)

 

Tags: babiSejarah Babishohibul anshor siregar
Previous Post

Analisis Historis Larangan Konsumsi Babi: Shohibul Anshor Siregar Ulas Perjalanan dari Masa Neolitik hingga Sertifikasi Halal Global

Next Post

45 Hari Mengabdi di Simalungun: Mahasiswa UMSU Hadirkan Semangat Belajar Baru di Pondok Pesantren Modern MBS Darul Arqom

Related Posts

Analisis Historis Larangan Konsumsi Babi: Shohibul Anshor Siregar Ulas Perjalanan dari Masa Neolitik hingga Sertifikasi Halal Global

Analisis Historis Larangan Konsumsi Babi: Shohibul Anshor Siregar Ulas Perjalanan dari Masa Neolitik hingga Sertifikasi Halal Global

4 Maret 2026
126
Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

Menjaga Oksigen Demokrasi: Membongkar Krisis Struktural Keselamatan Jurnalis di Indonesia

22 Februari 2026
142
Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

Paradoks Kepercayaan Publik: Saat Polri Dipuji, Namun Reformasi Mendesak

13 Januari 2026
162
Shohibul: Protes Kampus terhadap Rezim Jokowi Penting, Tapi Sudah Sangat Terlambat

Oase Musyawarah: Menjemput Kembali Marwah Sila Keempat Pancasila dalam Arsitektur Kekuasaan

7 Januari 2026
137
Cegah Kriminalitas, Shohibul: Muhammadiyah Perlu Tentukan Prioritas Orientasi Dakwahnya

Negara Dinilai Sengaja Abai, Hak Masyarakat Adat Terus Dikorbankan

15 Desember 2025
157
Akademisi Kritik Komdigi: Negara Garang pada Platform Pendidikan, Tapi Gagap Melawan Judi Online

Di Balik Banjir Sumatera dan Kepanikan Politik Nasional

2 Desember 2025
177
Next Post
45 Hari Mengabdi di Simalungun: Mahasiswa UMSU Hadirkan Semangat Belajar Baru di Pondok Pesantren Modern MBS Darul Arqom

45 Hari Mengabdi di Simalungun: Mahasiswa UMSU Hadirkan Semangat Belajar Baru di Pondok Pesantren Modern MBS Darul Arqom

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In