✍️ Shohibul Anshor Siregar
Ketua LHKP PW Muhammadiyah Sumut
Seekor babi. Hewan yang tampak biasa ini ternyata menyimpan ribuan tahun sejarah, perdebatan teologis yang mendalam, dan kini menjadi simbol dalam politik identitas global. Bagi miliaran umat Yahudi dan Muslim di seluruh dunia, babi bukan sekadar hewan—ia adalah batas yang membedakan “halal” dari “haram”, “tahor” dari “tame”, “kita” dari “mereka”.
Perjalanan panjang larangan konsumsi babi mengungkap sesuatu yang fundamental tentang keberagamaan manusia. Sebuah larangan sederhana yang tertulis dalam kitab suci ternyata mampu bertahan melintasi ribuan tahun, melampaui perubahan imperium, migrasi besar-besaran, hingga revolusi teknologi. Mengapa ia begitu kuat?
Akar Sejarah yang Dalam
Domestikasi babi di Levant (kawasan yang kini mencakup Palestina, Israel, Yordania, dan Suriah) telah berlangsung sejak 9.000 tahun lalu—jauh sebelum bangsa Israel terbentuk.
Pada Zaman Perunggu, babi adalah bagian normal dari menu masyarakat Kanaan. Lalu mengapa kemudian ia dihindari?
Para arkeolog menemukan jawaban menarik dari Zaman Besi (1200-586 SM). Ketika bangsa Filistin—pendatang dari kawasan Aegea—menetap di dataran rendah pesisir, mereka membawa serta tradisi konsumsi babi yang kuat. Situs-situs Filistin seperti Ashkelon dan Ekron menunjukkan proporsi tulang babi mencapai 20 persen dari total tulang hewan.
Sebaliknya, permukiman Israel awal di dataran tinggi menunjukkan proporsi di bawah 1 persen.
Kontras ini bukan kebetulan. Penghindaran babi menjadi penanda etnis yang membedakan “kita” (Israel) dari “mereka” (Filistin). Apa yang mungkin berawal dari perbedaan kebiasaan kemudian dikodifikasi dalam kitab suci—Imamat 11 dan Ulangan 14—menjadi perintah ilahi yang abadi.
Ketika Keyakinan Bertemu Politik
Perjalanan larangan ini tidak berhenti pada teks. Ia terus berkembang, beradaptasi, dan kadang menjelma menjadi senjata politik.
Pada abad ke-2 SM, penguasa Yunani Antiokhus IV Epifanes memaksa orang Yahudi memakan babi di Bait Allah sebagai bagian dari upaya membasmi agama Yahudi. Para syuhada seperti Eleazar dan tujuh bersaudara memilih mati daripada melanggar keyakinan. Babi menjadi simbol keteguhan iman.
Tujuh abad kemudian, ketika Islam menaklukkan Semenanjung Iberia, babi kembali menjadi penanda batas. Situs-situs arkeologi dari periode Islam di Spanyol menunjukkan hampir tidak ada tulang babi.
Namun yang lebih menarik terjadi setelah Reconquista, ketika Muslim yang tersisa (Morisco) terpaksa masuk Kristen secara nominal. Di ruang-ruang privat dapur mereka, penghindaran babi terus berlangsung diam-diam. Inkuisisi Spanyol, yang sadar akan pentingnya pangan sebagai penanda identitas, secara aktif menyelidiki apakah seseorang memasak dengan minyak atau lemak babi. Babi menjadi medan pertempuran antara identitas dan kekuasaan.
Babi dalam Politik Kontemporer
Lompat ke abad ke-21. Di Denmark, partai sayap kanan menggunakan babi sebagai simbol “ke-Danish-an” yang harus dipertahankan dari imigran Muslim. Di Malaysia, peternakan babi yang sebagian besar diusahakan warga Tionghoa menjadi locus ketegangan etnis yang berulang.
Di Nigeria, konflik antara petani Kristen dan penggembala Muslim kadang menggunakan isu babi sebagai pemicu.
Di Indonesia, kita mungkin tidak mengalami ketegangan separah itu. Namun bukankah kita juga punya cerita tentang bagaimana babi guling di Bali menjadi simbol identitas Hindu di tengah mayoritas Muslim?
Bukankah kita juga menyaksikan bagaimana isu sertifikasi halal kadang memicu perdebatan tentang “siapa yang berhak menentukan”?
Yang menarik, di era media sosial, dinamika ini semakin kompleks. Meme tentang babi beredar luas, tagar menjadi trending, dan polarisasi menguat di ruang digital. Babi yang dulu hanya urusan dapur kini menjadi urusan publik—diperdebatkan, dimobilisasi, dan kadang dipolitisasi.
Teknologi dan Ekonomi Halal
Namun ada sisi lain yang lebih produktif. Larangan babi juga memicu inovasi luar biasa. Hari ini, teknologi lateral flow immunoassay mampu mendeteksi kontaminasi babi dalam makanan hingga tingkat 0,001 persen—setara satu tetes dalam 10 liter. Kit rapid test ini bisa digunakan di lapangan, memberikan hasil dalam 20 menit.
Industri halal global kini bernilai triliunan dolar. Malaysia dan Indonesia bersaing menjadi pusatnya. Standar halal tidak lagi hanya urusan makanan, tetapi merambah farmasi, kosmetik, logistik, hingga pariwisata. Sertifikasi halal menjadi jembatan antara keyakinan religius dan pasar global.
Yang menggembirakan, di tengah komersialisasi ini, prinsip-prinsip kemanusiaan tetap dijaga. Islam mengenal konsep darurah—kebutuhan darurat yang membolehkan yang haram demi menyelamatkan nyawa. Saat pandemi COVID-19, para ulama mengeluarkan fatwa yang membolehkan vaksinasi meski ada kekhawatiran tentang kandungan babi.
Prinsip serupa dalam Yudaisme, pikuach nefesh, juga mengutamakan keselamatan jiwa di atas hampir semua perintah.
Pelajaran untuk Kita
Apa yang bisa dipelajari dari perjalanan panjang ini?
Pertama, praktik pangan bukan urusan remeh. Ia adalah identitas yang dihidupi setiap hari. Memahami mengapa saudara kita Muslim atau Yahudi tidak makan babi berarti memahami lapisan sejarah, teologi, dan sosial yang membentuk mereka.
Kedua, perbedaan tidak harus menjadi sumber konflik. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, perbedaan praktik pangan adalah keniscayaan. Yang menentukan apakah ia menjadi pemersatu atau pemecah adalah cara kita mengelolanya.
Ketiga, tradisi keagamaan memiliki kapasitas adaptasi luar biasa. Dari teknologi deteksi hingga transplantasi organ, hukum-hukum kuno terus berdialog dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Keempat, di era polarisasi, pemahaman menjadi kunci. Ketika kita tahu bahwa larangan babi bagi Muslim dan Yahudi bukan sekadar “kebiasaan aneh” tetapi praktik dengan akar ribuan tahun, kita bisa lebih menghargai—meski tidak harus sepakat.
***
Babi, hewan yang oleh sebagian dianggap najis dan oleh sebagian lain dinikmati sebagai kuliner, pada akhirnya menjadi cermin kemanusiaan. Ia memantulkan kembali kepada kita gambaran tentang bagaimana manusia membangun makna, menegaskan identitas, dan mengelola perbedaan.
Di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga semakin rentan terbelah, memahami babi mungkin terdengar aneh. Namun justru melalui hal-hal sederhana dan konkret seperti inilah kita belajar tentang hidup bersama dalam perbedaan. Seperti kata penyair, “kau tak perlu setuju untuk mengerti.” Dan dalam mengerti, kita mungkin menemukan jalan untuk hidup damai meski berbeda. (*)








