TAJDID.ID~Medan || Upaya menghadirkan kesetaraan pembelajaran matematika bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, terus didorong melalui inovasi teknologi pendidikan. Salah satu terobosan tersebut diwujudkan melalui program bertajuk “GeoCulturAR: Geometry Learning App Based on 3D Ethnomathematics untuk Mendorong Kesetaraan Belajar Matematika Anak Tunagrahita di Sekolah Inklusi Kota Medan.”
Program ini merupakan bagian dari Innovillage 6th yang berfokus pada implementasi inovasi digital untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan inklusif. Implementasi dan sosialisasi aplikasi GeoCulturAR dilaksanakan pada 7 Februari 2026 di SD Negeri 067261 Medan Marelan, sekolah yang menerapkan sistem pendidikan inklusi dengan melibatkan siswa reguler dan siswa tunagrahita dalam proses pembelajaran bersama.
Program tersebut diinisiasi oleh Tim Singuara FKIP UMSU yang terdiri atas Nazwa Afrillia dan Fauziah Amelia dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Ikmal Fahrizan dari Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FIKTI). Tim ini dibimbing oleh dosen Program Studi Pendidikan Matematika, Arief Aulia Rahman, M.Pd.
Pembelajaran Geometri Berbasis Augmented Reality
GeoCulturAR dikembangkan sebagai aplikasi pembelajaran geometri berbasis Augmented Reality (AR) yang dirancang untuk membantu siswa memahami konsep bangun ruang secara lebih konkret dan visual. Melalui teknologi ini, objek geometri seperti kubus, balok, prisma, dan limas ditampilkan dalam bentuk tiga dimensi interaktif.
Siswa dapat melihat, memutar, memperbesar, dan mengamati objek dari berbagai sudut pandang. Pendekatan visual dan manipulatif ini dinilai efektif, khususnya bagi siswa tunagrahita yang membutuhkan media konkret untuk memperkuat pemahaman terhadap konsep abstrak.
Keunggulan utama GeoCulturAR terletak pada integrasi pendekatan etnomatematika berbasis budaya lokal. Visualisasi bangun ruang tidak hanya ditampilkan dalam bentuk geometris murni, tetapi juga dikaitkan dengan unsur budaya Sumatera Utara. Dengan demikian, siswa tidak hanya mempelajari konsep matematika, tetapi juga mengenal nilai dan kekayaan budaya di lingkungan mereka. Pembelajaran pun menjadi lebih kontekstual, bermakna, dan menyenangkan.
Antusiasme Siswa dan Dukungan Pihak Sekolah
Kegiatan implementasi diawali dengan sosialisasi kepada pihak sekolah dan guru terkait latar belakang, tujuan, serta manfaat aplikasi. Tim kemudian melakukan demonstrasi penggunaan GeoCulturAR yang dilanjutkan dengan praktik langsung oleh siswa reguler dan siswa tunagrahita.
Selama sesi praktik, siswa menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka tampak penasaran saat bangun ruang muncul secara virtual di hadapan mereka. Bagi siswa tunagrahita, pengalaman visual tersebut membantu meningkatkan fokus, ketertarikan, serta keberanian untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Dekan III FKIP UMSU, Dr. Mandra Saragih, M.Hum; Kepala SDN 067261 Medan Marelan, Elly Juriah Ritonga, S.Pd; Pengawas Sekolah Kecamatan Medan Marelan, Emi Sundari, M.Pd; para guru; relawan; serta tim pelaksana program.
Dalam sambutannya, dosen pembimbing program, Arief Aulia Rahman, M.Pd., CISHR, menegaskan bahwa GeoCulturAR lahir dari kebutuhan riil di lapangan, khususnya dalam pembelajaran matematika di sekolah inklusi.
“GeoCulturAR kami rancang sebagai jembatan kesetaraan belajar. Anak tunagrahita memiliki hak yang sama untuk memahami matematika, hanya medianya yang perlu disesuaikan. Melalui visualisasi 3D berbasis budaya, kami ingin menghadirkan pembelajaran yang lebih manusiawi dan inklusif,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi etnomatematika menjadi kekuatan tersendiri dalam inovasi tersebut. “Matematika tidak harus jauh dari budaya. Ketika konsep dikaitkan dengan lingkungan siswa, pemahaman menjadi lebih kuat dan pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka.”
Apresiasi dan Harapan Keberlanjutan
Apresiasi juga disampaikan oleh Wakil Dekan III FKIP UMSU, Dr. Mandra Saragih, M.Hum. Ia menilai program ini mencerminkan peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan melalui inovasi berbasis teknologi.
“Kami sangat bangga melihat mahasiswa mampu menghadirkan solusi nyata bagi pendidikan inklusi. GeoCulturAR bukan sekadar aplikasi, tetapi wujud kepedulian akademisi terhadap kesetaraan pendidikan,” ungkapnya.
Ia berharap inovasi serupa dapat direplikasi di lebih banyak sekolah inklusi. Menurutnya, inovasi berbasis teknologi dan budaya seperti GeoCulturAR perlu diperluas agar manfaatnya dirasakan secara lebih luas oleh sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Dari pihak sekolah, Kepala SDN 067261 Medan Marelan, Elly Juriah Ritonga, S.Pd., menyampaikan terima kasih atas implementasi program tersebut. Ia menilai aplikasi ini sangat membantu guru dalam menjelaskan materi geometri, khususnya kepada siswa tunagrahita.
“Aplikasi ini sangat membantu guru dalam menjelaskan konsep geometri yang abstrak. Anak-anak terlihat lebih fokus, lebih senang, dan lebih mudah memahami materi,” tuturnya.
Ia juga berharap kerja sama antara perguruan tinggi dan sekolah dapat terus berlanjut melalui program pendampingan dan pengembangan aplikasi secara berkelanjutan.
Dampak Positif bagi Pembelajaran Inklusif
Berdasarkan hasil observasi awal selama implementasi, penggunaan GeoCulturAR menunjukkan dampak positif terhadap proses pembelajaran. Siswa tunagrahita lebih mudah mengenali bentuk, unsur, dan karakteristik bangun ruang, sementara siswa reguler turut merasakan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Pembelajaran menjadi ruang kolaboratif yang setara, di mana seluruh siswa dapat menggunakan media yang sama tanpa sekat. Selain berdampak pada siswa, guru juga memperoleh tambahan media ajar inovatif yang mendukung pembelajaran diferensiasi dan praktik pendidikan inklusif.
Ke depan, Tim Singuara berencana mengembangkan GeoCulturAR dari sisi fitur dan cakupan implementasi, termasuk penambahan materi, integrasi audio pembelajaran, serta perluasan penggunaan ke sekolah inklusi lainnya di Kota Medan maupun wilayah lain.
Melalui program Innovillage 6th, kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan sekolah ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat menjadi sarana efektif dalam menjembatani kesenjangan pembelajaran.
GeoCulturAR hadir bukan hanya sebagai aplikasi, tetapi juga sebagai simbol komitmen menghadirkan pendidikan matematika yang setara, inklusif, dan berakar pada budaya bangsa.
Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, diharapkan inovasi ini mampu menjadi model pembelajaran geometri inklusif yang dapat direplikasi secara lebih luas di Indonesia. (*)








