TAJDID.ID~Binjai || Suasana Ramadhan yang penuh berkah menjadi latar gelaran kegiatan akademik yang tak biasa. Program Studi Manajemen Program Doktor Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar “Ramadhan Doktoral Inspiratif: Akademik dan Aksi Sosial – Short Course on Research and Publication” di Bestro, Kota Binjai, Ahad (1/3/2026).
Kegiatan yang menggabungkan aspek keilmuan dan kepedulian sosial ini dihadiri jajaran pimpinan Sekolah Pascasarjana UMSU, para dosen, serta mahasiswa Program Doktor Manajemen angkatan 2024 dan 2025.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU Assoc Prof Dr Adi Mansar SH MHum, Ketua Prodi Manajemen Doktor Prof Dr Ir R Sabrina, Sekretaris Prodi Dr Mhd Irfan Nasution, serta para dosen: Dr. Muhammad Andi Prayogi SE MSi, Prof. Dr. Maya Sari, Prof. Jufrizen, Assoc Prof Dr Ade Gunawan SE MSi, dan Dr. Syafrida Hani SE MSi.
Ramadhan sebagai Momentum Pengabdian
Dalam sambutannya, Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU Assoc. Prof. Dr. Adi Mansar SH MHum menegaskan bahwa Ramadhan harus menjadi momentum kebersamaan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Ilmu yang dipelajari tidak boleh berhenti pada ruang diskusi dan ruang seminar, tetapi harus menjelma menjadi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Ramadhan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan juga ibadah sosial,” tegasnya di hadapan puluhan peserta.
Senada dengan itu, Ketua Prodi Doktor Manajemen Prof Sabrina mengingatkan bahwa bulan suci ini adalah bulan kepedulian. Menurutnya, seorang doktor manajemen harus memiliki sensitivitas sosial dan memahami realitas yang terjadi di tengah masyarakat.
“Kepekaan itulah yang akan melahirkan riset yang relevan, aplikatif, dan berdampak. Riset bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan jawaban atas persoalan nyata,” ujar Prof. Sabrina.
Manusia, Pusat Keberlanjutan Organisasi
Dalam perspektif keilmuan, diskursus yang berkembang dalam kegiatan ini menyentuh gagasan manajemen sumber daya manusia berkelanjutan. Para akademisi yang hadir sepakat bahwa organisasi masa depan tidak hanya dituntut produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Artinya, pengelolaan sumber daya manusia harus berorientasi jangka panjang—mengembangkan kompetensi, menjaga integritas, meningkatkan kesejahteraan, serta membangun budaya kerja yang etis dan adaptif. Manusia tidak boleh dipandang sekadar faktor produksi, melainkan pusat dari keberlanjutan organisasi.
Para peserta juga mendapatkan motivasi agar tidak takut menghadapi tugas-tugas intelektual dan akademik. Tantangan metodologi, publikasi ilmiah, revisi disertasi, serta kritik akademik dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan kapasitas kepemimpinan ilmiah.
Karakter sebagai Fondasi Keilmuan
Acara yang berlangsung hingga sore hari itu ditutup dengan ceramah agama oleh Abdullah Ridho, S.Pd.I., M.H.I. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan adalah madrasah pembentukan karakter.
“Kejujuran dalam penelitian, kesabaran dalam proses ilmiah, dan kepedulian terhadap sesama merupakan nilai yang harus melekat dalam diri seorang akademisi. Tanpa karakter, ilmu bisa kehilangan arah,” pesannya.
Dari Bestro Kota Binjai, pada Minggu yang penuh berkah itu, tersampaikan pesan kuat bahwa keberanian intelektual harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial. Ilmu harus mengakar pada nilai, dan gelar doktor pada akhirnya adalah amanah untuk menghadirkan kebermanfaatan yang berkelanjutan.
“Sebagaimana keyakinan kita bahwa manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, maka doktor yang sejati bukanlah yang paling banyak teorinya, tetapi yang paling terasa dampaknya,” demikian pesan yang menggema di akhir kegiatan. (*)
✍️ Jufri








