✍️ Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Di bawah tenda putih-hijau yang teduh, pada momentum peletakan batu pertama Masjid KH Ahmad Dahlan di Kampus IV Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, saya tidak hanya menyaksikan awal pembangunan sebuah rumah ibadah. Saya menyaksikan pertemuan takdir, persahabatan, dan jejak panjang pengabdian.
Tiga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah hadir dalam satu barisan: Binjai, Serdang Bedagai, dan Deli Serdang, . Mereka bukan sekadar pimpinan organisasi. Mereka adalah sahabat dan senior dalam perjalanan yang tidak sebentar.
Mas Juriadi , Ketua PDM Binjai, adalah sahabat yang saya kenal dengan keluasan jejaring dan ketulusan langkah. Kedekatannya yang sudah lama dengan Dahnil Anzar Simanjuntak bukanlah kedekatan yang lahir karena jabatan, tetapi karena proses panjang kebersamaan dalam gerakan. Tahun lalu, tanpa rencana besar, ia diantarkan ke Tanah Suci. Tahun ini kembali lagi. Seolah Allah menunjukkan bahwa jalan pengabdian yang dijaga dengan niat baik sering kali dibalas dengan kejutan-kejutan kebaikan.
Bang Akhyar, Ketua PDM Serdang Bedagai, adalah sahabat sejak sama-sama berproses di Pemuda Muhammadiyah. Dari ruang-ruang diskusi kepemudaan hingga kini mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Serdang Bedagai, konsistensinya tetap sama: membina generasi dan menjaga marwah gerakan. Ia membuktikan bahwa kader Muhammadiyah bisa hadir di birokrasi tanpa kehilangan ruh dakwahnya.
Bang Ibnu Hajar, Ketua PDM Deli Serdang, sahabat yang tenang namun kokoh. Seorang birokrat di Pemkab Deli Serdang yang memahami bahwa jabatan adalah amanah, bukan panggung. Ia bekerja tanpa banyak suara, tetapi dengan kesungguhan yang terasa. Sosok seperti inilah yang sering kali menjadi penyangga diam-diam bagi keberlanjutan gerakan.
Di antara para ibu Aisyiyah yang duduk rapi dengan warna hijau-kuning khasnya, di antara kader-kader yang khidmat, saya melihat Muhammadiyah dalam wajah yang paling jujur: persahabatan yang tidak terputus oleh jabatan, kolaborasi yang tidak terhalang oleh ego, dan kepemimpinan yang tidak tercerabut dari nilai.
Masjid yang akan berdiri ini kelak bukan hanya tempat sujud. Ia akan menjadi ruang kaderisasi, ruang dialog, ruang pembentukan karakter. Di sanalah ilmu dan iman dipertemukan. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa intelektualitas harus ditopang oleh ketundukan kepada Allah dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.
Saya selalu percaya, manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam diri tiga sahabat ini, saya melihat ikhtiar untuk terus bermanfaat—melalui organisasi, melalui birokrasi, melalui jejaring kebangsaan. Mereka berjalan di jalur yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: membesarkan umat dan menguatkan bangsa.
Peletakan batu pertama ini sesungguhnya adalah simbol. Kita sedang menanam batu, tetapi yang ingin kita teguhkan adalah nilai. Kita sedang membangun masjid, tetapi yang ingin kita kokohkan adalah persaudaraan. Dan dari persaudaraan yang tulus itulah lahir kekuatan umat.
Semoga bangunan ini berdiri megah. Namun lebih dari itu, semoga hati-hati kita tetap rendah, langkah-langkah kita tetap lurus, dan persahabatan kita tetap terjaga dalam satu barisan pengabdian.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








