✍️ Jufri
Ketua PDM Kota Tebing Tinggi
Tanggal 27 Februari selalu menghadirkan ingatan tentang sebuah tekad yang ditanam hampir tujuh dekade lalu. Pada 27 Februari 1957, lahirlah Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Kota Medan, sebagai amal usaha Muhammadiyah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Ia tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari keyakinan: bahwa pendidikan adalah jalan peradaban.
Kini UMSU berusia 69 tahun. Usia kematangan, usia konsolidasi. Dan pada tahun 2027, menjelang pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49, UMSU akan memasuki usia 70 tahun. Sebuah momentum bersejarah. Seolah waktu sedang menyatukan dua peristiwa besar: milad emas menuju tujuh dekade, dan muktamar sebagai forum tertinggi persyarikatan.
Meski puncak peringatan milad tahun ini dilaksanakan pada 28 Februari 2026 untuk menyesuaikan suasana Ramadhan, peringatannya mencapai puncak dalam ceramah Prof. Dr. Muhadjir Effendy di Auditorium Kampus Mukhtar Basri. Dari mimbar itu beliau mengingatkan, momentum tidak datang dua kali. Jika ada kesempatan untuk berbuat besar, jangan ditunda.
Beliau juga menyinggung dinamika geopolitik global, termasuk beratnya jalan kemerdekaan Palestina yang sering berhadapan dengan veto Amerika Serikat dan kompleksitas politik kawasan yang melibatkan Israel. Ikhtiar tidak boleh menyerah. Disebut pula adanya diskusi Dewan Pertimbangan Presiden dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto terkait berbagai isu strategis. Namun di atas semua dinamika itu, fondasi tetap tauhid—Allah satu-satunya kekuatan dan tujuan. Ber-Muhammadiyah adalah ibadah; itulah hakikat tauhid dalam gerakan.
UMSU adalah kampus peradaban dan pengkaderan Muhammadiyah. Ia bukan sekadar tempat meraih gelar akademik, tetapi ruang membentuk karakter dan kepemimpinan. Kader-kader potensial harus diberi akses dan ruang untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu, sebagai bekal menjadi kader umat dan kader bangsa, hari ini dan esok. Pendidikan yang terbuka adalah bentuk nyata dakwah berkemajuan.
Pembangunan Masjid KH. Ahmad Dahlan di Kampus IV menjadi simbol dari arah tersebut. Menurut Rektor UMSU, Prof. Agusani, pembangunannya menelan biaya sekitar 19 miliar rupiah. Marmernya didatangkan dari Mesir, sementara kubahnya mengadopsi desain Masjid Raya Al Mashun sebagai perwujudan penghargaan terhadap budaya Melayu pantai timur Sumatera Utara . Masjid ini dirancang sebagai pusat ibadah, destinasi wisata Muhammadiyah, serta terintegrasi dengan kebun buah Muhammadiyah di kawasan kampus terpadu.
Menurut Prof. Hasyim Nasution, Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Utara, masjid ditempatkan di bagian depan sebagai karakteristik kampus Muhammadiyah, nilai berada di depan, menjadi wajah utama. Sementara Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Wakil Gubernur Surya, BSc, menekankan pentingnya niat dan komitmen: masjid harus berdiri megah, tetapi lebih penting lagi makmur dengan jamaahnya. Ia harus inklusif, terbuka, dan menghadirkan manfaat bagi semua.
Kini kita menatap 2027. Semoga kado 70 tahun UMSU dan pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara benar-benar mengantarkan Indonesia berkemajuan. Bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kualitas pendidikan, kekuatan kaderisasi, kematangan demokrasi, dan kokohnya nilai tauhid dalam kehidupan berbangsa. (*)
Silaturahmi~Kolaborasi~Sinergi~Harmoni








