Oleh : Jufri
Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang “Ra” dan “RO”. Namun kali ini saya ingin mengulangnya kembali, sebab ungkapan sederhana dalam khasanah bahasa Mandailing ini terasa semakin relevan untuk dimaknai—terutama dalam kehidupan beribadah, menjalankan kewajiban, serta dalam aktivitas sosial dan organisasi.
“Ra” berarti mau. Biasanya ia didahului kata “Pala”, yang berarti jika atau kalau. Maka “Pala Ra” artinya jika mau.
Sedangkan “Ro” berarti datang. Dalam makna utuhnya: jika seseorang mau, maka dia akan datang.
Ungkapan itu sederhana: “Pala Ra, Ro”. Jika mau, dia akan datang. Jika mau, dia akan melakukan.
Dan sebaliknya: “Pala inda ra, inda ro”. Jika tidak mau, maka tidak akan datang.
Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini sering saya sampaikan sebagai pencerahan. Sebab seringkali persoalan bukan pada tidak mampu, bukan pada tidak ada waktu, bukan pada tidak ada kesempatan—tetapi pada tidak mau.
Orang yang berkenan, pasti akan mencari jalan. Orang yang tidak mau, akan mencari alasan.
Dalam organisasi, hal ini sering terlihat jelas. Ada yang menerima amanah, bahkan terkadang memintanya sendiri. Namun ketika tiba saat melaksanakan, ia diam. Tidak bergerak. Tidak responsif. Tidak bertanya. Tidak memberi perhatian. Seolah amanah itu bukan tanggung jawabnya.
Di tempat lain, ia begitu aktif. Kegiatannya diposting di media sosial. Energinya melimpah. Seolah yang satu sangat penting, yang lainnya tak perlu sama sekali. Sikap seperti ini tentu menimbulkan tanda tanya bagi mereka yang berada dalam satu barisan perjuangan.
Tentu setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Tidak semua orang harus melakukan semua hal. Namun setiap pilihan adalah ujian. Dan setiap amanah adalah cermin.
Jika memang tidak mau, seharusnya dengan kesatria meninggalkannya. Agar yang lain tidak salah langkah. Agar barisan tetap rapi. Agar tidak ada yang menunggu pada harapan yang kosong.
Sebab seringkali dalam kehidupan ini, kemampuan bicara tidak sepadan dengan kemampuan menimbang perasaan orang lain. Kita mudah berkata “insya Allah”, mudah menyatakan kesiapan, tetapi berat menjaga konsistensi.
Di sinilah makna terdalam “Ra” dan “Ro’.
Ia bukan sekadar soal hadir atau tidak hadir. Ia bukan sekadar soal datang atau tidak datang.
Ia adalah soal kejujuran pada diri sendiri. Ia adalah soal integritas dalam amanah. Ia adalah soal kesesuaian antara kata dan tindakan.
Dalam ibadah pun demikian.
Jika kita benar-benar mau mendekat kepada Tuhan, kita akan datang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan hati.
Jika kita benar-benar mau memperbaiki diri, kita akan bergerak, bukan sekadar berniat.
Karena pada akhirnya hidup ini sederhana: Apa yang benar-benar kita mau, di situlah kita akan hadir.
Maka ungkapan orang tua kita terasa begitu dalam:
“Pala Ra, Ro. Pala inda ra, inda ro”.
Sederhana, tetapi tajam.
Pendek, tetapi penuh makna. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







