• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Rabu, Februari 25, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Nasionalisme yang Selektif, Konstitusi yang Diuji, dan Keteladanan yang Kita Tunggu

Jufri by Jufri
2026/02/25
in Jufri Daily, Nasional, Opini
0
Nasionalisme yang Selektif, Konstitusi yang Diuji, dan Keteladanan yang Kita Tunggu
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh : Jufri

Belakangan ini kata nasionalisme begitu mudah diucapkan. Ia hadir di mimbar-mimbar pidato, di linimasa media sosial, bahkan di ruang-ruang debat yang panas. Nasionalisme seolah menjadi alat ukur paling sahih untuk menilai siapa yang setia dan siapa yang patut dicurigai.

Ketika ada warga yang dianggap lalai , penerima beasiswa yang tidak pulang, individu yang dinilai tak memenuhi kewajiban , hujatan datang bertubi-tubi. Kata “pengkhianat” dilempar tanpa ragu. Jiwa nasionalisme dipertanyakan. Seakan-akan ukuran cinta tanah air berhenti pada satu dua kasus individu.

Saya setuju, orang yang menerima beasiswa dari negara harus punya jiwa nasionalisme yang tinggi. Itu bukan tuntutan berlebihan. Uang yang mereka terima berasal dari pajak rakyat. Ada harapan yang dititipkan di sana. Ada amanah yang harus dijaga. Nasionalisme dalam konteks itu berarti kesediaan memberi kembali kepada negeri, dalam bentuk ilmu, karya, atau kontribusi nyata.

Namun di saat yang sama, kebijakan bernilai puluhan bahkan ratusan triliun berjalan. Proyek besar, impor besar, program ambisius, belanja negara dalam skala masif. Energi kritik tak selalu sebanding. Ada yang lantang kepada sesama warga, tetapi pelan ketika menyentuh sistem dan kekuasaan.

Di titik ini kita perlu bercermin: apakah nasionalisme kita tumbuh, atau justru menjadi selektif?

Nasionalisme bukan sekadar marah kepada individu. Nasionalisme adalah keberanian menjaga uang rakyat, mengawasi kekuasaan, dan memastikan kebijakan publik berpijak pada kepentingan bersama. Jika ratusan miliar dianggap kerugian besar, maka puluhan triliun seharusnya memancing pengawasan yang jauh lebih serius. Jika warga biasa diuji loyalitasnya, maka pejabat publik harus diuji integritasnya dengan standar yang lebih tinggi.

Sebab nasionalisme pertama-tama adalah tanggung jawab penyelenggara negara.

Seberapa besar nasionalisme pejabat jika korupsi masih marak? Jika penyalahgunaan wewenang terus terjadi? Jika hukum terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas?

Lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kejaksaan Agung Republik Indonesia, dan terutama Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia bukan sekadar struktur administratif. Mereka adalah penjaga marwah negara hukum.

Kita pernah menyaksikan hakim konstitusi dijatuhi sanksi etik oleh Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi. Itu bukan sekadar berita lalu berlalu. Itu adalah pengingat bahwa bahkan penjaga konstitusi pun bisa tergelincir. Dan ketika itu terjadi, publik berhak gelisah.

Konstitusi bukan dokumen biasa. Ia adalah kesepakatan luhur bangsa, pagar pembatas kekuasaan. Ia dibuat bukan untuk mempermudah ambisi, tetapi untuk menjaga agar kekuasaan tidak melampaui batasnya. Jika muncul kesan bahwa konstitusi ditafsirkan demi kepentingan tertentu, wajar bila publik bertanya.

Dan di sinilah kegelisahan itu menemukan dasarnya: mana mungkin nasionalisme tumbuh dan hukum ditegakkan, sementara di pusat kekuasaan sendiri pelanggaran itu nyata, dan hasilnya tidak malu-malu dinikmati? Bagaimana rakyat diminta patuh pada aturan jika elite terlihat nyaman melampauinya? Bagaimana generasi muda diajarkan integritas jika mereka menyaksikan kompromi etika di panggung tertinggi?

Sering kali pertanyaan-pertanyaan seperti ini dianggap sebagai sikap “tidak move on”. Seolah-olah kedewasaan bernegara diukur dari kemampuan melupakan. Padahal dalam negara hukum, yang dibutuhkan bukan lupa, melainkan evaluasi.

Apakah semua sudah benar-benar selesai secara moral? Apakah kepercayaan publik otomatis pulih hanya karena waktu berjalan? Apakah legitimasi cukup dibangun dengan kemenangan formal tanpa menjawab kegelisahan substantif?

Mengkritik bukan berarti membenci negara. Justru itulah bentuk cinta yang dewasa. Cinta yang tidak buta. Cinta yang ingin negeri ini berdiri di atas fondasi yang kokoh, bukan sekadar di atas kemenangan prosedural.

Nasionalisme yang matang bukan nasionalisme yang alergi kritik. Ia adalah keberanian mengakui kekeliruan dan memperbaikinya. Ia adalah kesediaan menempatkan konstitusi di atas kepentingan. Ia adalah integritas dalam mengelola anggaran. Ia adalah ketegasan menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Jika nasionalisme terus ditagih ke bawah, maka keteladanan harus lebih dulu ditegakkan dari atas.

Karena pada kenyataannya , rakyat tidak hanya mendengar apa yang diucapkan pemimpinnya. Rakyat melihat apa yang dilakukan. Dan dari situlah nasionalisme menemukan maknanya , bukan sebagai slogan, tetapi sebagai sikap hidup bernegara.

Silaturahim~Kolaborasi Sinergi~Harmoni

Previous Post

FORMASSU: Surat Edaran Wali Kota Medan Harus Dibaca Utuh dan Proporsional

Next Post

Menulislah

Related Posts

Menulislah

Menulislah

25 Februari 2026
105
FORMASSU: Negara Punya Uang, Tapi Korban Bencana Tetap Dapat Recehan

FORMASSU: Surat Edaran Wali Kota Medan Harus Dibaca Utuh dan Proporsional

24 Februari 2026
107
Fenomena Alumni LPDP Enggan Kembali, LHKP PWM Sumut: Alarm Kegagalan Sistemik Persemaian Pemimpin

Fenomena Alumni LPDP Enggan Kembali, LHKP PWM Sumut: Alarm Kegagalan Sistemik Persemaian Pemimpin

24 Februari 2026
109
UMJ Nyatakan Dukungan Penuh untuk Muktamar 49 Muhammadiyah di Sumut

UMJ Nyatakan Dukungan Penuh untuk Muktamar 49 Muhammadiyah di Sumut

24 Februari 2026
123
Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial

Di Antara Tulisan, Prasangka, dan Kedewasaan Bermedia Sosial

23 Februari 2026
114
Siswa 14 Tahun di Tual Tewas, Mahupiki Soroti Mentalitas Aparat dan Desak Proses Pidana Transparan

Siswa 14 Tahun di Tual Tewas, Mahupiki Soroti Mentalitas Aparat dan Desak Proses Pidana Transparan

23 Februari 2026
126
Next Post
Menulislah

Menulislah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In