✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) hari ini bukan lagi sekadar perguruan tinggi swasta biasa. Ia tumbuh sebagai amal usaha strategis Muhammadiyah di Pantai Timur Sumatera. Dengan hampir 20.000 mahasiswa dari Strata 1 hingga Strata 3, UMSU telah menjelma menjadi pusat kaderisasi intelektual, sosial, politik, dan dakwah.
Sejak dinahkodai Prof. Agussani pada tahun 2010, UMSU menunjukkan bahwa kampus Muhammadiyah tidak hanya melahirkan akademisi, tetapi juga aktivis yang hadir di tengah masyarakat. Kampus bukan menara gading. Ia adalah ruang pembentukan karakter, integritas, dan keberanian moral.
Kini UMSU melangkah lebih jauh.
Pengembangan Kampus IV di Desa Sientis, Sampali, Kabupaten Deli Serdang menjadi penanda fase baru pertumbuhan itu. Dengan luas hampir 25 hektar, kawasan ini dirancang bukan sekadar sebagai tempat kuliah, tetapi sebagai miniatur peradaban Muhammadiyah berkemajuan di Pantai Timur Sumatera.
Di sinilah gagasan bertemu aksi.
Di sinilah ilmu pengetahuan dirawat dan dikembangkan.
Kampus IV diharapkan menjadi pusat pendidikan sekaligus laboratorium pengembangan berbagai disiplin ilmu. Ia bukan hanya ruang kelas, tetapi ruang dialog peradaban. Bukan hanya tempat belajar teori, tetapi tempat merumuskan solusi nyata bagi umat dan bangsa.
Auditorium megah yang sedang dipersiapkan akan memperkuat kemandirian kampus. Di sana kelak akan berlangsung berbagai agenda akademik, kegiatan kemuhammadiyahan, diskusi kebangsaan, hingga prosesi wisuda mahasiswa. Ia akan menjadi ruang temu ide dan semangat, ruang konsolidasi pemikiran, dan ruang perayaan capaian intelektual generasi muda.
Di kawasan itu pula telah berdiri dapur MBG sebagai laboratorium sekaligus bentuk dukungan Muhammadiyah terhadap program strategis nasional. Ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berbicara tentang konsep, tetapi juga hadir dalam praktik sosial yang konkret.
Lebih dari itu, Kampus IV memiliki makna historis karena menjadi bagian penting dari persiapan Muktamar 49 Muhammadiyah-Aisyiyah yang akan digelar di Sumatera Utara. Muktamar bukan sekadar agenda lima tahunan. Ia adalah momentum refleksi, konsolidasi, dan pembaruan gerakan.
Jika pembukaan muktamar menjadi simbol kekuatan organisasi, maka Kampus IV adalah simbol keberlanjutan peradaban. Muktamar boleh berlangsung beberapa hari, tetapi kampus akan terus hidup, mendidik, dan membentuk generasi selama puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.
Muhammadiyah sejak awal memilih jalan sunyi membangun amal usaha. Tidak selalu gaduh dalam retorika, tetapi kokoh dalam kerja nyata. Kampus IV UMSU adalah kelanjutan dari tradisi itu—membangun tanpa banyak riuh, menanam tanpa harus selalu dipuji.
Di tanah Sientis Sampali itu, sedang ditanam benih masa depan.
Bukan hanya gedung yang berdiri, tetapi harapan yang dirajut.
Bukan hanya fasilitas yang dibangun, tetapi peradaban yang sedang disemai.
Dan di situlah makna sejati pendidikan Muhammadiyah: mencerdaskan, memberdayakan, dan mencerahkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








