✍️ Jufri
Pagi ini saya kembali teringat pada satu pesan dalam “Fihi Ma Fihi” karya Jalaluddin Rumi. Tentang ulama dan penguasa. Tentang jarak yang tidak boleh hilang. Tentang niat yang tidak boleh bergeser.
Rumi tidak pernah mengajarkan permusuhan antara ilmu dan kekuasaan. Sejarah menunjukkan keduanya selalu berinteraksi. Penguasa membutuhkan nilai, dan nilai membutuhkan ruang untuk bekerja. Tetapi yang diingatkan Rumi adalah posisi batin: ulama tidak boleh berada di bawah bayang-bayang kekuasaan. Ia adalah penjaga moral, bukan sekadar alat legitimasi.
Ramadhan membuat pesan itu terasa semakin jernih.
Di bulan ini kita berlatih menahan diri. Kita menahan yang halal demi ketaatan. Kita menundukkan ego, meredam keinginan, mengontrol lisan dan sikap. Puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi pendidikan karakter. Ia melatih kita untuk tidak diperbudak oleh dorongan sesaat.
Bukankah kekuasaan juga memiliki daya tarik yang serupa dengan rasa lapar dan dahaga? Ia menggoda dengan pujian, kedekatan, akses, fasilitas, dan pengaruh. Jika tidak ada pengendalian diri, ia bisa memalingkan niat yang semula lurus menjadi samar.
Di sinilah saya melihat hubungan yang sangat dalam antara Ramadhan dan pesan Rumi. Seorang ulama yang menjaga jarak etik dari kekuasaan sejatinya sedang menjalani “puasa moral”. Ia menahan diri dari menjadi pembenar kebijakan yang keliru. Ia tidak tergoda untuk menukar integritas dengan kenyamanan. Ia tetap berdiri sebagai pengingat ketika kekuasaan mulai lupa diri.
Kekuasaan daerah maupun negara memang wajar saja dikritisi. Ia mengelola uang rakyat, kewenangan publik, dan keputusan yang berdampak luas. Kritik yang lahir dari keikhlasan bukanlah ancaman, melainkan bentuk tanggung jawab. Tanpa kritik, kekuasaan mudah terjebak pada pujian yang meninabobokan.
Ramadhan mengajarkan kejujuran. Ia mengajarkan bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik niat. Maka kedekatan dengan kekuasaan pun harus diuji dengan pertanyaan yang sama: untuk siapa ilmu ini digunakan? Untuk siapa suara ini disampaikan? Untuk siapa sikap ini diambil?
Ulama boleh berdialog dengan penguasa. Bahkan itu perlu. Tetapi ia tidak boleh larut. Ia boleh mendampingi, tetapi tidak tunduk. Ia boleh memberi dukungan, tetapi tetap memiliki keberanian untuk menegur. Karena wibawa sejati tidak lahir dari kedekatan dengan istana, melainkan dari keteguhan menjaga nilai.
Ramadhan pada akhirnya bukan hanya soal ibadah personal. Ia adalah momentum kolektif untuk membersihkan orientasi. Bagi ulama, ia adalah pengingat agar ilmu tetap menjadi cahaya. Bagi penguasa, ia adalah peringatan agar kekuasaan tetap berada dalam koridor keadilan. Bagi kita semua, ia adalah ajakan untuk tidak menukar kebenaran dengan kenyamanan.
Dan mungkin di bulan yang penuh rahmat ini, yang paling kita butuhkan bukanlah semakin dekat dengan pusat kuasa, tetapi semakin dekat dengan pusat nurani.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







