✍️ Jufri
Ketua PD Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi
Ini adalah sebagian kenangan ketika masih “kost” di Mushala Muhammadiyah Ranting Sulawesi Ujung Gading, Pasaman Barat. Mushalla kecil itu bukan sekadar tempat shalat dan mengaji, tetapi juga ruang tumbuhnya kesadaran intelektual dan keummatan. Di sanalah saya belajar bahwa dakwah bukan hanya suara dari mimbar, tetapi juga gagasan yang hidup di lembar-lembar bacaan.
Sejak tahun 1994, saya secara pribadi berlangganan majalah Al Muslimun, di samping Suara Muhammadiyah yang memang menjadi langganan ranting. Persatuan Islam (Persis) menerbitkan Al Muslimun, sementara Suara Muhammadiyah adalah media resmi Muhammadiyah. Dua majalah dengan latar organisasi berbeda, tetapi sama-sama memperkaya cakrawala berpikir keislaman saya.
Majalah Al Muslimun memuat berbagai persoalan keummatan. Dari Syari’ah seperti Fiqih Siyasah dan Aqiqah, hingga tema-tema Ummah yang mencakup Tariqh, Tsaqafah, Syakhshiyah, Alam Islamy, Manhaj, Hadits Fiqih Dakwah, Fiqih Tarbiyah, dan Suthur. Pembahasannya sistematis, argumentatif, dan merujuk pada dalil yang tertib. Bagi saya yang sedang bertumbuh dalam tradisi membaca, itu adalah sekolah kedua setelah pengajian.
Di mushalla yang sederhana itu, saya belajar bahwa perbedaan organisasi bukan alasan untuk menutup diri dari ilmu. Justru dari situlah saya memahami pentingnya keluasan pandangan. Warga Muhammadiyah membaca Al Muslimun, dan itu tidak mengurangi identitas, malah memperkaya perspektif. Ilmu tidak mengenal sekat selama ia berpijak pada dalil dan adab.
Kajian ibadah dan hadis dalam Al Muslimun cukup lengkap, termasuk persoalan hukum yang dibahas secara sistematis dan tuntas. Setiap edisi seperti dialog panjang antara teks dan realitas. Saya merasakan betul bagaimana bacaan membentuk cara berpikir: lebih runtut, lebih hati-hati dalam menyimpulkan, dan lebih berani berdiri di atas argumentasi.
Kini sebagian majalah itu sudah saya bundel. Ia bukan sekadar arsip kertas yang menguning, tetapi jejak perjalanan intelektual. Setiap jilid menyimpan aroma mushalla, suara kipas angin tua, dan semangat muda yang haus pengetahuan. Ada kenangan, ada pelajaran, ada idealisme yang pernah menyala sangat terang.
Membaca kembali bundelan itu hari ini, saya menyadari satu hal: literasi adalah investasi jangka panjang. Ia mungkin tidak segera terlihat hasilnya, tetapi ia membentuk cara kita memandang dunia, merespons perbedaan, dan menimbang persoalan umat.
Dari mushalla kecil di Ujung Gading itu, saya belajar bahwa dakwah bukan hanya soal berbicara, tetapi juga membaca. Bukan hanya soal menyampaikan, tetapi juga memperkaya diri. Dan mungkin, di situlah salah satu makna pengabdian intelektual yang sunyi namun bertahan lama.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni







