• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Kamis, Februari 19, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Agama yang Menenangkan, Bukan Memenangkan

{Refleksi Ramadan atas QS. Al-Baqarah: 177}

Hening Parlan by Hening Parlan
2026/02/19
in 'Aisyiyah, Muhammadiyah, Opini
0
Agama yang Menenangkan, Bukan Memenangkan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Hening Parlan

Wakil Ketua MLH PP Muhamamdiyah, Wakil Ketua LLH PB ‘Aisyiyah

 

Selepas tarawih, langgar kecil di desaku Manjung Kulon, Wonogiri penuh dengan jamaah sholat isya dan lanjut dengan tarawih. Usai tarawih, banyak meja – meja bulat dan meja keil secara berkelompok melakukan tadarus. Lampunya terang dan bacaan tidak semuanya cepat, ada banyak yang lambat dan pelan karena setiap kelompok beda – beda kemahirannya dalam membaca Al Qur;an. Mushaf-mushaf lama tersusun di rak kayu, beberapa sudah mulai lepas jilidnya. Angin malam membawa bau angin segar dan meja kayu yang menyimpan usia. Orang-orang datang dengan sajadah, mukena. Meraka datang tanpa undangan.

Ada yang masih mengenakan baju koko, ada yang berbatik dan semua merayakan Ramadan dengan caranya. Ada yang membawa anaknya lalu tertidur di sebelahnya sholat. Ada yang duduk lama sebelum membaca, seolah menenangkan pikiran terlebih dahulu setelah seharian bekerja. Tidak semua fasih tajwid, tidak semua lancar. Satu per satu membaca, kadang berhenti, kadang dibetulkan pelan.

Tidak ada yang menertawakan. Tidak ada yang merasa lebih alim.

Di tempat seperti itu, agama tidak terdengar keras.

Yang terdengar hanya halaman mushaf dibalik, suara serak menahan kantuk, dan sesekali gumaman pelan memperbaiki bacaan. Di sudut ruangan, the manis panas dan kental dengan kue – kue menjadi hidangan. Seseorang membawa gorengan dan kue yang di bagi dalam setiap meja.

Agama hadir sebagai kebiasaan baik: menemani, bukan memenangkan.
Malam itu mataku sampai pada sebuah ayat, QS. Al Baqarah 177, ayat yang sering kita dengar, tetapi jarang kita renungkan secara utuh:
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya; mendirikan shalat, menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang-orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Ayat ini sesungguhnya menggeser cara kita memahami agama.
Seringkali agama dipersempit menjadi penanda identitas: arah yang benar, simbol yang tepat, atau posisi yang jelas. Padahal ayat ini justru dibuka dengan penegasan bahwa kebajikan bukan soal arah wajah. Bukan dimulai dari tampilan luar, melainkan dari arah batin.

Allah memulai dari iman—sesuatu yang tak terlihat—lalu segera menghubungkannya dengan berbagi—sesuatu yang sangat terasa oleh orang lain.

Menariknya, shalat dan zakat tidak ditempatkan sebagai satu-satunya ukuran, melainkan berada di tengah rangkaian kepedulian sosial dan integritas pribadi. Ibadah menjaga hati tetap hidup, sementara kepedulian menjaga iman tetap nyata.
Di langgar kecil itu, ayat ini tidak dijelaskan panjang. Ia dipraktikkan.

Ada yang selalu membawa teh panas karena tahu jamaah dimalam hari butuh kehangatan.

Ada yang menunggu yang paling tua selesai membaca duluan.

Ada yang tetap datang meski seharian di sawah dan badan capai.

Ada yang shadaqah untuk makan bersama di langar tanpa menyebut berapa sedekahnya agar harga diri tetap terjaga.

Tak ada pengumuman. Tak ada dokumentasi. Namun semua merasakan.

Di situlah makna “menepati janji” menjadi nyata: kehadiran yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Bukan janji besar, melainkan kesediaan untuk tetap dapat dipercaya.

Ayat ini kemudian menutup dengan sabar—bukan sabar yang pasif, melainkan sabar saat sempit, sakit, dan terguncang. Sabar yang sering tidak disaksikan siapa pun selain Allah.

Ramadan melatih jenis kesabaran ini. Menahan lapar hanyalah awal, menahan reaksi adalah pelajaran berikutnya, dan menahan ego adalah tujuan sebenarnya.

Perlahan kita belajar bahwa takwa bukan pengalaman spiritual yang melayang, melainkan karakter yang terasa oleh orang lain. Orang yang bertakwa tidak selalu paling banyak berbicara agama, tetapi menghadirkan ketenangan; tidak selalu tampak paling benar, tetapi dapat dipercaya; tidak selalu di depan, tetapi dicari saat keadaan sulit.

Kebaikan akhirnya bukan peristiwa besar, melainkan kebiasaan kecil yang terus diulang. Ia tumbuh pelan dalam kejujuran, kepedulian, dan kesetiaan menjalankan amanah sehari-hari.

Ramadan bukan terutama tentang terlihat lebih saleh, melainkan menjadi pribadi yang lebih dapat diandalkan — seseorang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman. (*)

Previous Post

Penyaluran Bantuan Daging Meugang Presiden Prabowo di Aceh Tengah Disorot, Pemuda Muhammadiyah Minta Transparansi

Related Posts

Penyaluran Bantuan Daging Meugang Presiden Prabowo di Aceh Tengah Disorot, Pemuda Muhammadiyah Minta Transparansi

Penyaluran Bantuan Daging Meugang Presiden Prabowo di Aceh Tengah Disorot, Pemuda Muhammadiyah Minta Transparansi

19 Februari 2026
111
Muhammadiyah Perkuat Jaringan Relawan Psikososial Nasional, KawanMu Sumut Resmi Dibentuk

Muhammadiyah Perkuat Jaringan Relawan Psikososial Nasional, KawanMu Sumut Resmi Dibentuk

19 Februari 2026
106
Catatan Kritis 1 Tahun Duet Rico–Zakiyuddin: Kota Butuh Aksi, Bukan Sekadar Narasi

Catatan Kritis 1 Tahun Duet Rico–Zakiyuddin: Kota Butuh Aksi, Bukan Sekadar Narasi

19 Februari 2026
110
Belajar Dewasa dari Perbedaan

Belajar Dewasa dari Perbedaan

18 Februari 2026
106
Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

18 Februari 2026
130
Delapan Permintaan FKBI untuk Lindungi Konsumen Jelang Puasa Ramadan

Delapan Permintaan FKBI untuk Lindungi Konsumen Jelang Puasa Ramadan

18 Februari 2026
111

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In