• Setup menu at Appearance » Menus and assign menu to Top Bar Navigation
Rabu, Februari 18, 2026
TAJDID.ID
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto
No Result
View All Result
tajdid.id
No Result
View All Result

Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan

Padian Adi S. Siregar by Padian Adi S. Siregar
2026/02/18
in Daerah, Islam, Keislaman, Muhammadiyah, Nasional, Opini
0
Ketaatan Tanpa Validasi: Menyikapi Perbedaan Awal Ramadan
Bagikan di FacebookBagikan di TwitterBagikan di Whatsapp

Oleh: Padian Adi S. Siregar

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kampung Durian Medan

 

Setiap Ramadan, pertanyaan klasik selalu muncul: kapan puasa dimulai? Bagi banyak umat Islam, jawabannya ditetapkan melalui mekanisme ijtihad kolektif, perhitungan hisab, atau keputusan otoritas keagamaan yang memiliki legitimasi ilmiah. Namun di era digital, sebagian orang merasa perlu membandingkan dengan keputusan di negara lain, seolah kesamaan tanggal menjadi bukti kebenaran. Fenomena ini bukan sekadar soal kalender, tetapi refleksi tentang ketaatan dan niat dalam menjalankan ibadah.

Seringkali, sebagian individu yang memulai puasa lebih dahulu kemudian melihat kapan negara lain memulai Ramadan. Kesamaan tanggal kadang dijadikan pembenaran bahwa ibadah yang dijalankan adalah benar. Dalam konteks ini, membandingkan bukan lagi sekadar memahami perbedaan metode penetapan, tetapi menjadi sarana untuk menegaskan diri sendiri. Padahal, ketaatan yang tulus terhadap keputusan otoritas yang sahih seharusnya tidak memerlukan pembanding eksternal.

Di era informasi global, akses terhadap keputusan keagamaan dari berbagai negara sangat mudah. Hal ini dapat menimbulkan dorongan psikologis untuk mencari konfirmasi, seolah-olah kebenaran ibadah bergantung pada kesamaan praktik di tempat lain. Namun bagi umat yang matang dalam pemahaman agama, ketaatan tidak diukur dari apakah pihak lain melakukannya sama atau tidak. Ketaatan berdiri di atas legitimasi proses dan niat yang tulus, bukan sekadar kesamaan tanggal atau praktik dengan orang lain.

Keputusan awal Ramadan, baik melalui rukyat atau hisab, selalu memiliki dasar ilmiah dan pertimbangan hukum yang jelas. Mengikuti keputusan ini bukan bentuk ketidakmandirian berpikir, melainkan bentuk tanggung jawab dan kesadaran beribadah. Individu yang menaati keputusan otoritas yang sah tanpa mencari pembanding eksternal menunjukkan kedewasaan spiritual dan pemahaman bahwa ketaatan adalah bagian integral dari ibadah.

Perbedaan penetapan awal Ramadan di berbagai negara bukanlah hal baru. Sejak dahulu, ulama memahami bahwa metode dan kondisi geografis dapat menghasilkan perbedaan. Namun bagi mereka yang benar-benar taat, perbedaan ini bukan alasan untuk meragukan atau mencari validasi eksternal. Ketaatan yang sejati menekankan kepercayaan terhadap proses yang sahih dan integritas otoritas, bukan kebutuhan psikologis untuk membenarkan diri.

Godaan untuk membandingkan dengan negara lain memang ada di era informasi modern. Namun membandingkan ibadah dengan pihak lain untuk menegaskan kebenaran justru dapat mengaburkan makna disiplin spiritual. Umat yang matang memahami bahwa ketaatan yang tulus tidak membutuhkan validasi dari luar. Keyakinan pada proses yang sahih dan niat yang ikhlas menjadi dasar utama dalam menjalankan ibadah dengan benar.

Ramadan bukan sekadar tentang tanggal mulai puasa, tetapi tentang bagaimana umat memaknai kepercayaan dan ketaatan. Mereka yang mengikuti keputusan otoritas keagamaan tanpa mencari pembanding eksternal menunjukkan kedewasaan, disiplin, dan kesadaran akan nilai kolektif. Sebaliknya, yang terus mencari pembanding eksternal justru menempatkan kebutuhan psikologis mereka di atas makna ibadah itu sendiri.

Ketaatan dalam ibadah bukan bersifat pasif; ia berdiri di atas ilmu, pertanggungjawaban, dan niat baik untuk kemaslahatan bersama. Ramadan menjadi momentum untuk meneguhkan disiplin kolektif, solidaritas, dan integritas spiritual umat. Kekuatan umat Islam tidak diukur dari siapa yang memulai lebih dahulu dibanding negara lain, tetapi dari keyakinan terhadap proses yang sah dan kesadaran untuk menjalankan ibadah dengan niat yang ikhlas.

Dengan memahami hal ini, umat dapat menyikapi perbedaan penetapan awal Ramadan dengan tenang, tanpa tergoda untuk membandingkan dengan pihak lain. Ketaatan yang tulus menunjukkan kedewasaan spiritual, komitmen pada nilai keilmuan, dan kesadaran akan tanggung jawab bersama. Ramadan bukan hanya soal tanggal, tetapi tentang membangun disiplin, kepercayaan, dan integritas dalam menjalankan ibadah.

Pada akhirnya, kekuatan umat Islam dalam menyambut Ramadan tidak diukur dari kesamaan praktik dengan orang lain atau negara lain, tetapi dari bagaimana mereka menempatkan kepercayaan pada proses yang sah, niat yang ikhlas, dan kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah. Ramadan menjadi momen untuk memperkuat keyakinan, ketaatan, dan integritas spiritual umat, sekaligus meneguhkan nilai kolektif dalam kehidupan beragama. (*)

Tags: Buka Puasa Bersamaramadan
Previous Post

Delapan Permintaan FKBI untuk Lindungi Konsumen Jelang Puasa Ramadan

Related Posts

Puasa dalam Perspektif Pendidikan, Komunikasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia

Puasa dalam Perspektif Pendidikan, Komunikasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia

18 Februari 2026
117
Puasa dengan Gembira: Menjawab Panggilan Langit dengan Hati yang Merdeka

Puasa dengan Gembira: Menjawab Panggilan Langit dengan Hati yang Merdeka

18 Februari 2026
113
Ramadan yang Menyatukan: Moderasi, Ilmu, dan Persaudaraan

Ramadan yang Menyatukan: Moderasi, Ilmu, dan Persaudaraan

17 Februari 2026
128
Ayi Yunus Rusyana: Jadikan Ramadan sebagai Momentum Menjaga Amanah dan Meningkatkan Produktivitas

Ayi Yunus Rusyana: Jadikan Ramadan sebagai Momentum Menjaga Amanah dan Meningkatkan Produktivitas

24 Februari 2025
150
Buka Puasa Bersama, Rektorat Apresiasi Prestasi FISIP UMSU

Buka Puasa Bersama, Rektorat Apresiasi Prestasi FISIP UMSU

28 Maret 2024
192
UMSU dan Muhammadiyah Sumut Gelar Buka Puasa Bersama

UMSU dan Muhammadiyah Sumut Gelar Buka Puasa Bersama

25 Maret 2024
182

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERDEPAN

  • Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    Tiga Puisi Tentang Nabi Muhammad SAW Karya Taufiq Ismail

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
  • Said Didu Ingin Belajar kepada Risma Bagaimana Cara Melapor ke Polisi Biar Cepat Ditindaklanjuti

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Din Syamsuddin: Kita Sedang Berhadapan dengan Kemungkaran yang Terorganisir

    39 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Putuskan Sendiri Pembatalan Haji 2020, DPR Sebut Menag Tidak Tahu Undang-undang

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Kisah Dokter Ali Mohamed Zaki, Dipecat Usai Temukan Virus Corona

    36 shares
    Share 14 Tweet 9

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Anjungan

  • Profil
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Kirim Tulisan
  • Pasang Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • Liputan
    • Internasional
    • Nasional
    • Daerah
      • Pemko Binjai
    • Pemilu
      • Pilkada
    • Teknologi
    • Olah Raga
    • Sains
  • Gagasan
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Gerakan
    • Muhammadiyah
      • PTM/A
      • AUM
      • LazisMu
      • MDMC
      • MCCC
      • LabMu
    • ‘Aisyiyah
    • Ortom
      • IPM
      • IMM
      • Pemuda Muhammadiyah
      • KOKAM
      • Nasyiatul ‘Aisyiyah
      • Hizbul Wathan
      • Tapak Suci
    • Muktamar 49
  • Kajian
    • Keislaman
    • Kebangsaan
    • Kemuhammadiyahan
  • Jambangan
    • Puisi
    • Cerpen
  • Tulisan
    • Pedoman
    • Tilikan
    • Ulasan
    • Percikan
    • Catatan Hukum
    • MahasiswaMu Menulis
  • Syahdan
  • Ringan
    • Nukilan
    • Kiat
    • Celotehan
  • Jepretan
    • Foto

© 2019 TAJDID.ID ~ Media Pembaruan & Pencerahan

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In