Oleh: Jufri
Pegiat sosial politik dan dakwah peradaban
Sabar sering disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa daya. Padahal dalam ajaran Islam, sabar adalah kekuatan. Ia bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman. Sabar bukan berhenti melangkah, tetapi kemampuan menjaga arah ketika jalan terasa berat.
Dalam Al-Qur’an Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). Ayat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Kebersamaan Allah bukan diberikan kepada mereka yang paling keras suaranya, bukan pula kepada yang paling cepat reaksinya, melainkan kepada yang paling sabar dalam menjaga prinsip.
Di sinilah relevansi sabar dalam konsep Islam Berkemajuan yang menjadi manhaj gerakan Muhammadiyah.
Islam Berkemajuan bukan Islam yang emosional. Ia adalah Islam yang berpikir jernih, bergerak terukur, dan bekerja sistematis. Ia tidak larut dalam kemarahan sesaat, tetapi membangun peradaban dengan kesabaran panjang. KH. Ahmad Dahlan tidak mengubah umat dengan teriakan, melainkan dengan ketekunan mendirikan sekolah, membina akhlak, dan meluruskan arah kiblat pemikiran umat.
Sabar dalam Islam Berkemajuan adalah sabar yang produktif.
Sabar membangun amal usaha dari nol hingga menjadi jaringan pendidikan, kesehatan, dan sosial yang luas.
Sabar menghadapi kritik tanpa kehilangan adab.
Sabar menjaga kemurnian tauhid di tengah godaan pragmatisme.
Sabar dalam tajdid, yakni memurnikan yang menyimpang dan memperbarui yang usang.
Sabar seperti payung di tengah hujan. Hujan tidak berhenti. Tantangan tidak hilang. Fitnah zaman tidak surut. Tetapi dengan payung itu, langkah tidak terhenti.
Dalam konteks kebangsaan hari ini, ketika ruang publik sering dipenuhi kegaduhan, ketika perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan, sabar menjadi kualitas langka. Padahal peradaban tidak dibangun oleh kebencian. Ia dibangun oleh ketekunan, disiplin, dan visi jangka panjang.
Menuju Indonesia Emas 2045, umat Islam tidak cukup hanya bersemangat. Semangat tanpa kesabaran mudah berubah menjadi amarah. Kita memerlukan kesabaran kolektif dalam membangun pendidikan yang unggul, ekonomi yang adil, dan politik yang beradab.
Islam Berkemajuan mengajarkan keseimbangan: tegas dalam prinsip, sabar dalam proses. Kritis dalam berpikir, santun dalam bertindak. Cepat merespon, tetapi tidak tergesa-gesa memutuskan.
Karena sejatinya sabar adalah kemampuan menunda reaksi demi menjaga arah perjuangan.
Sabar bukan berarti lambat. Sabar adalah ketahanan. Dan ketahanan adalah syarat utama kemajuan.
Jika umat ingin maju, ia harus sabar. Jika bangsa ingin kuat, ia harus sabar. Dan jika dakwah ingin berumur panjang, ia harus sabar.
Sabar dalam Islam Berkemajuan adalah energi sunyi yang melahirkan karya besar.
Tetap sabar. Tetap jernih. Tetap berkemajuan. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
.







