Oleh: Jufri
Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Saya menerima sebuah foto kebersamaan dari Bang Mutholib Dumasti seorang senior yang saya hormati. Foto itu diambil di salah satu sudut ruangan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Sederhana secara visual, tetapi kaya makna secara nilai.
Di dalamnya tampak para senior saya: Ihsan Rambe dan Adi Munasib, yang juga pengurus Partai Gema Bangsa, bersama Mas Muhammad Qorib , Staf Khusus Rektor UMSU sekaligus Bendahara PW Muhammadiyah Sumatera Utara . Hadir pula dua sosok yang bagi saya adalah junior: Dekan Fakultas Ekonomi Dr. Radiman Sutan Nasution dan Dekan Fakultas Agama Islam Dr. Zai Lani
Foto ini membahagiakan saya. Bukan semata karena kebersamaan itu sendiri, tetapi karena saya tahu betul dinamika di baliknya. Dalam kehidupan berorganisasi, mereka tidak selalu berada pada garis yang sama. Ada perbedaan pandangan, perbedaan sikap, bahkan perbedaan pilihan dalam menyikapi isu-isu tertentu. Namun perbedaan itu tidak menjelma menjadi keterpisahan.
Di situlah saya melihat wajah Muhammadiyah yang berkemajuan.
Muhammadiyah sejak awal tidak dibangun di atas keseragaman pikiran, melainkan pada kesamaan nilai. Perbedaan adalah konsekuensi dari ijtihad, dari keberanian berpikir, dan dari tanggung jawab intelektual. Yang dijaga bukan agar semua orang sama, tetapi agar perbedaan tetap berada dalam koridor akhlak, adab, dan tujuan keumatan.
Bagi kader Muhammadiyah, berbeda bukan dosa, dan tidak selalu harus diselesaikan dengan saling meniadakan. Justru perbedaan itulah yang menghidupkan dialog, mematangkan sikap, dan menjaga organisasi agar tidak beku. Yang menjadi batas tegas adalah ketika perbedaan kehilangan etika dan melukai persaudaraan.
Foto ini, bagi saya, adalah pelajaran sunyi tentang kedewasaan berorganisasi. Bahwa kita bisa saja berdiri di ruang dan peran yang berbeda, di kampus, di persyarikatan, bahkan di wilayah politik, namun tetap bertemu sebagai sesama kader, sesama sahabat, sesama manusia yang saling menghormati.
Sebagai seorang kader, saya percaya:
Muhammadiyah tidak besar karena semua warganya satu suara, tetapi karena warganya mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan arah. Tidak tercerai oleh ego, tidak runtuh oleh ambisi, dan tidak dangkal dalam menyikapi keberagaman sikap.
Foto itu mengingatkan saya bahwa persaudaraan ideologis jauh lebih dalam daripada sekadar kesamaan posisi. Ia tumbuh dari niat baik, dari kesediaan saling memahami, dan dari komitmen untuk tetap berkhidmat, di mana pun kita berada.
Karena itu, kita boleh berbeda jalan, berbeda peran, bahkan berbeda pilihan, tetapi dalam Muhammadiyah, kita diajarkan untuk tidak benar-benar berpisah. (*)
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni








