TAJDID.ID || Pada 29 Januari 2026, Kampus INTI International University, Malaysia, menjadi ruang pertemuan penting antara dunia akademik dan industri melalui kuliah umum bertajuk “Bridging Academia and Industry: Practical Applications of AI in the Global Economy”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi strategis antara INTI International University dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Dr. Sam Toong Hai dari INTI International University menyampaikan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini telah melampaui statusnya sebagai konsep akademik. AI telah menjadi kekuatan nyata yang menggerakkan ekonomi global—dari manufaktur, logistik, keuangan, hingga layanan publik.
Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan dan sivitas akademika UMSU, yakni Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU Dr. Adi Mansar, Ketua Program Studi Manajemen Prof. Dr. Sabrina, serta Sekretaris Program Studi Dr. Irfan Nasution, bersama mahasiswa Program Doktor angkatan 2024 dan 2025. Kehadiran mereka menegaskan komitmen UMSU dalam memperkuat jejaring internasional dan pengembangan keilmuan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Empat Pilar AI dalam Praktik Industri
Prof. Sam menguraikan empat teknologi utama AI yang kini paling berdampak dalam dunia industri.
Pertama, Machine Learning, yang memungkinkan sistem belajar dari data untuk memprediksi perilaku konsumen, mengelola inventori, serta membantu pengambilan keputusan strategis berbasis bukti. Menurutnya, keputusan yang baik lahir dari data, bukan dari dugaan.
Kedua, Natural Language Processing (NLP), teknologi yang membuat mesin mampu memahami dan menghasilkan bahasa manusia. Dalam ekonomi global yang multibahasa, NLP menjadi jembatan komunikasi—mulai dari chatbot layanan publik, penerjemahan otomatis, hingga asisten virtual.
Ketiga, Computer Vision, yang memungkinkan mesin menganalisis gambar dan video secara presisi. Teknologi ini banyak digunakan dalam industri manufaktur untuk pengendalian kualitas dan keselamatan kerja.
Keempat, Reinforcement Learning, yaitu sistem yang belajar dari pengalaman dan konsekuensi. Teknologi ini diterapkan dalam robotika, logistik, dan pengelolaan sistem dinamis, di mana mesin terus memperbaiki keputusan dari waktu ke waktu.
AI, Etika, dan Arah Peradaban
Lebih dari sekadar paparan teknis, Prof. Sam menekankan bahwa AI adalah alat peradaban. Nilainya tidak ditentukan oleh kecanggihannya, tetapi oleh arah penggunaannya. “AI bisa memperkuat kemanusiaan, tetapi juga bisa memperlebar ketimpangan jika tidak dikendalikan dengan etika,” ujarnya.
Karena itu, kolaborasi antara universitas dan industri menjadi kunci. Akademia menjaga kedalaman ilmu dan nilai-nilai etis, sementara industri memastikan bahwa inovasi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Sinergi INTI–UMSU
Kegiatan ini menjadi simbol penting kerja sama antara INTI International University (Malaysia) dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dalam memperkuat jejaring akademik internasional. Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada forum ilmiah, tetapi berlanjut dalam riset bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta pengembangan inovasi berbasis kebutuhan nyata.
Kuliah umum ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta tentang AI, tetapi juga menegaskan satu pesan utama: masa depan ekonomi global tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan oleh cara manusia memaknai dan mengarahkannya. (*)
✒️ Jufri







