Oleh: Jufri
Pegiat Sosial Politik dan Dakwah Kebangsaan
Muhammadiyah memandang Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, negeri perjanjian dan kesaksian. Indonesia disebut Darul Ahdi karena lahir dari kesepakatan luhur para pendiri bangsa, termasuk para ulama dan tokoh umat Islam. Pancasila, UUD 1945, dan NKRI bukanlah kebetulan sejarah, melainkan hasil ijtihad kebangsaan yang disepakati bersama. Maka memusuhi negara berarti mengingkari perjanjian itu sendiri.
Namun Indonesia juga adalah Darul Syahadah—negeri tempat umat Islam bersaksi dengan amal. Di sinilah warga Muhammadiyah tidak cukup hanya setia secara simbolik, tetapi harus menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa: keadilan, kejujuran, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada yang lemah. Kesetiaan pada negara bukanlah kepatuhan membuta kepada penguasa, melainkan kesetiaan bermoral kepada tatanan bersama agar hidup berbangsa tetap bermartabat.
Karena itu, kecintaan dan loyalitas kepada negara bukan sekadar sikap politik, tetapi juga wujud keimanan. Negara adalah ruang sejarah tempat manusia menjalankan amanah kekhalifahan di bumi, titipan Allah yang harus dijaga keberlangsungannya. Merawat negeri berarti merawat peradaban. Menghormati kesepakatan kebangsaan berarti menghormati takdir sosial yang Allah izinkan hadir dalam lintasan waktu.
Dalam perspektif ini, haram hukumnya memusuhi negara dan pemerintah yang sah. Negara adalah rumah bersama. Merusaknya berarti merusak tempat tinggal kita sendiri. Tetapi pada saat yang sama, Muhammadiyah menegaskan bahwa mengkritisi pemerintah dan kebijakannya justru merupakan bagian dari kebaikan dan kesalehan warga negara.
Kritik yang dialamatkan kepada kebijakan negara sejatinya adalah wujud rasa cinta kepada negeri ini, bukan kebencian, apalagi perlawanan terhadap negara. Kritik lahir dari kepedulian, dari kegelisahan moral agar arah perjalanan bangsa tidak melenceng dari cita-cita keadilan dan kemaslahatan. Diam terhadap kekeliruan justru lebih berbahaya daripada suara yang mengoreksi dengan adab dan tanggung jawab.
Namun Muhammadiyah tidak berhenti pada kritik. Dalam kerangka Darul Ahdi wa Syahadah, Persyarikatan ini juga mendorong kader-kadernya, dan seluruh komponen masyarakat, untuk berkontribusi langsung dalam pemerintahan dan ruang-ruang strategis negara. Bukan untuk mengejar kekuasaan, tetapi untuk memastikan bahwa nilai-nilai kejujuran, profesionalitas, dan keberpihakan kepada rakyat benar-benar hadir dalam praktik kekuasaan.
Muhammadiyah memilih jalan amar ma’ruf nahi munkar dalam bernegara: mendukung kebijakan yang baik, mengoreksi yang keliru, dan mengingatkan kekuasaan agar tidak menyimpang dari amanat rakyat.
Bukan sebagai oposisi yang membenci, bukan pula sebagai stempel kekuasaan yang membisu. Melainkan sebagai kekuatan moral yang berdiri cukup dekat untuk mengingatkan, dan cukup berjarak untuk tetap merdeka.
Dalam bahasa sederhana: Negara harus dijaga. Pemerintah harus diawasi. Kekuasaan harus diingatkan.
Itulah ruh Darul Ahdi wa Syahadah. Inilah wajah Muhammadiyah Cinta Indonesia, setia pada perjanjian, jujur dalam kesaksian, dan nyata dalam kontribusi. Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni. (*)







