Oleh: M. Risfan Sihaloho
Pemred TAJDID.ID
Ada sesuatu yang berbeda ketika orang berbicara tentang Muhammadiyah. Bukan hanya soal organisasi besar yang punya sekolah, rumah sakit, dan ribuan amal usaha. Bukan pula sekadar jaringan struktural-organisatoris yang rapi dan disiplin. Ada satu atmosfer yang sering membuat orang luar mengangguk kagum, yakni “kehangatan intelektual”, “ketulusan sosial”, dan “energi kemajuan’. Dan semua itu kini sepertinya layak dirangkum dalam satu ruang identitas: yakni “Muhammadiyah Vibes”
Citra Otentik
Muhammadiyah Vibes lahir bukan dari pencitraan, melainkan akumulasi dari rekam jejak panjang. Di tengah riuhnya kompetisi moral, politik, dan sosial, Muhammadiyah tetap berdiri tegak sebagai ormas Islam yang tidak ribut dengan klaim, tetapi bekerja dengan aksi.
Kata orang: “Yang paling keras suaranya sering justru minim kontribusi, tapi Muhammadiyah sebaliknya— gayanya senyap, namun berdampak.” Itulah reputasi yang membuat Muhammadiyah Vibes menjadi semacam brand kepercayaan publik.
Ketika ada bencana, masyarakat menoleh ke Muhammadiyah. Ketika ada krisis pendidikan dan kesehatan, negara pun berharap Muhammadiyah hadir mengisi celah. Dan seperti biasa Muhammadiyah datang. Bukan untuk pamer, tetapi untuk mengabdi.
DNA Muhammadiyah Vibes: Islam Mencerahkan dan Berkemajuan
Muhammadiyah Vibes bukan sekadar nama. Ia adalah jiwa kolektif warganya—mereka yang percaya bahwa agama bukan hanya untuk mengurusi sajadah, tetapi juga peradaban.
Konsep Islam Mencerahkan hadir dalam setiap gerak: membawa cahaya pada ummat manusia tanpa memandang suku, ras, dan agama.
Sementara Islam Berkemajuan adalah langkah: mengadopsi ilmu pengetahuan, teknologi, dan modernitas sebagai sahabat dakwah yang menggembirakan.
Ringkasnya, di tangan dingin Muhammadiyah, Islam bukan nostalgia masa lalu, tetapi strategi menjemput masa depan.
Dewasa dalam Politik, Tegas dalam Keadilan
Di saat banyak ormas tergelincir ketika bersentuhan dengan politik, Muhammadiyah justru istiqomah mengajarkan untuk “sadar peran”, bukan “lapar kekuasaan”. Muhammadiyah kreatif dalam berkiprah, tanpa gegabah dan serakah.
Muhammadiyah masuk ke ruang politik sebagai penyeimbang moral, bukan pemburu jabatan. Pengaruhnya justru kuat karena Muhammadiyah tidak memaksa; ia dihormati karena integritasnya, bukan karena ancamannya.
Dan dalam isu keadilan sosial, Muhammadiyah Vibes tidak hanya berbicara tentang ekonomi umat sebagai slogan. Lewat aneka Amal Usaha dan jaringan filantropi sosial yang dimilikinya, Muhammadiyah menghidupkan makna “agama sebagai pemberdayaan”. Siapa yang ingin melihat Islam bekerja konkret, tinggal datang ke Amal Usaha Muhammadiyah.
Atmosfer Kehangatan yang Membuat Siapa Pun Nyaman
Masuk ke dalam Muhammadiyah Vibes seperti memasuki rumah besar yang penuh energi positif. Diskusi intelektual terasa santai. Panggilan persaudaraan terasa hangat. Perbedaan pandangan dirawat dengan moderasi, bukan dengan makian. Di sana orang bisa menjadi alim tanpa harus menghakimi, menjadi modern tanpa merasa berdosa.
Tidak heran banyak orang berkata: “Gabung Muhammadiyah itu bikin tenang. Kita diajak maju tanpa kehilangan iman.”
Itulah alasan mengapa warganya bangga menyebut diri bagian dari Muhammadiyah Vibes. Dan mengapa orang luar respek tanpa harus disuruh.
Penutup
Muhammadiyah Vibes adalah ruang tempat iman bertemu peradaban, cerdas bertemu santun, profesional bertemu keikhlasan.
Di dalamnya, orang belajar menjadi Muslim yang tidak gagap modernitas, tidak alergi ilmu pengetahuan, dan tidak minder berhadapan dengan dunia global.
Muhammadiyah Vibes membuktikan satu hal: Islam bukan sekadar keyakinan, melaikan ia adalah karya.
Dan selama gerakan ini istiqomah menjaga ruh Mencerahkan dan Berkemajuan, Muhammadiyah Vibes akan selalu menjadi tempat yang membuat umat bangga, masyarakat percaya, dan negara merasa tenang. Insha Allah (*)








