TAJDID.ID~Bandung || Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Saepul Adnan MSi mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali relasi manusia dengan alam dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa rangkaian bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah, termasuk Aceh dan Sumatra, merupakan peringatan nyata atas kelalaian manusia dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan.
”Islam memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi melalui perilaku sosial dan ekologis. Kita juga harus paham bahwa pola konsumsi berlebihan dan eksploitasi sumber daya tanpa kendali menjadi salah satu penyebab utama degradasi lingkungan yang kini semakin terasa dampaknya,” ujar Saepul dalam program Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada 13 Januari 2026 lalu.
Pengalaman lapangan saat pengabdian masyarakat di wilayah Pacet dan Kertasari, Kabupaten Bandung, menjadi refleksi konkret yang disampaikannya. Di daerah tersebut, ia menemukan penumpukan limbah sekam kopi yang dibiarkan tanpa pengelolaan, bahkan mengancam daerah aliran Sungai Citarum. Dari satu titik pengolahan kopi saja, produksi harian dapat mencapai sekitar 11 ton biji kopi olahan yang menghasilkan kurang lebih 5,5 ton limbah sekam setiap hari.
Menjaga alam
Saepul menilai persoalan lingkungan kerap dianggap sebagai masalah jauh, padahal kenyataannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Jika tidak ditangani dengan serius, tumpukan limbah ini berpotensi memicu bencana lingkungan serupa yang pernah terjadi di daerah lain. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya langkah-langkah bertahap dan konsisten dalam menjaga alam sebagai bentuk tanggung jawab spiritual dan sosial.
Sebagai akademisi, Saepul merasa memiliki kewajiban moral untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Bersama tim dari UM Bandung, ia mengembangkan riset dan program pengabdian masyarakat untuk mengolah limbah kulit kopi atau kaskara menjadi produk bernilai ekonomi. Ia mengaitkan upaya ini dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan di darat dan laut akibat ulah manusia, yang menjadi peringatan agar manusia kembali pada perilaku yang bertanggung jawab.
Kaskara, yang selama ini dianggap limbah, ternyata menyumbang sekitar 43–50 persen dari berat buah kopi dan kaya akan senyawa bioaktif seperti antioksidan dan flavonoid. Saepul menjelaskan bahwa kaskara memiliki sejarah panjang sebagai minuman tradisional di Yaman dan Ethiopia, serta kini kembali populer di kafe-kafe premium dunia sebagai minuman alternatif rendah kafein dan ramah lambung.
Indonesia sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia memiliki potensi kaskara yang sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, kulit kopi umumnya hanya dijadikan kompos atau pakan ternak, padahal nilai ekonominya dapat meningkat signifikan jika diolah menjadi teh, sirup, bahan kosmetik, suplemen, hingga produk pangan. “Ini contoh nyata dari konsep ‘dari sampah menjadi emas’,” ujarnya.
Melalui pendanaan penelitian dan pengabdian dari Risetmu dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah yang diketuai oleh Ulfa Yuniati, tim UM Bandung melatih warga di PCM Kertasari untuk mengolah kaskara secara sederhana tetapi higienis, mulai dari pencucian, pengeringan di bawah 40 derajat Celsius, hingga pengemasan. Produk-produk tersebut kemudian dipasarkan melalui UMKM dan platform digital, seperti marketplace, dengan penekanan pada peningkatan kesadaran lingkungan sebelum mengejar keuntungan ekonomi.
Saepul juga menyinggung aspek kesehatan terkait konsumsi kopi, khususnya bagi penderita gangguan lambung. Ia menjelaskan bahwa kaskara memiliki kandungan kafein jauh lebih rendah dibandingkan dengan biji kopi robusta maupun arabika sehingga lebih aman dikonsumsi oleh individu yang sensitif terhadap asam lambung. Selain kulit, daun kopi pun dapat dimanfaatkan sebagai teh herbal kaya antioksidan.
Dia menegaskan bahwa pengelolaan limbah kopi secara bertanggung jawab merupakan wujud ihsan dan sejalan dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ia berharap upaya kecil yang dilakukan secara kolektif oleh akademisi, masyarakat, serta jaringan Muhammadiyah dan Aisyiyah dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi umat. (FA)







