TAJDID.ID~Jakarta || Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Prof. Dr. Agussani, bersama Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMSU, Dr. Radiman, menjadi salah satu undangan dalam taklimat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang diikuti sekitar 1.200 peserta yang terdiri atas rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan dekan, perwakilan guru besar dari seluruh Indonesia, serta jajaran menteri dan wakil menteri.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (15/1) di Istana Kepresidenan Jakarta tersebut menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat peran strategis pendidikan tinggi sebagai pilar utama pembangunan bangsa.
Dalam taklimat tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa kalangan akademisi merupakan kekuatan intelektual bangsa yang memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan pembangunan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Presiden mendorong agar perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pengajaran, tetapi juga sebagai lokomotif penguasaan sains dan teknologi yang mampu memperkuat kemandirian bangsa di tengah dinamika dan ketidakpastian geopolitik global.
Presiden juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara menyeluruh, meliputi penguatan sumber daya dosen, pembenahan sarana dan prasarana, serta keberlanjutan pembiayaan operasional, tanpa membebani masyarakat dan mahasiswa.
Dalam konteks riset, Presiden meminta agar arah penelitian di perguruan tinggi semakin terfokus pada agenda strategis nasional, khususnya percepatan swasembada pangan, swasembada energi, serta dukungan terhadap industrialisasi dan hilirisasi yang membutuhkan sumber daya manusia unggul berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, pemerintah meningkatkan anggaran riset dan inovasi secara signifikan. Total dana riset nasional ditingkatkan hingga Rp12 triliun, termasuk kenaikan anggaran riset Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebesar 218 persen.
Selain itu, pemerintah menetapkan kebijakan baru berupa pemberian insentif finansial langsung kepada dosen peneliti penerima hibah riset, sebagai bentuk penguatan ekosistem riset dan penghargaan terhadap produktivitas akademik.
Taklimat ini juga menegaskan bahwa seluruh rumpun keilmuan, termasuk sosial humaniora, memiliki peran penting dalam mendukung agenda pembangunan nasional.
Menanggapi hal tersebut, Rektor UMSU Prof. Dr. Agussani menyampaikan apresiasi dan pandangan positif atas komitmen Presiden terhadap dunia pendidikan tinggi.
Menurutnya, taklimat ini merupakan momentum strategis yang menunjukkan keberpihakan negara terhadap penguatan perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan solusi kebangsaan. “Arahan Presiden Prabowo menegaskan bahwa perguruan tinggi ditempatkan sebagai kekuatan strategis bangsa. Peningkatan anggaran riset, perhatian pada kualitas dosen, serta dorongan agar kampus menjadi lokomotif sains dan teknologi merupakan fondasi penting untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing. UMSU memandang ini sebagai peluang besar untuk semakin memperkuat tridarma perguruan tinggi agar lebih relevan, produktif, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Prof. Agussani.
Ia menambahkan bahwa UMSU siap mendorong sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar selaras dengan agenda nasional, termasuk dalam mendukung kemandirian pangan dan energi, serta pembangunan ekonomi berbasis inovasi.
Sementara itu, Dekan FEB UMSU Dr. Radiman menilai bahwa taklimat Presiden memberikan arah kebijakan yang progresif, namun menuntut kesiapan serius dari perguruan tinggi dalam tataran implementasi.
Menurutnya, peningkatan anggaran riset dan insentif peneliti harus dibarengi dengan reformasi tata kelola riset, penguatan kapasitas dosen, serta perubahan budaya akademik agar riset benar-benar berorientasi pada pemecahan masalah bangsa. “Arahan Presiden sangat kuat secara visi, tetapi tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana perguruan tinggi menerjemahkannya menjadi program konkret. Riset tidak boleh berhenti pada luaran administratif atau publikasi semata, melainkan harus terhubung langsung dengan agenda swasembada pangan, energi, dan industrialisasi. Ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, integrasi dengan dunia industri dan pemerintah, serta penguatan ekosistem inovasi di kampus,” tegas Dr. Radiman.
Lebih lanjut, Dr. Radiman menekankan bahwa rumpun ilmu sosial humaniora, termasuk ekonomi dan bisnis, memiliki peran strategis dalam mengkaji dimensi kelembagaan, kebijakan, tata kelola, dan dampak sosial dari agenda pembangunan nasional.
“FEB UMSU memandang bahwa riset ekonomi dan manajemen harus menjadi jembatan antara inovasi teknologi, kebijakan publik, dan kebutuhan masyarakat. Industrialisasi dan hilirisasi tidak hanya soal efisiensi produksi, tetapi juga menyangkut keberlanjutan, keadilan ekonomi, dan penguatan UMKM. Di sinilah kontribusi sosial humaniora menjadi sangat krusial,” tambahnya.
Melalui kehadiran dalam taklimat tersebut, UMSU menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran sebagai institusi pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdampak, serta siap mengambil bagian aktif dalam mewujudkan agenda pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. (*)








